Mewujudkan Akidah Islam Berkemajuan
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengangkat tema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis” pada Pengkajian Muhammadiyah di bulan Ramadhan 1447H. Tema ini diangkat melihat kondisi zaman yang bergerak cepat dengan teknologi yang melesat, ekonomi yang bergejolak, serta lanskap sosial-politik yang berubah.
Umat Islam sering dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar, yaitu bagaimana menjaga kemurnian akidah tanpa kehilangan daya transformasi sosialnya? Apakah tauhid cukup berhenti sebagai doktrin teologis yang diyakini, atau ia harus menjelma menjadi energi peradaban yang menggerakkan?
Di sinilah relevansi gagasan Islam Berkemajuan menemukan momentumnya. Konsep ini secara kuat dipopulerkan oleh Muhammadiyah. Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan modernitas, melainkan visi keberagamaan yang berakar pada tauhid murni dan sekaligus terbuka terhadap kemajuan ilmu, keadaban, dan keadilan sosial.
Namun, pertanyaan krusialnya ialah bagaimana memperluas paham tauhid murni agar tidak berhenti pada penolakan terhadap syirik ritual semata, tetapi juga membebaskan manusia dari berbagai bentuk “syirik sosial” dan “syirik struktural” yang tersembunyi dalam sistem kehidupan? Tulisan ini berusaha mengurai persoalan tersebut secara naratif, analitis, dan kritis.
Tauhid secara sederhana dipahami sebagai pengesaan Allah. Dalam tradisi klasik, tauhid dijabarkan dalam tiga aspek yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Secara doktrinal, umat Islam relatif sepakat mengenai hal ini. Namun, dalam praktik sosial, tauhid sering kali dipersempit menjadi sekadar urusan ritual dan simbolik.
Al-Qur’an menegaskan:
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah: 163).
Ayat ini bukan hanya deklarasi metafisik, melainkan suatu pernyataan ontologis sekaligus etis. Jika Allah Maha Esa, maka tidak boleh ada “tuhan-tuhan kecil” dalam kehidupan manusia seperti kekuasaan yang disembah, harta yang diagungkan, jabatan yang dipertuhankan, atau ideologi yang diposisikan di atas nilai ilahiah.
Sayangnya, dalam banyak kasus, tauhid berhenti sebagai hafalan akidah. Kita keras terhadap praktik tahayul, bid’ah, dan khurafat, tetapi sering lunak terhadap ketidakadilan, korupsi, manipulasi kekuasaan, dan eksploitasi ekonomi. Padahal, ketundukan total kepada Allah seharusnya melahirkan keberanian moral untuk menolak segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya. Di sinilah perluasan makna tauhid menjadi mendesak.
Konsep Islam Berkemajuan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah menekankan integrasi antara kemurnian akidah dan komitmen pada kemajuan peradaban. Tauhid tidak boleh membuat umat terasing dari realitas modern, melainkan justru menjadi landasan etis untuk mengelola modernitas. Dalam pandangan ini, tauhid bukan sekadar “membersihkan” praktik ibadah dari unsur syirik, tetapi juga membangun sistem sosial yang berkeadilan. Tauhid mendorong lahirnya pendidikan yang mencerdaskan, ekonomi yang berkeadilan, kesehatan yang inklusif, serta tata kelola pemerintahan yang amanah.
Tauhid yang murni melahirkan tiga kesadaran utama. Pertama, kesadaran ketuhanan yaitu sadar bahwa seluruh aktivitas hidup berada dalam pengawasan Allah. Kedua, kesadaran kemanusiaan dimana setiap manusia memiliki martabat karena diciptakan oleh Tuhan Yang Esa. Kesadaran ketiga ialah kesadaran peradaban dimana manusia diamanahi sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi. Ketiga kesadaran ini membentuk fondasi Islam Berkemajuan yaitu iman yang rasional, ibadah yang autentik, dan amal yang solutif.
Memperluas paham tauhid murni berarti menggeser orientasi dari sekadar pembahasan “apa yang harus diimani” menuju “apa yang harus diperjuangkan”. Tauhid harus menjadi energi pembebasan.
Di banyak ruang sosial-politik, kultus individu menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Tokoh diposisikan seolah tanpa salah, kritik dianggap pembangkangan, dan loyalitas personal mengalahkan loyalitas pada prinsip. Padahal tauhid mengajarkan bahwa kebenaran tidak melekat pada figur, melainkan pada nilai.
Dalam konteks ekonomi, tauhid menolak ketimpangan ekstrem yang lahir dari kerakusan. Ketika harta menjadi “tuhan” baru, manusia rela menghalalkan segala cara. Sistem ekonomi yang hanya berorientasi pada akumulasi tanpa distribusi sejatinya mencederai semangat tauhid.
