Tersentuh
Cerpen Reva Afifah
Sering kali aku merasa tidak suka dengan apa yang aku dapat hari ini. Merasa tidak senang dengan kondisi yang kuterima saat ini. Membenci apapun yang ada di sekitarku. Mungkin bukan hanya diriku yang seperti itu, aku yakin banyak orang juga merasakan hal yang sama.
Manusia tidak akan puas dengan segala hal yang ia dapatkan. Sekaya apapun dirinya, pasti tetap ada yang ia anggap kurang. Sebahagia apapun dirinya, pasti akan ada yang ia keluhkan. Pantas saja manusia disebut makhluk yang kebutuhannya tak terbatas.
Aku pernah diposisi itu, hampir setiap hari. Kenapa aku harus menerima segala perasaan ini. Kenapa aku harus menghadapi masalah seperti ini. Merasa seperti orang yang sangat susah. Padahal, makan, sandang, uang saku, semua kebutuhanku dipenuhi dengan sangat baik oleh orang tuaku. Kalian pasti akan berpikir, aku orang yang tidak bersyukur. Ya, aku selalu merasa seperti itu.
Namun, pada suatu hari, saat malam menjelang, aku mengaji di pondok. Di saat itu, aku sedang merasa kosong dan hampa. Melakukan rutinitas yang sangat monoton yang diatur oleh bell yang berbunyi sepanjang pagi hingga malam. Semua kegiatan diatur oleh bell.
"Menyebalkan," aku sering mengeluh seperti itu. "Baru bangun, bell berbunyi mengajak sholat, kalau tidak bangun, nanti akan ada petugas yang menghampiri," timpalku.
"Ah," aku mengeluh lagi. Dan terus begitu. Di satu waktu, aku duduk di bangku kedua dari depan. Aku sedikit mengantuk, sedari siang tidak tidur. Malam itu, adalah jadwal pelajaran shorof. Gurunya masih muda, selalu berangkat lebih awal dari guru kelas mengaji yang lain. Malam itu adalah malam pertamaku mengaji. Malam yang riweh, karena ada acara yang memakan tempat mengaji, jadi para santri harus pindah ke tempat yang lain. Aku, bukan hanya aku, teman-temanku yang lain juga menata posisi duduk seiring dengan kedatangan guru tersebut.
“Assalamualaikumwarohmatullahiwabarokatuh” guru perempuan yang berperawakan cukup tinggi itu berdiri di depan kelas di samping papan tulis putih, mengucap salam menandakan bahwa pelajaran akan dimulai.
Seluruh kelas menjawab salam tersebut. Malam itu tidak dimulai dengan pembelajaran ataupun materi shorof, hanya berbasa-basi saja. "Toh, ini masih malam pertama mengaji, jadi kita gunakan untuk perkenalan saja," katanya.
Guru itu menceritakan, bahwasanya dirinya pernah mengikuti sebuah pengajian di suatu tempat. Ia menceritakan begitu banyak nasehat dari guru tempat ia mengaji. Namun ada satu nasehat yang menggerakkanku menulis teks ini.
Guruku itu menceritakan bahwasanya, "Hidup itu tidak ada yang ideal." Disana, hatiku langsung termenung.
“Benar juga,” kata batinku.
Aku selalu mengeluhkan pondokku. Aku merasa, "Kenapa pondok ini sangat modern, namun bukan itu yang aku maksud. Kalian tentu sudah paham bukan."
Aku merasa ini seperti boarding school, santrinya tak seperti yang ada dalam bayanganku. Tapi di pertemuan itu, guru shorof itu pun menjelaskan, “Hidup itu gak ada yang ideal, gak ada yang sesuai sama ekspektasi. Pasti akan ada kurangnya. Meski begitu, kita tetep bisa mengusahakan. Tapi, berusaha itu bukan cuma mikirin hasil, kita itu cukup nikmati prosesnya.” Guru itu menjelaskan sembari menengok gawainya.
Aku mendadak termangu. Memang benar, tidak akan ada yang ideal. Karena setelah kupikir-pikir, tidak ada kata sempurna di dunia ini. Aku langsung merasa tersentuh dengan kata-kata tersebut.
Mungkin memang seharusnya diri ini memgurangi ekspektasi yang berlebih terhadap uang yang berlimpah bak CEO yang sudah bekerja kantoran bertahun-tahun, ataupun owner toko butik yang sudah merintis semenjak masih bersekolah.
Dari kejadian itulah, aku mulai tersadar, semua tidak ada yang sempurna, dan segala hal yang indah itu tidak didapatkan dengan mudah.

