Siti Walidah: Sosok Pemantik Keyakinan Berdirinya Muhammadiyah
Oleh: Gandi Teguh Ardiansyah, Kader IMM SHOBRON, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta
“Jika Panjenengan yakin usulan itu baik dan akan membawa kebaikan untuk pendidikan anak-anak di Kauman, mengapa Panjenengan masih ragu melakukannya?”— Siti Walidah
Dalam berbagai narasi sejarah kelahiran Muhammadiyah, kita sering disuguhi nama besar Kiai Haji Ahmad Dahlan sebagai episentrum gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Dahlan adalah penggerak tajdid, sang pelopor pendidikan modern, dan pionir gerakan sosial berbasis nilai-nilai al-Qur’an. Namun dalam orbit perjuangannya itu, ada satu sosok yang punya porsi impresi yang cukup besar: Siti Walidah, perempuan yang bukan hanya mendampingi, tetapi juga memantik keyakinan Kiai Dahlan pada saat-saat menentukan kelahiran Muhammadiyah.
Dalam buku Kiai Penggerak karya Haidar Musyafa, hubungan intelektual dan spiritual antara Ahmad Dahlan dan Siti Walidah bukan digambarkan sebagai relasi pasif, tetapi sebagai dialektika dua pemikiran yang saling menguatkan. Siti Walidah bukan sekadar istri; ia adalah mitra ideologis yang memahami betul pergulatan pemikiran suaminya. Ketika Dahlan resah melihat stagnasi pendidikan di Kauman, Walidah justru menjadi cermin yang memantulkan kembali keberanian yang dibutuhkan untuk bertindak.
Kutipan yang menjadi pembuka tulisan ini mencerminkan peran krusial itu. Celotehan Siti Walidah menegur dengan halus tetapi tegas. Ia mengajukan pertanyaan yang bersifat eksistensial: Jika engkau meyakini kebenaran sebuah langkah, mengapa engkau tidak bergerak? Pertanyaan ini tidak hanya bersifat moral, tetapi juga epistemik—sebuah dorongan agar gagasan tidak berhenti dalam ruang batin, melainkan menjelma menjadi aksi transformasi sosial.
Haidar Musyafa menuliskan bagaimana percakapan-percakapan di antara keduanya sering kali menjadi pemantik lahirnya keputusan-keputusan besar. Pada masa ketika gagasan pendidikan modern bagi anak-anak di Kauman dianggap menyimpang dari tradisi, Dahlan menghadapi tekanan sosial yang cukup kuat. Ia memahami risiko sosial, bahkan potensi resistensi dari kalangan konservatif. Namun di tengah keraguan itu, Siti Walidah hadir sebagai jangkar keyakinan. Ia melihat bahwa pembaruan pendidikan bukan sekadar inovasi, melainkan kebutuhan moral untuk melahirkan generasi Muslim yang cerdas dan berkarakter.
Di sinilah kita mendapati kesadaran penting: kelahiran Muhammadiyah bukan hanya buah pemikiran individual, tetapi hasil dari ekosistem intelektual keluarga yang dialogis dan progresif. Dalam ruang privat rumah tangga, terjadi pergulatan ide dan pertukaran gagasan yang membentuk fondasi gerakan publik. Siti Walidah, dengan kapasitas pemikirannya, menjadi bagian dari proses tersebut. Ia bukan sekadar “pendukung”, tetapi penggerak dari balik layar yang mendorong keberanian Dahlan untuk menembus batas sosial.
Keterlibatan Siti Walidah juga terlihat pada bagaimana ia kemudian memimpin ‘Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah. Langkah tersebut bukan keputusan yang muncul tiba-tiba, melainkan kelanjutan logis dari peran yang sudah ia mainkan sejak awal. Jika Ahmad Dahlan membangun struktur gerakan pembaruan, Siti Walidah mengisi dimensi sosial dan kulturalnya dengan visi pemberdayaan perempuan. Haidar Musyafa menyebutnya sebagai “penggenap gerakan”, menegaskan bahwa dinamika Muhammadiyah berdiri di atas dua pilar yang saling mengukuhkan.
Dalam konteks ini, percakapan singkat antara Dahlan dan Walidah tidak lagi sekadar kutipan inspiratif, tetapi menjadi momen kunci dalam sejarah pergerakan Islam modern di Indonesia. Sebuah momen dimana keyakinan didorong untuk menjadi tindakan, dan gagasan diarahkan untuk bertransformasi menjadi institusi. Pertanyaan sederhana dari Siti Walidah membuka ruang gerak baru yang memungkinkan Muhammadiyah berdiri sebagai organisasi modern pada tahun 1912.
Kita sering membaca sejarah sebagai kumpulan fakta besar, tanggal-tanggal penting, atau aksi-aksi monumental. Namun sejarah juga dibentuk oleh percakapan-percakapan kecil yang terjadi di ruang keluarga, oleh keberanian seseorang untuk bertanya pada pasangannya, oleh dorongan moral yang tampak sederhana tetapi berdampak luar biasa. Di tengah hiruk-pikuk ide pembaruan, suara Siti Walidah menjadi penentu arah keyakinan Dahlan. Dari sinilah dapat kita simpulkan bahwa Muhammadiyah, sejak awal, adalah hasil dari kerja intelektual kolektif—laki-laki dan perempuan, ruang publik dan ruang domestik, rasionalitas dan kehangatan spiritual.
Maka benar adanya bahwa di balik besar nama Ahmad Dahlan sebagai penggerak pembaruan Islam, berdiri sosok perempuan dengan kecerdasan, ketajaman, dan keberanian moral yang luar biasa. Siti Walidah tidak hanya memberi dukungan emosional, tetapi menjadi pemantik keyakinan yang membuat langkah Dahlan semakin mantap. Tanpa percakapan itu, tanpa dorongan itu, mungkin sejarah akan berjalan dengan cara yang berbeda.
Dengan demikian, kisah ini mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari panggung megah, tetapi sering kali dimulai dari dialog jujur di antara dua manusia yang saling percaya. Dan dari ruang dialog itu, Muhammadiyah menemukan keberaniannya untuk lahir dan bertumbuh.

