Sekolah di Ujung Jari, Akal di Persimpangan

Publish

7 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
149
Ilustrasi

Ilustrasi

Sekolah di Ujung Jari, Akal di Persimpangan

Oleh: Amrizal

Pagi itu, seorang siswa SMP di pinggiran kota tampak tekun menatap layar gawainya. Bukan sedang bermain gim, melainkan mengerjakan tugas sekolah melalui aplikasi pembelajaran daring. Ironisnya, di rumah yang sama, sang ibu mengeluh karena anaknya makin sulit diajak berbincang. Di kelas digital, ia aktif; di ruang keluarga, ia menjauh. Fenomena kecil ini merepresentasikan paradoks besar pendidikan kita hari ini: teknologi menghadirkan kemudahan belajar, tetapi sekaligus menguji kedalaman relasi manusiawi dalam pendidikan.

Inilah wajah pendidikan di era digital—cepat, efisien, tetapi juga rawan kehilangan makna. Di satu sisi, transformasi digital membuka akses pengetahuan tanpa batas. Di sisi lain, ia menantang kita untuk memastikan bahwa pendidikan tidak sekadar memindahkan materi ke layar, melainkan tetap memanusiakan manusia. Pertanyaannya, ke mana arah pendidikan berkemajuan kita di tengah arus digitalisasi yang kian deras?

Ketika Teknologi Melaju, Pendidikan Tertatih

Digitalisasi pendidikan di Indonesia berlangsung relatif cepat, terutama sejak pandemi. Platform pembelajaran daring, kelas hibrida, dan pemanfaatan kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang-ruang kelas. Data menunjukkan peningkatan signifikan penggunaan teknologi pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi. Namun, kecepatan adopsi ini tidak selalu diiringi kesiapan pedagogis.

Masalah utamanya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita memaknainya. Banyak praktik pembelajaran digital masih berorientasi pada transfer materi, bukan pada pengembangan nalar kritis, karakter, dan empati. Guru dibebani administrasi digital, siswa dijejali tugas daring, sementara esensi dialog edukatif justru menyempit. Pendidikan berisiko direduksi menjadi sekadar urusan klik, unggah, dan nilai.

Di sinilah letak kegelisahan kita bersama: apakah pendidikan digital benar-benar memajukan, atau justru menjauhkan kita dari tujuan hakiki pendidikan?

Pendidikan Berkemajuan: Lebih dari Sekadar Modern

Dalam tradisi pemikiran pendidikan progresif, pendidikan berkemajuan bukanlah pendidikan yang sekadar mengikuti zaman, tetapi yang mampu memberi arah bagi zaman. Ia menempatkan peserta didik sebagai subjek yang berpikir, merasa, dan bertindak secara bertanggung jawab. Teknologi hanyalah alat; nilai kemanusiaan tetap menjadi tujuan.

Ilmu pendidikan mengingatkan bahwa belajar adalah proses sosial dan kultural. Anak tidak hanya belajar dari konten, tetapi dari relasi—dengan guru, teman, dan lingkungan. Ketika teknologi memediasi hampir seluruh proses belajar, relasi ini harus sengaja dirawat. Tanpa itu, pendidikan mudah terjebak pada apa yang disebut para pakar sebagai dehumanisasi pembelajaran: canggih secara teknis, miskin secara etik.

Dalam konteks ini, literasi digital menjadi kunci. Bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai, tetapi kecakapan berpikir kritis, memilah informasi, dan bertindak etis di ruang digital. Pendidikan berkemajuan menuntut sekolah dan kampus untuk mengajarkan “mengapa” dan “bagaimana”, bukan hanya “apa” dan “bagaimana caranya”.

Dampak Sosial dan Kemanusiaan

Jika dikelola tanpa visi, pendidikan digital berpotensi memperlebar kesenjangan. Mereka yang memiliki akses dan pendampingan akan melesat, sementara yang tertinggal infrastruktur dan literasi akan makin terpinggirkan. Lebih jauh, kita menyaksikan gejala kelelahan mental, penurunan empati, dan krisis perhatian pada generasi muda—semua berkaitan dengan pola belajar yang terlalu mekanistik.

Padahal, pendidikan sejatinya adalah ruang pembentukan kepekaan sosial. Dalam perspektif kemanusiaan dan keislaman moderat, ilmu tidak pernah netral nilai. Ia harus berpihak pada kemaslahatan, keadilan, dan martabat manusia. Teknologi yang tidak dibingkai etika justru dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai tersebut.

Menata Arah: Dari Digitalisasi ke Humanisasi

Lalu, apa yang perlu dilakukan? Pertama, pendidik perlu diposisikan bukan sebagai operator teknologi, melainkan sebagai perancang pengalaman belajar. Guru dan dosen harus diberi ruang dan kepercayaan untuk berinovasi, bukan sekadar mengikuti template digital yang seragam.

Kedua, kurikulum perlu memberi tempat lebih besar pada dialog, refleksi, dan proyek kolaboratif yang bermakna. Teknologi bisa memperkaya proses ini, bukan menggantikannya. Ketiga, kebijakan pendidikan harus sensitif pada konteks sosial. Transformasi digital tidak boleh mengorbankan kelompok rentan.

Akhirnya, pendidikan berkemajuan menuntut keberanian moral: berani mengatakan bahwa tidak semua yang digital otomatis mendidik, dan tidak semua yang tradisional harus ditinggalkan. Yang kita butuhkan adalah sintesis—memadukan kecanggihan teknologi dengan kebijaksanaan pedagogi.

Merawat Akal, Menjaga Nurani

Di era ketika sekolah ada di ujung jari, akal dan nurani kita justru berada di persimpangan. Pendidikan berkemajuan adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa di tengah layar yang menyala, nurani tetap terjaga; bahwa di balik algoritma, ada nilai; dan di balik kecanggihan, ada kemanusiaan.

Teknologi akan terus berubah. Tetapi tugas pendidikan tetap sama sejak dahulu: membantu manusia memahami diri, sesama, dan semesta secara bermakna. Di sanalah pendidikan digital menemukan ruhnya—bukan sekadar mencerdaskan, tetapi memanusiakan. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis adalah Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut, Mahasiswa S3 Pasca Sarjana UNY, dan Dosen Universitas Negeri Medan


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Empirisme dalam Perspektif Islam Oleh: Kumara Adji Kusuma, Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ....

Suara Muhammadiyah

18 October 2025

Wawasan

Mendorong Praktik Baik Merdeka Belajar Oleh: Rizki P. Dewantoro Program Merdeka Belajar merupakan ....

Suara Muhammadiyah

17 March 2024

Wawasan

Pendidikan Sepanjang Hayat Dimulai dari Sebuah IqraOleh Noval Sahnitri, Mahasiswa Magister Pendidika....

Suara Muhammadiyah

20 October 2025

Wawasan

Sumpah Jabatan: Makna Konstitusional dan Spiritual Oleh: Immawan Wahyudi, Dosen Fakultas Hukum UAD ....

Suara Muhammadiyah

9 December 2024

Wawasan

Ilmu Kemurahan Hati Oleh: Hendar Riyadi, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bandung ADA jiwa ....

Suara Muhammadiyah

26 November 2025