Njaga Wibawa Aja Nguja Hawa: Sebuah Pesan Pentingnya Menjaga Kehormatan Diri
Oleh: Rumini Zulfikar (GusZul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten
"Tatkala manusia bisa menyeimbangkan, menyelaraskan ruhani, jasmani, alam, maka kehidupan akan damai."
Ungkapan dalam judul di atas begitu sederhana, akan tetapi sangat mendalam isinya. Dan itu merupakan sebuah wejangan bagi umat manusia agar tetap menjaga nilai-nilai agama, kultur budaya, serta hukum yang tertulis maupun tidak tertulis, baik dalam bersyarikat, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Manusia dengan kelebihan jika dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya, merupakan sentral dalam perjalanan kehidupan di muka bumi.
Seiring berjalannya waktu serta di tengah perkembangan zaman modern dalam sebuah peradaban umat manusia di dunia ini, mau tidak mau membawa nilai-nilai yang mempunyai dampak positif maupun negatif. Dan itu tidak bisa terelakkan karena hukum alam.
Akan tetapi, jika manusia yang mempunyai insan pribadi maupun insan sosial ini bisa membawa diri dengan baik, maka tidak akan terjadi ketimpangan dalam kehidupan ini.
Dan itu semuanya dikembalikan pada masing-masing pribadi itu sendiri. Jika kita orang yang bertauhid dan memaknai dari sebuah ikrar janji suci kita dengan Tuhan, maka kita harus menelaah dan menghayati tentang ikrar suci tersebut sehingga dalam hidup ini akan ada role yang jelas. Sehingga kita tidak mudah berpikir dan bertindak serampangan, walaupun itu pada tataran ucapan atau perkataan. Dan itu semuanya sebagai pengendalinya adalah hati (qalbu) kita masing-masing.
Dalam masyarakat Jawa, kadang kita pernah mendengarkan sebuah ungkapan, "Ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana." Dalam ungkapan tersebut mempunyai makna betapa pentingnya menjaga marwah seorang pribadi, yaitu yang pertama dengan perkataan atau ucapan yang baik nan halus, dengan sopan santun, penuh keadaban. Apabila kita berucap/berkata menyinggung perasaan orang lain dengan nada tinggi, maka akan berakibat tidak baik. Sehingga apabila salah ucap dan momen tidak pas akan berakibat orang lain menjadi tersinggung, marah, membenci, bahkan dendam.
Yang mana di tengah interaksi sosial, kita juga harus pandai-pandai menjaga pentingnya etika, moral, adab, bahkan akhlak.
Selain itu juga dalam pandangan orang Jawa begitu menjunjung tinggi dalam berbusana. Selain menutup aurat, orang Jawa juga memberikan tuntunan dengan baik agar tidak menimbulkan syahwat lawan jenis. Walaupun kalau kita lihat dalam berbusana atau berpakaian pada waktu dahulu tidak menutup aurat secara menyeluruh, akan tetapi secara eksplisit mengajarkan bagaimana berpakaian yang anggun dan enak dilihat orang lain.
Degradasi Moral dalam Kehidupan Modern
Kalau kita melihat potret kehidupan masyarakat Indonesia yang terkenal adat ketimuran yang masih kental dalam menjunjung sopan santun, tata susila, andap asor dalam interaksi sosial, masih terjaga dengan baik. Dalam bahasa Jawa, unggah-ungguh (tata krama) itu bagian dari sebuah kepribadian seorang Jawa. Sebuah nilai yang menyelaraskan ajaran dan tuntunan yang seirama.
Akan tetapi, jika kita melihat kondisi saat ini, semua itu berubah dari nilai-nilai tersebut. Banyak peristiwa yang dipertontonkan oleh masyarakat, yang lebih parah lagi mengaku orang beragama tetapi jauh dari esensi beragama itu sendiri. Banyak kewibawaan/kehormatan tercoreng hanya karena menuruti hawa nafsu, yang sebenarnya itu karena faktor ego. Sesuap nasi, tapi menerjang nilai-nilai agama, sosial, dan masyarakat (seperti korupsi, penyalahgunaan jabatan, tindak pidana kriminal, kejahatan kemanusiaan, sosial, dan lain sebagainya).
Dan lupa bahwa menjaga kehormatan/wibawa adalah suatu keharusan. Dalam Jawa: "Njaga wibawa aja nguja hawa."
