Penunggu di Tikungan
Oleh: Iu Rusliana, Dosen Program Magister Manajemen (MM) Uhamka Jakarta, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat
Dalam berorganisasi, baik profit maupun non profit, para penunggu di tikungan, menjelang titik finish selalu banyak. Begitulah sifat manusia, tidak mau lelah mengawali, di mana proses berat harusnya dapat dinikmati. Saat masih keras berjuang, biasanya hanya mencemooh, berkomentar, dan jauh dari ingin mengulurkan tangan membersamai. Kelihatan sudah maju, berbondong ingin ikut membantu. Banyaknya ingin memetik hasil di ujung. Orang model begini biasanya akan paling depan mengklaim dirinya paling berjasa kalau sukses. Namun, akan menjadi paling keras mengkritik jika gagal yang diraih.
Dalam ilmu studi organisasi, perilaku seperti ini termasuk apa yang disebut office politics, politik di kantor. Segala tindakan, permainan kekuasaan, seni menjilat bos, persepsi dan interaksi antar-pegawai serta seluruh struktur relasional yang ada. Tentu saja mempengaruhi pengambilan keputusan promosi, menguntungkan salah satu pihak karena satu faksi. Ego pribadi tokoh, identitas asal bisa membentuk faksi bahkan mirip fraksi di DPR. Dalam pengambilan keputusan, kadang-kadang karena beda pendapat, deadlock kerap terjadi. Ngopi sebelum rapat akhirnya sering terjadi. Rapat jadi formalisme karena semuanya sudah disepakati di tempat ngopi. Jika pemimpin tertingginya bukan figur yang kuat, bisa lempar handuk itu.
Sering kali, para pejuang tulus yang pikiran, keringat, dan darahnya untuk kemajuan organisasi itu tidak pandai berkomunikasi. Kadang-kadang pula lemah berjejaring. Mutiara-mutiara organisasi ini biasanya tertumpuk besi. Sang pemimpin tertinggi juga kadang-kadang tidak terlalu fokus. Hanya karena teman bos besar, pemilik perusahaan, atau orang pusat, dia ditunjuk bertugas. Dilingkungilah oleh para oportunis dan pragmatis. Siapa yang tak terbuai rayuan, layanan sempurna kepada bos baru. Sementara itu, kepada sesama dan di bawah, jauh dari layanan prima. Oportunis itu pun menjadi bos kecil yang kadang-kadang jauh lebih berkuasa. Bayangkan organisasi kita diatur oportunis yang tak punya visi dan hanya ingat untuk kantong pribadi.
Jangan tertipu dengan manusia semacam ini kedua kali. Kalau pertama, wajar saja. Anda tidak bisa sepenuhnya memonitor segala sesuatunya. Sehingga tahu detail, mana yang benar-benar bekerja keras, mana yang hanya datang lalu bergosip ria. Mana yang ngerecokin atau mana hanya ingin nilai positif dari Anda sebagai bos besar. Jangan kedua kali ya, karena itu terjadi, ambruknya proyek pengembangan organisasi cepat atau lambat akan terjadi.
Apalagi si pekerja keras tak pandai berkomunikasi, cenderung pemalu. Bekerja dalam sunyi dan dia hanya berpikir harus total memajukan organisasi sepenuh hati. Baginya, laporan progres dan menyapa Anda tidak penting. Sementara itu, ada koleganya yang pandai berkomunikasi, selalu update proses, sehingga kita berpikir, dialah yang bekerja keras. Dunia itu kadang-kadang tidak adil, begitu gumam mereka yang merasakan situasi ini. Padahal, dunia tetap adil, karena ketulusan tak terkalahkan. Emas akan tetap menjadi emas, batu akan tetap menjadi batu. Hanya waktu yang akan menjawab, soal siapa yang bersungguh-sungguh mengerjakan tugas dengan yang hanya colak-colek lalu klaim pekerjaan teman.
