Ramadan dan Kegembiraan Seluruh Umat Lintas Iman: Pembelajaran dari Buka Puasa Eco Bhinneka Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
110
Ilustrasi Buka Puasa

Ilustrasi Buka Puasa

Ramadan dan Kegembiraan Seluruh Umat Lintas Iman: Pembelajaran dari Buka Puasa Eco Bhinneka Muhammadiyah

Oleh: Hening Parlan, Direktur EcoBhinneka Muhammadiyah 

Ramadan adalah bulan kegembiraan bagi umat Islam. Bulan suci ini menghadirkan suasana spiritual yang hangat melalui berbagai tradisi kebersamaan seperti buka puasa bersama, silaturahmi keluarga, kajian keagamaan, hingga kegiatan berbagi kepada sesama. Namun kegembiraan Ramadan tidak hanya dirasakan oleh umat Islam semata. Dalam banyak kesempatan, bulan ini juga menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan kebersamaan lintas iman—tempat di mana nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab merawat bumi dapat dirayakan bersama.

Dalam semangat itulah kegiatan Buka Puasa Bersama Lintas Iman yang diselenggarakan oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah pada 10 Maret 2026 menjadi sebuah pembelajaran penting. Acara yang berlangsung di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Menteng Raya, Jakarta Pusat, ini mempertemukan semangat kerukunan lintas iman dengan kesadaran ekologis yang semakin mendesak untuk dibangun bersama.

Lebih dari 150 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh agama, akademisi, pemerintah, aktivis masyarakat sipil, pemuda, organisasi lintas agama dan kepercayaan, hingga media. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan bahwa isu lingkungan dan keberlanjutan tidak lagi dapat dipandang sebagai tanggung jawab satu kelompok saja, melainkan memerlukan kerja sama lintas komunitas. Sejumlah mitra yang turut hadir antara lain WWF Indonesia, Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat, Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia, serta Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, Kemendagri dan berbagai lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat lainnya.

Agama pada dasarnya memiliki fondasi moral yang kuat untuk membangun kesadaran ekologis. Keimanan tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab manusia terhadap sesama dan terhadap alam semesta. Krisis lingkungan yang semakin sering terjadi—mulai dari banjir, kerusakan hutan, hingga perubahan iklim—menjadi pengingat bahwa kehidupan spiritual tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab menjaga bumi.

Dalam konteks ini, ruang kolaborasi lintas iman menjadi sangat penting untuk menghadirkan solusi bersama. Muhammadiyah tidak hanya menjadi rumah bagi umat Islam, tetapi juga ruang perjumpaan bagi berbagai komunitas untuk bekerja sama merawat bumi. Semangat ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kelompok dalam satu tujuan bersama: menjaga keberlanjutan kehidupan.

Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang mengingatkan bahwa kerusakan alam pada dasarnya merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri. Allah SWT berfirman bahwa kerusakan telah tampak di darat dan di laut disebabkan oleh tangan manusia, agar manusia menyadari akibat dari perbuatannya dan kembali kepada jalan yang benar (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini memberi pengingat moral bahwa menjaga keseimbangan alam bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari amanah keimanan.

Selain itu, Al-Qur’an juga menegaskan agar manusia tidak merusak bumi setelah Allah menciptakannya dengan keseimbangan. Allah SWT berfirman agar manusia tidak membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya (QS. Al-A’raf: 56). Pesan ini menegaskan bahwa merawat bumi merupakan tanggung jawab spiritual manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Dampak perubahan iklim saat ini semakin nyata dan dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Perubahan pola cuaca, meningkatnya intensitas bencana alam, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan merupakan contoh bagaimana krisis lingkungan mempengaruhi kehidupan manusia. Isu ini bahkan berkaitan erat dengan sektor energi, sumber daya alam, dan keberlanjutan pembangunan.

Dalam konteks transisi energi global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk energi baru dan terbarukan menjadi sebuah keniscayaan. Perubahan ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan. Namun perubahan tersebut juga memerlukan penguatan literasi masyarakat agar publik memahami pentingnya keberlanjutan dan mampu mengambil peran dalam proses transformasi tersebut.

Momentum buka puasa bersama dalam kegiatan ini juga menjadi ruang dialog lintas iman yang memperkaya perspektif tentang tanggung jawab menjaga lingkungan. Perwakilan dari Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat menjelaskan bahwa gereja juga mengembangkan gerakan Eco Church sebagai bentuk tanggung jawab iman terhadap lingkungan. Gerakan ini menempatkan isu lingkungan sebagai bagian penting dari program pelayanan gereja.