Al-Qur’an memperingatkan:
“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (QS. Al-Hasyr: 7).
Tauhid murni meniscayakan keberpihakan pada keadilan sosial. Tauhid murni menolak riba, monopoli, dan eksploitasi, sekaligus mendorong zakat, wakaf, dan filantropi produktif.
Kekuasaan sering menjadi ruang paling rawan penyimpangan tauhid. Ketika jabatan dipertahankan dengan segala cara, bahkan dengan mengorbankan nilai, maka sesungguhnya telah terjadi penghambaan kepada kekuasaan. Tauhid murni menanamkan kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak absolut. Dalam perspektif ini, pejabat publik bukanlah “pemilik negara”, melainkan pelayan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Memperluas tauhid murni juga berarti bersikap kritis terhadap dua ekstrem yaitu paham sekularisme yang memisahkan agama dari ruang publik, dan paham fundamentalisme yang menyempitkan agama menjadi simbol-simbol formal.
Sekularisme ekstrem cenderung menganggap agama cukup di ruang privat. Sementara fundamentalisme sempit menganggap kesalehan cukup diukur dari simbol luar. Keduanya sama-sama gagal menangkap misi tauhid yang menyeluruh. Islam Berkemajuan menawarkan jalan tengah yaitu agama hadir di ruang publik dengan cara yang rasional, etis, dan solutif. Tauhid tidak dipaksakan melalui simbol kekuasaan, tetapi dihadirkan melalui keteladanan dan keadilan.
Jika tauhid ingin diperluas secara substantif, maka pendidikan menjadi arena paling strategis. Pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu, tetapi harus membentuk kesadaran tauhid yang kritis dan progresif. Sekolah dan kampus harus menjadi ruang di mana rasionalitas dipertemukan dengan spiritualitas, sains dipadukan dengan etika, dan kemajuan teknologi diimbangi tanggung jawab moral. Di sinilah visi Islam Berkemajuan menemukan relevansinya. Tauhid melahirkan generasi yang bukan hanya saleh secara personal, tetapi juga kompeten dan berintegritas dalam profesi.
Salah satu kelemahan dalam praksis keberagamaan adalah dominannya pendekatan individualistik. Seolah-olah agama hanya urusan hati dan amal pribadi. Padahal struktur sosial yang tidak adil juga harus menjadi perhatian. Tauhid struktural berarti memastikan bahwa sistem pendidikan, ekonomi, dan politik tidak bertentangan dengan prinsip keadilan ilahiah. Ini tentu membutuhkan kerja kolektif, ijtihad sosial, dan keberanian moral. Islam Berkemajuan menolak fatalisme. Islam Berkemajuan mendorong perubahan berbasis ilmu dan amal. Tauhid bukan alasan untuk pasrah, tetapi dorongan untuk berikhtiar maksimal.
Pertanyaan paling penting dalam diskursus ini bukanlah tentang orang lain, melainkan tentang diri kita sendiri. Apakah kita sudah menjadikan Allah sebagai satu-satunya orientasi hidup? Ataukah kita masih menyimpan “berhala-berhala modern” dalam bentuk ambisi, gengsi, dan kepentingan sempit?
Tauhid murni menuntut konsistensi antara iman dan tindakan, serta tidak mentolerir kemunafikan sosial di mana religius di masjid, tetapi abai terhadap keadilan. Individu yang rajin beribadah, tetapi lalai terhadap amanah publik. Memperluas tauhid berarti memperdalam kejujuran spiritual sekaligus memperluas tanggung jawab sosial.
Mewujudkan akidah Islam Berkemajuan bukan proyek sesaat, melainkan suatu perjalanan panjang untuk membangun kesadaran kolektif bahwa tauhid adalah fondasi peradaban. Dari tauhid lahir ilmu, dari ilmu lahir amal, dan dari amal lahir kemajuan yang bermakna.
Jika tauhid dipahami secara sempit, maka mungkin hanya melahirkan kesalehan personal. Tetapi jika tauhid diperluas secara substantif, maka akan melahirkan masyarakat yang adil, beradab, dan bermartabat. Islam Berkemajuan menantang kita untuk tidak berhenti pada slogan. Islam Berkemajuan mengajak kita menghidupkan tauhid dalam seluruh dimensi kehidupan, yaitu ekonomi, politik, pendidikan, budaya, dan teknologi.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun mendalam yaitu sudahkah kita benar-benar menempatkan Allah sebagai satu-satunya pusat orientasi hidup? Jika ya, maka tidak ada ruang bagi ketidakadilan, keserakahan, dan penghambaan kepada selain-Nya. Di situlah tauhid murni menemukan maknanya dimana bukan hanya sebagai keyakinan, tetapi sebagai kekuatan yang menggerakkan sejarah.

