Renungan Ramadhan tentang Kecanggihan Telinga
Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang
Tidak ada yang sia-sia apa pun yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekecil apa pun ciptaan-Nya pasti dipelihara dan diatur-Nya.
Bagi orang yang tidak percaya bahwa dunia seisinya diciptakan, dipelihara, dan diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun dia profesor, mempelajari dunia seisinya adalah aktivitas sains. Oleh karena itu, pengkajian berbagai fenomena alam tidak perlu dikaitkan dengan ajaran agama agar hasilnya objektif
Kecanggihan Desain Telinga
Adakah di antara kita yang pernah secara serius berdiri di depan cermin besar pada jarak dekat lalu mencermati dengan melihat dan meraba kedua daun telinga? Mungkin dapat juga kita mengamati telinga anak dan/atau cucu. Kemudian, kita memperkirakan, atau bahkan, mengukur panjang dan lebarnya? Lalu, kita merenung siapakah yang meletakannya pada posisi satu di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri kepala, tidak di wajah seperti kedua mata kita?
Tidak tertinggal pula, kita mencermati dengan melihat dan meraba bentuk daun telinga kita? Kita amati ukuran telinga pada balita dan telinga kita. Samakah ukurannya? Tidak! Lalu, siapa yang menciptakan, memelihara, dan mengaturnya?
Kita merenung juga mengapa telinga berdaun? Mengapa daun telinga kita tak bertulang keras seperti kaki atau tangan?
Mengapa telinga menjadi merah ketika kita marah? Secara medis hal itu dijelaskan penyebabnya, yakni terjadi peningkatan aliran darah ke telinga. Namun, dari sudut pandang agama, jawaban itu menimbulkan pertanyaan selanjutnya: siapa yang menciptakan, memelihara, dan mengatur peranti yang mengalirkan darah itu?
Kita dapat menambah lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang makin menyadarkan bahwa telinga kita sangat canggih misalnya tentang gendang telinga. Pasti ada yang menciptakan, memelihara, dan mengaturnya. Yang melakukannya pasti bukan manusia. Tidak ada seorang pun pakar yang berilmu setinggi langit sekalipun mampu melakukannya!
Pasti Berhikmah
Sudah menjadi pemahaman umum bahwa telinga hanya mampu mendengar suara atau bunyi pada radius tertentu. Adakah di antara kita yang pernah merenung: apa yang terjadi jika telinga mampu mendengar suara atau bunyi yang ada di tempat yang jauh? Misalnya, ketika shalat di masjid, kita mendengar suara tangis bayi atau percakapan di rumah atau di tempat lain, yang jaraknya 500 meter: khusyukkah shalat kita? Dapatkah kita mengaji atau bekerja dengan tenang jika dapat mendengar suara apa saja dan dari mana saja? Tidak!
Apa yang terjadi jika telinga kita dapat mendengar ledakan rudal di Tel Aviv? Jika sedang shalat, tidak mungkin khusyuk. Jika sedang mengaji, bekerja, atau tidur, kita pasti sangat terganggu. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menghendaki hal itu terjadi.
Umumnya, makin tua usia, daya dengar berkurang. Pernahkah kita memikirkannya: adakah pelajaran di balik itu? Segala ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala berbatas, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tak berbatas.
Hanya orang tertentu yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mempunyai daya dengar yang tetap baik meskipun pada usia lanjut. Hal itu pasti mengandung pelajaran.
Fungsi Telinga
Fungsi telinga dijelaskan dalam Al-Qur’an, di antaranya, dalam surat al-A’raf (7):204
وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Jika dibacakan Al-Qur’an, dengarkanlah (dengan saksama) dan diamlah agar kamu dirahmati.”
Dari ayat itu kita ketahui bahwa fungsi telinga adalah untuk mendengarkan Al-Qur’an ketika dibacakan. Dengan demikian, jika ketika ada pembacaan Al-Qur’an kita “ngobrol” berarti kita tidak menggunakan telinga sesuai dengan perintah, berarti kita melakukan pembangkangan.
Pada saat ini makin banyak mobil yang dilengkapi dengan CD muratal. Pertanyaan yang harus kita jawab secara jujur adalah ketika naik mobil tersebut, apakah kita khusyuk mendengarkan muratal atau lebih asyik ngobrol?
