Ramadan, Membahagiakan dan Memudahkan Urusan Sesama sebagai Jalan Takwa

Publish

7 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
157
Ramadan bahagia

Ramadan bahagia

Ramadan, Membahagiakan dan Memudahkan Urusan Sesama sebagai Jalan Takwa

Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah, Wakil Ketua LLH PB ‘Aisyiyah

Ramadan sering dipahami sebagai bulan peningkatan ibadah personal: memperbanyak salat, tilawah, dan dzikir. Namun, dalam perspektif Islam yang rahmatan lil ‘alamin—sebagaimana ditekankan dalam semangat Islam Berkemajuan Muhammadiyah—kesalehan tidak berhenti pada relasi vertikal dengan Allah. Ia harus menjelma menjadi tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi sesama. Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.

Puasa melatih empati. Ketika seseorang merasakan lapar dan haus, ia diingatkan bahwa di luar sana banyak orang yang hidup dalam kekurangan, bukan hanya selama sebulan, tetapi sepanjang tahun. Dari pengalaman ini lahir kesadaran bahwa ibadah tidak cukup jika hanya berpusat pada diri sendiri. Ibadah seharusnya melahirkan kepedulian sosial—salah satunya dengan membahagiakan orang lain.

Membahagiakan orang lain tidak selalu berarti tindakan besar. Ia bisa hadir dalam bentuk sederhana: membantu orang yang kesulitan, memberi kelonggaran kepada pekerja, meringankan beban keluarga, atau sekadar menghadirkan sikap ramah dan tidak menyulitkan. Dalam banyak situasi, kebahagiaan orang lain justru lahir dari kemudahan yang kita berikan. Di sinilah memudahkan urusan sesama menjadi salah satu jalan membahagiakan mereka.

Al-Qur’an menegaskan bahwa Islam hadir untuk menghadirkan kemudahan:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menunjukkan bahwa nilai dasar ajaran Islam adalah memudahkan, bukan mempersulit. Semangat ini semakin kuat dalam sabda Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa memudahkan urusan orang yang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.”

(HR. Muslim)

Hadis ini tidak hanya mendorong sikap sosial yang peduli, tetapi juga menegaskan bahwa memudahkan urusan orang lain adalah amal yang berpahala. Bahkan, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”

(HR. Muslim)

Dengan demikian, membahagiakan orang lain melalui kemudahan yang kita berikan bukan hanya tindakan sosial, tetapi juga investasi spiritual.

Ramadan menghadirkan ruang latihan untuk mempraktikkan nilai ini. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tanpa sadar menjadi bagian dari kesulitan orang lain—melalui tuntutan berlebihan, sikap tidak peduli, atau kebiasaan mempersulit proses. Ramadan mengajak kita mengubah peran tersebut: dari yang membebani menjadi yang meringankan.

Di tempat kerja, misalnya, memudahkan urusan dapat berarti memberikan fleksibilitas kepada rekan yang sedang menjalankan ibadah, atau tidak membebani dengan target yang tidak manusiawi. Dalam keluarga, ia dapat hadir dalam bentuk saling membantu agar ibadah berjalan lancar. Dalam pelayanan publik, memudahkan berarti menghadirkan sistem yang ramah, bukan berbelit.

Membahagiakan orang lain juga erat kaitannya dengan mengurangi beban hidup mereka. Senyuman, perhatian, dan bantuan kecil dapat mengubah hari seseorang. Dalam hadis lain disebutkan bahwa senyum kepada saudara adalah sedekah. Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sosial adalah bagian dari amal yang bernilai di sisi Allah.

Lebih jauh, sikap memudahkan juga mencerminkan karakter takwa. Takwa bukan hanya rajin beribadah, tetapi kesadaran bahwa setiap tindakan berdampak pada orang lain. Seseorang yang bertakwa akan berusaha tidak menjadi sebab kesulitan bagi sesamanya. Ia tidak memperumit hal yang bisa dipermudah, tidak memperlambat yang bisa dipercepat, dan tidak menambah beban bagi mereka yang sudah terbebani.

Dalam konteks masyarakat modern, memudahkan urusan orang lain juga berarti membangun sistem sosial yang berkeadilan. Ramadan menjadi momentum refleksi untuk memperbaiki cara kita berinteraksi—baik dalam keluarga, organisasi, maupun institusi. Spirit puasa yang menahan diri seharusnya mendorong kita menahan ego dan keinginan untuk mendominasi, sehingga ruang bagi kebahagiaan bersama dapat terbuka.

Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa keberagamaan harus melahirkan kemaslahatan. Oleh karena itu, membahagiakan dan memudahkan urusan sesama merupakan wujud nyata dari iman yang hidup. Ia bukan sekadar pilihan moral, tetapi panggilan spiritual.

Ramadan, dengan segala latihan pengendalian dirinya, mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang dapat kita berikan. Memudahkan urusan orang lain adalah salah satu cara menghadirkan kebahagiaan itu—bagi mereka, dan pada akhirnya bagi diri kita sendiri.

Sebab dalam ajaran Islam, kemudahan yang kita berikan kepada manusia akan kembali sebagai kemudahan dari Allah SWT. Dan kebahagiaan yang kita hadirkan di dunia dapat menjadi jalan menuju rahmat-Nya di akhirat.

Nilai membahagiakan dan memudahkan urusan orang lain juga memiliki landasan kuat dalam Surah Al-Ma’un—sebuah surah yang sangat penting dalam tradisi Muhammadiyah. Surah ini mengingatkan bahwa keimanan tidak cukup diukur dari ibadah ritual semata, tetapi dari kepedulian sosial. Allah SWT menegur mereka yang mengabaikan anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Ini menunjukkan bahwa membahagiakan kelompok rentan bukan sekadar anjuran moral, tetapi bagian dari kesalehan yang sejati.

Dalam konteks Ramadan, pesan Al-Ma’un menjadi semakin relevan. Puasa seharusnya menumbuhkan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan perhatian dan kebahagiaan: anak yatim, fakir miskin, dan mereka yang hidup dalam keterbatasan. Membahagiakan mereka dapat dilakukan melalui hal sederhana—memberi makanan berbuka, membantu kebutuhan harian, atau sekadar menghadirkan perhatian dan kasih sayang.

Namun, kepedulian sosial tidak dimulai dari tempat yang jauh. Islam mengajarkan bahwa lingkaran kebaikan dimulai dari yang terdekat. Membahagiakan orang lain seharusnya berawal dari keluarga sendiri: pasangan, anak-anak, orang tua, kerabat, rekan kerja dan organisasi. Ramadan menjadi momentum untuk mempererat hubungan, meringankan beban rumah tangga, serta menciptakan suasana yang penuh ketenangan, kehangatan dan kegembiraan di dalam keluarga.

Keluarga yang bahagia menjadi fondasi bagi kepedulian sosial yang lebih luas. Dari rumah yang penuh empati dan kemudahan, seseorang belajar menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat. Dengan demikian, membahagiakan anak yatim dan orang miskin tidak terpisah dari upaya membahagiakan keluarga sendiri—keduanya merupakan bagian dari praktik takwa yang berakar pada nilai Al-Ma’un.

Dalam semangat Islam Berkemajuan, Ramadan menjadi ruang untuk menghadirkan kebahagiaan yang konkret: memudahkan urusan sesama, menguatkan keluarga, dan menyapa mereka yang membutuhkan perhatian. Membahagiakan orang lain, dimulai dari yang terdekat hingga yang paling rentan, adalah wujud nyata iman yang hidup dan berpahala.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Malaysia: Menyusuri Jejak Orang Kerinci Oleh: Mahli Zainuddin Tago Hulu Langat-Selangor Malaysia, ....

Suara Muhammadiyah

28 June 2024

Humaniora

Cerpen: Suratini Eko Purwati Ada tetangga, penduduk asli kampung menjual rumah keluarga dan ada pen....

Suara Muhammadiyah

8 September 2023

Humaniora

Oleh: Cristoffer Veron Purnomo Dari ufuk timur Indonesia, tepatnya di Merauke, ada salah satu kader....

Suara Muhammadiyah

30 October 2023

Humaniora

Cerpen Ashari REJEKI sering diidentikkan dengan harta. Boleh saja. Silahkan. Sah-sah saja. Namun da....

Suara Muhammadiyah

22 September 2023

Humaniora

Ramadan Hijau Pesantren: Dari Efisiensi Menuju Transisi Energi Bersih Oleh: Hening Parlan, Wakil Ke....

Suara Muhammadiyah

4 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah