Puasa Menjaga Jiwa dari Sandera Pesona Dunia yang Menggoda

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
156
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

JEMBER, Suara Muhammadiyah – Praktikum puasa (ash-shiyam) dari sudut pandang kesehatan banyak muatan kemaslahatannya. Di lain sisi, secara spiritual juga tak kalah pentingnya.

Menukil Yusuf Qardhawi dalam Fiqh Al-Shiyam, tersebut salah satunya, pembersihan jiwa (tazkiyah al-nafs).

Menurut Muhammad Saad Ibrahim, kata nafs di sini dimaknai sebagai jiwa. Yang kemudian mengerucut pada ruh. “Kalau ruh itu sendiri, sudah bersih,” ujarnya.

Tapi ketika kemudian, ruh itu ditiupkan ke dalam tubuh manusia, maka berarti menyatu pada tubuh.

“Tubuh dari tanah,” ucap Saad. Di sini, unsur tanah mendominasi manusia. Saad mengajak untuk mengantisipasi agar jiwa yang sedemikian bersihnya itu, dijaga dan dirawat dengan baik.

“Jangan kemudian jiwa kita tersandera oleh hal-hal yang berhubungan aksesesoris (duniawi). Kalau jiwa kita tersandera oleh yang aksesesoris itu, jiwa kita hilang, justru menjadi kotor,” jelasnya.

Di sinilah pentingnya umat Islam berupaya menyempurnakan penghambaan kepada Allah. Sekalipun harus menahan aneka pernak-pernik aksesoris duniawi yang begitu menggoda.

“Jangan tersandera,” tegas Saad, singkat dan gamblang dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jember, Ahad (8/2) di Kantor PDM Kabupaten Jember, Bondoyudo, Jemberlor, Patrang, Jember, Jawa Timur.

Maka, di sitilah diperlukan bantalan vital I’la’u lil-janibirruhi ‘alal-janibil-maddiyi lil-insan. Yakni menempatkan posisi yang berkait kejiwaan (kerohanian) lebih tinggi daripada dunia yang sifatnya fisikly dan sebagainya.

“Sehingga ini pentingnya mengelola jiwa kita. Nanti bisa melahirkan kesabaran dan sebagainya,” imbuh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Di samping itu, implementasi ibadah puasa sebagai proses mendidik (tarbiyatun lil iradah). Saad menggarisbawahi, titik sentral puasa melatih kemauan yang kuat (puasa, red).

“Ketika kita masih anak-anak, diajar untuk punya iradah (kemauan) berpuasa,” ujar Saad, mencontohkan sampel sederhana terkait konteks tersebut. “Puasa mengajarkan itu (iradah),” tambahnya sekali lagi.

Jauh lebih fundamental lagi, puasa juga memiliki hikmah sosial (hikmah ijtima’iyyah), khususnya puasa Ramadhan. Pokok pangkal puasa itu memberikan pengajaran pentingnya kesetaraan sosial.

“Menumbuhkan dalam jiwa rasa penderitaan orang fakir dan miskin,” tuturnya.

Maka, setiap muslim lewat puasa, dilatih untuk memiliki sensitivitas sosial kepada sesama. “Kita merasakan kondisi orang lain. Jiwa kita ini terasa masuk ke dalam posisi saudara kita yang menderita,” bebernya.

Di sinilah relevansi bulan Ramadhan sebagai bulan solidaritas. “Empati itu yang tertinggi,” tegas Saad.

Bersamaan dengan itu, puasa juga mengajarkan untuk mensyukuri nikmat Allah. Dan klimaksnya, manusia mencapai derajat takwa dan naik peringkat menjadi muttaqin (orang yang bertakwa). (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) menjadi penyelenggar....

Suara Muhammadiyah

14 January 2025

Berita

PRINGSEWU, Suara Muhammadiyah — Milad Muhammadiyah ke-113 yang diselenggarakan oleh Pimpinan D....

Suara Muhammadiyah

22 November 2025

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Kota Surabaya kembali mempert....

Suara Muhammadiyah

25 November 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerima bantuan 2.000 mushaf Al-Qur&rsquo....

Suara Muhammadiyah

10 May 2025

Berita

BALI, Suara Muhammadiyah – SD Muhammadiyah Condongcatur berkolaborasi bersama SD Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

21 May 2024