Lawan Arus Digital, Nasyiatul Aisiyiyah Ajak Anak Kembali ke Akar Aksara

Publish

11 November 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
376
Foto Istimewa

Foto Istimewa

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Di sudut Car Free Day (CFD) Bukit Kencana Jaya, Meteseh, udara pagi beraroma krayon dan bubuk pensil warna. Puluhan lembar kertas putih berubah jadi kanvas cerita. Anak-anak duduk bersila di atas terpal biru. Fokus mereka bukan pada pedagang di seberang jalan, melainkan pada garis hitam yang harus diisi.

Sebuah tangan mungil, dengan krayon biru indigo yang kokoh, tekun mewarnai figur yang diberi. Di tengah riuh hari Ahad, ini adalah ritual sunting gambar yang menanamkan fondasi berbagi melalui aktivitas motorik sederhana.

Generasi Alpha tumbuh dengan konten digital instan. Menghadapi arus cepat itu, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Semarang menawarkan perlawanan elegan: mengembalikan kecintaan pada bahasa ibu dan nilai luhur melalui seni.

Prasasti Nugrahaing Gusti, S.H., Ketua PDNA Kota Semarang, melihat keramaian anak. Baginya, ini strategi ganda.

"Tujuan utama kami, anak-anak semakin mencintai dan melestarikan bahasa dan sastra Indonesia. Formatnya harus menyenangkan. Kami ajak mereka kembali ke akar aksara di tengah gempuran digital," tegasnya, Ahad (9/11/25).

Keceriaan pagi ini ditopang EMINA (Educare Milik Nasyiatul Aisyiyah). EMINA bukan sekadar lembaga PAUD; ia adalah jaring pengaman bagi ibu-ibu muda kader Nasyiah. Ia memungkinkan mereka aktif berorganisasi tanpa mengabaikan pengasuhan.

Seorang ibu muda yang mendampingi putranya ke acara mengakui, "Saya khawatir dengan screen time anak. Acara ini memberi ruang bernapas, sekaligus tahu bahwa anak saya belajar nilai positif di luar rumah."

Program literasi PDNA ini menjangkau lintas usia. Kategori SMP dan SMA diangkat melalui lomba bercerita, menghidupkan kembali dongeng atau cerita rakyat khas Kota Semarang.

Sementara untuk usia dini, lomba mewarnai dipilih dengan tema spesifik dan kuat: Sedekah.

"Kami memilih tema sedekah untuk menanamkan arti berbagi sejak dini. Aktivitas ini melatih psikomotorik, mengenalkan warna, dan memantik imajinasi positif mereka tentang kebaikan," papar Prasasti.

Di tengah mewarnai, Fajar (7), mengangkat tangannya penuh bangga. "Ini kotak sedekah. Nanti aku mau kasih makanan ke kucing," ujarnya polos.

Sebuah transfer nilai terjadi melalui kehangatan sentuhan dan fokus sederhana: pembelajaran karakter yang melampaui kurikulum.

Matahari makin meninggi. Kertas-kertas gambar itu kini penuh warna, penuh janji. Setiap goresan krayon merekam kejujuran imajinasi anak.

Di tengah arus informasi yang serba cepat, PDNA membuktikan bahwa menanamkan kebaikan dan kecintaan pada bahasa ibu cukup dengan krayon, terpal, dan waktu yang diluangkan. Ini adalah perayaan literasi yang bermula dari tindakan sederhana di kaki bukit Semarang. (Adib Abyan)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan pada hari Ahad (17/03) menyele....

Suara Muhammadiyah

18 March 2024

Berita

BLORA, Suara Muhammadiyah - Tim Direktorat Belmawa melakukan kunjungan ke Sekolah Tinggi Keguruan da....

Suara Muhammadiyah

22 June 2024

Berita

TULANG BAWANG, Suara Muhammadiyah — Universitas Megoe Pak Menggala yang sempat berhenti berope....

Suara Muhammadiyah

24 December 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Un....

Suara Muhammadiyah

8 January 2025

Berita

SINGARAJA, Suara Muhammadiyah - Tuntutan publikasi sekolah di era digital saat ini tidak mudah.....

Suara Muhammadiyah

21 August 2024