Fungsi telinga dijelaskan juga dalam surat al-Insaan (76):2 dan 3 sebagaimana telah dikutip pada “Renungan Ramadhan Fungsi Mata” yang telah dipublikasi di Suara Muhammadiyah online 10 Maret 2026. Di samping dijelaskan di dalam surat dan ayat tersebut, fungsi telinga dijelaskan juga misalnya di dalam surat al-A’raf (7):179,
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
Dalam Tafsir Al Azhar, Hamka menafsirkan ayat tersebut bahwa jin dan manusia diberi hati (pikiran), mata, dan telinga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, banyak yang tidak menggunakannya. Hati tidak digunakannya untuk mengerti kebenaran Ilahi. Mata tidak digunakannya untuk melihat kebenaran Ilahi. Telinga tidak digunakannya untuk mendengarkan kebenaran Ilahi. Menurut Hamka, manusia setinggi apa pun ilmunya, jika ilmunya itu tidak membuatnya sadar dan takut pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, belumlah ia mendapat ilmu yang sejati.
Fungsi telinga dalam ayat itu dijelaskan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang berisi perintah maupun yang berisi larangan; baik yang tersurat maupun yang tersirat. Ketika isi ayat-ayat tersebut dijelaskan secara lisan, telinga kita gunakan untuk mendengarkannya.
Dengan cara demikian, kita mengetahui mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah, yang terdapat dalam Al-Qur’ran. Berkenaan dengan itu, kita tentu diwajibkan mengamalkan kebenaran dan kebaikan yang kita ketahui dengan mendengarkan dan meninggalkan kebatilan dan keburukan yang kita ketahui dengan mendengarkan sebagai pertanggungjawaban.
Dalam kenyataan sering kita saksikan ketika menghadiri majelis taklim, ada orang yang bukannya mendengarkan dengan khusyuk tausiyah, melainkan “menyaingi” berceramah, bahkan, kadang-kadang diselingi tertawa juga. Akibatnya, meskipun sering mengaji, tidak ada perbaikan yang signifikan, baik dari segi akidah, ibadah, akhlak, maupun muamalah duniawi. Apakah pemanfaatan telinga yang demikian sesuai dengan fungsinya yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Orang-orang yang demikian mempunyai telinga, tetapi tidak menggunakannya untuk mendengarkan.
Filter di Telinga
Pernahkah kita merasa tidak nyaman ketika mendengar gosip, baik di telvisi maupun dalam kehidupan sehari-hari; mendengar lagu yang liriknya menimbulkan imajinasi porno, jorok, atau hal yang tidak baik lainnya? Juga tidak nyaman ketika kita mendengar pembicaraan kasar dan kotor? Tidak nyaman juga ketika kita mendengar pembicaraan mubazir?
Pada sisi lain, ketika ada teman mengajak berbicara yang mubazir, kita menolaknya. Ketika menonton televisi, ada acara ngrumpi, kita mengganti channel. Ketika terdengar dari radio lagu yang berlirik puji-ujian terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, salawat kepada Rasul-Nya, nasihat tentang mati dan alam akhirat, tetapi dikemas dengan irama yang merangsang berjoget, lalu kita mengganti gelombang?
Sementara itu, kita merasa nyaman ketika mendengar azan. Suara azan tidak sekadar kita dengar, tetapi kita dengarkan dengan khusyuk. Bahkan, suara itu tidak kita anggap sebagai panggilan atau seruan manusia, tetapi seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, ketika sedang bekerja, kita segera bergegas berhenti, dengan khusyuk menirukan suara azan sesuai dengan tuntunan, dan menuju masjid atau musala untuk memenuhi seruan itu. Mungkin ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada itu: sebelum azan terdengar, sudah siap di masjid atau musala dalam keadaan suci dengan khusyuk mendengarkan dan menirukan azan.
Mungkin keadaan berikut ini yang terjadi: ketika ayat Al-Qur’an dibacakan, meleleh air mata, bergetar hati, dan makin meningkat iman dan takwa kita tentang kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ya, hati gemetar seperti yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al-Anfal (8):2
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal, ….”
Mungkin pula keadaan berikut ini yang terjadi. Ketika ada tausiyah dan/atau pembicaraan yang bermanfaat lainnya, merasa ada dorongan kuat dari dalam dirinya yang menyebabkan terjadinyap perubahan: semula mendengar menjadi mendengarkan.
Boleh jadi, ketika mendengarkan lagu dan/atau puisi tertentu, ada orang.yang merasa hatinya tersentuh dengan halus tanpa merasa dipaksa atau digurui menjadi sadar bahwa dirinya adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat lemah di hadapan-Nya dan sadar sebagai hamba-Nya yang banyak berbuat dosa. Lalu, timbul kesadaran untuk memperbaiki diri.
Allahu a’lam