Dan kita harus sadar, seiring waktu dan perkembangan zaman, selain berdampak positif juga berdampak negatif. Seakan-akan kita sudah kehilangan jati diri kita sebagai orang timur. Sehingga yang terjadi adalah tindakan yang jauh dari ciri orang Jawa itu sendiri.
Sekarang begitu mudah mencaci maki, menghujat, memfitnah, mengumpat dengan kata-kata kasar (kotor). Berbicara tidak lepas kontrol, tidak melihat siapa yang dihadapinya. Dalam konteks luas, tatkala nafsu amarah tersulut, mudah sekali melukai perasaan orang lain. Bahkan hal itu bisa terjadi terhadap orang yang terpelajar, terdidik, bahkan dianggap tokoh. Dan pasti terjadi di lingkungan kita semua, termasuk juga pernah dialami dalam kampung penulis.
Dengan sikap yang terbawa amarah itulah kadang kewibawaan seseorang akan jatuh di mata khalayak ramai atas sikapnya (ucapan dan tindakan). Yang mana kehormatan sebagai mahkota menjadi tercederai.
Oleh karena itulah sangat penting dan tetap relevan sekali bahwa Islam mengajarkan tentang keselarasan antara ilmu, amal, dengan ihsan yang seimbang. Sehingga bisa menjaga kewibawaan pada diri kita dengan tidak menuruti nafsu amarah semata. Dan ini ditegaskan dalam Surat Ali Imran ayat 159.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
Tadabbur Ayat
Dalam Surat Ali Imran ayat 159 memberikan beberapa hal dalam kaitan bagaimana kita menjaga kehormatan ini dengan sebuah penyelarasan dari janji dan persaksian kita dengan Tuhan, yaitu nilai nur Ilahi dengan sifat-sifat-Nya dan nur Muhammad, sifat-sifat terpujinya, yaitu:
Pertama, dalam kehidupan apa yang menjadi di dunia ini atas rahmat atau kemurahan anugerah-Nya, termasuk menjadi pribadi yang agung yang berakhlakul karimah. Kita sebagai umat wajib berupaya mencontoh sifat-sifat Nabi Muhammad (siddiq, amanah, fathanah, tabligh).
Kedua, bentuk dari implementasi ajaran dan tuntunan itu adalah sikap atau kultur budaya yang harus dijalankan, yaitu bersikap lemah lembut pada siapa pun, dengan tutur kata maupun yang lainnya.
Ketiga, dalam kehidupan ini kita sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi satu sama lain, maka kita harus bersikap luwes dan halus. Dan yang mengontrol adalah hati (qalbu) kita harus terjaga dari sikap-sikap yang tidak terpuji, baik pikir, kata, maupun laku. Jika kita keras, kasar, brutal, kaku, dan lebih menuhankan ego kita dalam berinteraksi sosial, maka kita akan dijauhi oleh lingkungan kita.
Keempat, dalam hidup ini kita tidak bisa lepas dari khilaf, salah, dan dosa, baik pada Allah maupun sesama makhluk di muka bumi ini. Jika kita disakiti maka tidak dianjurkan membalas menyakitinya, tetapi maafkan dan mohonkan ampun pada Tuhan.
Kelima, dalam mencapai sebuah tujuan atau memecahkan problematika kehidupan, baik itu ruang lingkup terkecil sampai lingkup besar, maka jalan terbaik adalah dengan bermusyawarah. Dari situ nanti akan terjadi diskusi dua arah, saling melengkapi, tidak ada rasa “aku”-nya, sehingga akan ada titik temu dari berbagai sudut pandang.
Keenam, tatkala sudah ada kesepakatan dari hasil musyawarah itulah, maka kita wajib menjaga dan menjalankan apa yang telah menjadi kesepakatan itu.
Ketujuh, setelah dari sebuah proses dalam kehidupan ini, baik lingkup terkecil maupun luas, maka tugas kita berserah pada Tuhan. Tapi tidak secara kosong, tetap membuka tabir-tabir hikmah dalam perjalanan, karena dari proses itulah pelajaran berharga akan kita rasakan, bukan semata-mata hasilnya.
Semoga kita senantiasa bisa menjadi pribadi manusia yang dalam menjalani kehidupan ini dengan tenang (jumeneng tenang), dari hiruk pikuk pikiran dan rasa yang menggiring kita jauh dari nur Ilahi dan nur Muhammad (syahadat), karena syahadat merupakan fondasi utama dalam membuka gerbang kebahagiaan dan kedamaian sejati, yaitu senantiasa kita mencari Tuhan dalam hidup ini.