Jangan jadi bos senang dengar laporan baik. Apalagi tanpa verifikasi ke bawah. Bisa dipetakonflikkan oleh tim. Terjadilah diskusi dan perdebatan yang tidak perlu. Mempertontonkan kita ini polos, tanpa informasi utuh mau melaksanakan suatu agenda. Jika pun ingin sesuatu, tetap waras dan kritis agar segala potensi gagal terantisipasi. Bukan takut, tetapi realistis itu penting. Kadang-kadang keinginan kita ini di langit, tetapi daya dukung di bumi tidak siap. Berkompromilah dan memimpinlah dengan sungguh-sungguh. Jika sekadar mengarahkan dan mendengar laporan, tanpa melihat fakta lapangan, gagal sudah hampir dipastikan. Bukankah dalam peperangan, informasi daerah target operasi itu sudah dianalisis dengan detail oleh tim intelejen. Kalau informasi intelejen keliru, prajurit yang ditugaskan akan berguguran.
Dapatkan informasi utuh dulu, baru membuat pola. Apalagi kalau basisnya hanya data tanpa fakta, gawat itu. Selain itu, sinergi dan kolaborasi adalah kunci. Tidak usah ingin menjadi pemegang bendera, bahwa aku yang berjasa. Pemimpin yang keren adalah mereka yang siap memimpin dan dipimpin. Saat ditugaskan memimpin, akan menjadi penggerak terbaik. Apabila menjadi anggota tim, akan menjadi pendukung yang trengginas.
Waktu yang akan membuktikan kualitas mereka yang diberi kepercayaan. Benar mampu atau hanya klaim bisa. Oleh karena itu, biasakan hanya memberikan sebagian kepercayaan saja. Buat peta kinerja dan waktu proses personal untuk mengukur ada perkembangan atau tidak. Secara objektif Anda sedang mengayak batu menjadi emas. Jika emas, karyawan terbaik itu sudah ditemukan, tim terbaik akan dapat dibentuk, dan tujuan organisasi akan segera dicapai.
Para penjilat itu kadang-kadang punya faksi. Kuat lagi, karena biasanya pandai setor sumber daya. Oleh karena itu, ciptakan budaya komunikasi terbuka dan sekali-kali, jika masih abu-abu, kompromikan. Misalnya, Anda mau menggeser si A, tahu orangnya siapa, sekiranya kesalahannya bisa diampuni, mintalah memperbaiki. Jika sudah mencuri, pelecehan seksual, mengganggu kinerja banyak pihak, tegas adalah pilihan utama. Tentu komunikasi kepada pihak pendukung menjadi penting, untuk mencarikan kompromi. Jika tetap ngotot, main kayu tampaknya bisa dipilih.
Situasi rumit seperti itu juga memberi ruang bagi Anda untuk melakukan uji ketulusan dan rasa memiliki organisasi. Misalnya, melakukan rotasi atau mutasi. Bukankah rotasi hal biasa. Pengalaman beda unit adalah kekayaan pengalaman memimpin yang penting untuk karier yang lebih tinggi. Kecuali demosi ya, walau tetap ada hikmahnya. Sehingga tidak ada raja kecil di posisi tertentu yang basah.
Catat pula siapa yang paling pandai menyalahkan. Lihat siapa yang selalu memberikan solusi. Ini cara Anda mengayak mana emas, mana besi. Gengam emas, gunakan besi sekali-kali. Jika tak berubah, besi itu baiknya digudangkan. Berikan apresiasi kepada pejuang nyata. Jangan terlambat mengapresiasi, karena jika dia telah pindah keluar organisasi, kepada pesaing apalagi, hanya sesal yang menghinggapi.
Memimpin itu tidak mudah. Harus awas, mana penjilat pencari keuntungan pribadi atau yang tulus sepenuh hati. Memelihara perkawanan, atau hanya ada ketika berkepentingan. Ikatlah teman setia, saling dukung dan besarkan. Jangan salah mengalokasikan sumber daya kuasa. Kita belajar indahnya saling bahu dan pertemanan hingga menutup mata. Wallaahu’alam.