Menurut mereka, isu lingkungan memiliki kekuatan untuk menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang sosial maupun agama. Bencana banjir dan longsor yang terjadi di berbagai wilayah seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menunjukkan bahwa krisis lingkungan tidak mengenal batas agama. Masjid, gereja, maupun rumah ibadah lainnya dapat terdampak oleh bencana yang sama.

Perspektif lain datang dari dunia pendidikan Katolik yang menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan sejak usia dini. Dalam tradisi Gereja Katolik, kesadaran ekologis semakin menguat sejak diterbitkannya ensiklik Laudato Si’ oleh Pope Francis, yang menyerukan tanggung jawab moral umat manusia untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Perubahan kesadaran generasi muda mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika dahulu hampir tidak pernah ada anak muda yang merasa bersalah karena membuang sampah plastik, kini mulai muncul kesadaran baru di kalangan siswa yang memandang tindakan tersebut sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap lingkungan. Perubahan kecil ini menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis.

Sejak tahun 2012, para siswa Kolese Kanisius bahkan secara rutin terlibat dalam kegiatan bersih-bersih Sungai Ciliwung yang kini menjadi agenda tahunan. Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat membentuk generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Dari kalangan penghayat kepercayaan, perwakilan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia membagikan pengalaman membangun ketahanan pangan berbasis keluarga. Selama masa pandemi, masyarakat didorong untuk menanam tanaman pangan seperti cabai, tomat, dan terong di rumah sebagai bagian dari upaya menjaga kemandirian pangan keluarga sekaligus memperkuat hubungan manusia dengan alam.

Sementara itu, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia menegaskan bahwa kesadaran lingkungan juga terus disuarakan melalui pendekatan moral dan dakwah kepada umat. Para rohaniwan didorong untuk memasukkan pesan-pesan ekologis dalam ceramah dan pengajaran mereka, sehingga perubahan dapat dimulai dari kesadaran individu.

Rangkaian acara semakin semarak dengan penampilan Laetitia Disability Choir dari Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta, yaitu paduan suara dari para penyanyi difabel netra yang menghadirkan suasana haru dan inspiratif. Acara juga dimeriahkan dengan pentas tari dari siswa SMP Muhammadiyah 8 Jakarta. Penampilan seni tersebut menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat, memperlihatkan bahwa keberagaman dapat berpadu dalam harmoni untuk merawat bumi bersama.

Dalam diskusi yang berlangsung sebelum berbuka puasa, para peserta juga menegaskan bahwa gerakan lingkungan merupakan gerakan jangka panjang yang memerlukan keterlibatan generasi muda. Gerakan hijau selalu berbicara tentang masa depan. Karena itu generasi muda perlu dilibatkan sejak sekarang sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan bumi.

Kegiatan buka puasa lintas iman ini memberikan pelajaran penting bahwa Ramadan tidak hanya menjadi ruang ibadah individual, tetapi juga momentum untuk memperluas makna kebersamaan antarmanusia. Dari meja buka puasa, nilai-nilai persaudaraan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab ekologis dapat tumbuh melalui dialog, kolaborasi, dan tindakan nyata.

Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada ritual semata. Ia tercermin dalam cara manusia memperlakukan sesama dan dalam cara manusia merawat bumi yang menjadi rumah bersama.

Ketika kegembiraan Ramadan mampu mempertemukan manusia lintas iman untuk bersama menjaga bumi, di situlah nilai agama menemukan maknanya yang paling hidup. 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Dua Laut yang Bertemu  Cerpen Hamdy Salad  Entah dari arah mana angin itu datang. Dari b....

Suara Muhammadiyah

2 January 2026

Humaniora

Oleh: Mustofa W Hasyim SETELAH ALHAMDULILLAH Alhamdulillahi rabbil 'alamiinAlhamdulillahi rabbil '....

Suara Muhammadiyah

31 December 2023

Humaniora

Sing Sabar, Pelajaran Ramadan tentang Kehidupan Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua MLH PP Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

12 March 2026

Humaniora

Di tengah riuh rendah jagat sosial, nama Khafid Sirotudin muncul bukan hanya sebagai penulis buku, t....

Suara Muhammadiyah

21 September 2025

Humaniora

Hikmah Ibadah Haji 1445 H / 2024 M Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng., Dept of Informatics Engineering, Un....

Suara Muhammadiyah

26 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah