Sudah Hadir di 30 Negara: Mengapa Perlu Ada PCIM di Luar Negeri?
Oleh: Sonny Zulhuda, Dosen International Islamic University Malaysia
Malam itu, suasana restoran Wasola milik Persyarikatan di jantung Kuala Lumpur terasa berbeda. Bukan sekadar tempat bersantap, Wasola menjelma ruang dialog penuh makna ketika Prof. Din Syamsuddin—Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015—bercengkerama hangat dengan warga Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Sabtu, 10 Januari 2026.
Dalam balutan obrolan yang santai namun sarat gagasan strategis, Prof. Din mengajak hadirin menengok kembali makna, peran, dan masa depan PCIM sebagai simpul penting gerakan global Muhammadiyah.
Sambil memuji AUM restoran milik PCIM Malaysia dan mencicipi menu khas "jawatimuran" di Wasola, Prof. Din menuturkan bahwa PCIM lahir dari kesadaran kaderisasi global Muhammadiyah. Dimulai pada tahun 2003 di Kairo, Mesir, PCIM dirancang sebagai forum pengikat kader Muhammadiyah di luar negeri agar tetap istiqamah berada di jalur dakwah Persyarikatan. “PCIM itu agar keluarga besar Muhammadiyah tidak tercerabut dari orbit kaderisasi,” tegasnya. Di tengah diaspora kader yang menempuh studi, bekerja, dan menetap di berbagai belahan dunia, PCIM menjadi rumah ideologis—tempat nilai, identitas, dan semangat Muhammadiyah terus dirawat.
Lebih dari sekadar forum silaturahmi, PCIM menjalankan fungsi strategis sebagai "proxy" dakwah Muhammadiyah di negeri setempat. Prof. Din melihat Malaysia sebagai ladang tabligh yang terbuka luas, mengingat karakter dakwah di negeri jiran tersebut cenderung normatif dan inklusif. Dalam konteks global, ia mencontohkan kiprah PCIM di berbagai negara yang ikut membangun aliansi dakwah, sebagaimana Persatuan Pelajar Muslim Eropa (PPME) di Belanda. PCIM hadir bukan untuk bersaing, melainkan bersinergi, memperkaya ekosistem dakwah Islam yang moderat dan berkemajuan.
Tak kalah penting, PCIM juga berperan sebagai jembatan diplomasi kultural Muhammadiyah dengan dunia internasional—sekaligus duta Persyarikatan. Prof. Din mengingatkan bagaimana PCIM Mesir pernah memainkan peran kunci dalam menghubungkan Muhammadiyah dengan Universitas Al-Azhar di Kairo, salah satu pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di dunia. Model peran inilah yang menurutnya perlu terus dikembangkan oleh PCIM di Malaysia, seiring membaiknya hubungan Muhammadiyah dengan berbagai institusi di negeri tersebut.
Hubungan Muhammadiyah–Malaysia, lanjut Prof. Din, saat ini berada dalam fase yang sangat positif. Kondisi ini membuka peluang untuk diinstitusikan melalui berbagai nota kesepahaman (MoU), khususnya di bidang pendidikan dan beasiswa. Ia menilai perhatian pemerintah Malaysia terhadap sektor pendidikan relatif lebih baik dan sistematis dibandingkan Indonesia, sebuah peluang strategis yang patut dimanfaatkan. Dalam hal ini, PCIM dan PCIA dipandang mampu menjadi motor penggerak, sekaligus inisiator program-program konkret yang berdampak langsung bagi kader dan umat.
Menariknya, dialog malam itu tidak hanya berbicara soal dakwah dan pendidikan, tetapi juga kemandirian ekonomi. Prof. Din mendorong PCIM untuk berani membuka peluang bisnis melalui jalur korporasi, seperti Suryamu Sdn Bhd. Gagasan pengembangan franchise Restoran Wasola di berbagai lokasi dinilainya sebagai langkah visioner—bukan semata bisnis, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi dakwah Muhammadiyah yang berkelanjutan.
Menutup dialog, Prof. Din menyampaikan ucapan selamat kepada pengurus PCIM dan PCIA yang akan dilantik. Ia mendoakan agar gerakan Muhammadiyah di Malaysia semakin kuat, solid, dan penuh keberkahan. Di tengah hiruk-pikuk Kuala Lumpur, pesan itu menggema sederhana namun mendalam: PCIM bukan sekadar cabang istimewa di luar negeri, melainkan simpul strategis yang menjaga denyut Muhammadiyah tetap hidup di panggung global. Terima kasih Prof Din!

