Menjaga Ilmu di Era Instan
Penulis: M. Saifudin, Pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Sangen
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah menghadapi medan yang berbeda dari masa awal kelahirannya. Jika pada fase Mbah Kiyai Ahmad Dahlan gerakan ini fokus memurnikan ajaran Islam dari praktik takhayul, bid‘ah, dan khurafat (TBC), maka pada masa kini tantangannya lebih luas, bagaimana menguatkan agama sekaligus memimpin perkembangan ilmu dan peradaban.
Mbah Dahlan dalam berdakwah selalu menampilkan sikap cerdik dan santun. Hal itu tercermin dalam berbagai kisah perjalanan hidupnya. Ia tidak pernah bersikap reaktif; ketenangannya lahir dari kedalaman ilmu yang ia miliki. Sejak muda beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama di Kauman dan memperdalam ilmu agama hingga ke Mekkah, berguru kepada para ulama besar. Di sana ia mendalami hadis, fikih, ushul fikih, tafsir, dan berbagai disiplin keislaman lainnya. Pada saat yang sama, ia juga menyaksikan perkembangan sistem pendidikan modern yang mulai tumbuh pada masa kolonial, lalu mengadopsi metode-metode pengajaran yang lebih teratur dan sistematis untuk kemajuan umat.
Bekal keilmuan yang mendalam sekaligus keterbukaannya terhadap pembaruan itulah yang membuat langkah tajdidnya tidak meledak-ledak, tetapi terarah dan penuh hikmah. Ketika menjumpai praktik keagamaan yang bercampur takhayul, bid‘ah, dan khurafat (TBC), beliau tidak serta-merta menyalahkan. Ia mengajak murid-muridnya kembali membuka Al-Qur’an, membaca ayat-ayatnya berulang-ulang dengan pemahaman yang mendalam, lalu mendiskusikannya untuk diamalkan dalam kehidupan nyata. Dari proses pendidikan yang dialogis dan reflektif itulah tajdid tumbuh. Muhammadiyah pun hadir sebagai gerakan yang meneguhkan tauhid, mencerahkan nalar, dan memajukan peradaban umat manusia.
Sejak awal, Muhammadiyah menempuh jalan itu: kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus membangun sekolah, rumah sakit, dan tata kelola organisasi yang modern. Agama tidak berhenti pada wacana dan teori, tetapi hadir dalam kerja nyata. Tajdid tidak hanya disampaikan melalui ceramah, melainkan diwujudkan dalam sistem pendidikan, pelayanan kesehatan, dan gerakan sosial.
Kini hasilnya dapat kita lihat. Amal Usaha Muhammadiyah berkembang luas. Rumah sakit PKU dan ‘Aisyiyah melayani masyarakat tanpa ada diskriminasi. Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah tersebar di berbagai daerah bahkan di mancanegara. Dalam bidang falak, sistem hisab menunjukkan konsistensi metodologis yang diakui luas. Di ranah kebencanaan dan filantropi, Muhammadiyah juga tampil terdepan.
Semua ini menunjukkan satu hal, bahwasanya persyarikatan Muhammadiyah kuat dalam manajemen, pelayanan sosial, dan rasionalitas keagamaan. Fondasinya kokoh.
Namun abad kedua menuntut langkah yang lebih dalam. Bukan lagi sekadar memperluas amal usaha, melainkan memperkuat tradisi keilmuan yang menjadi ruh gerakan. Seiring dengan besarnya institusi yang dimiliki, kaderisasi ulama yang mendalami turats (kitab kuning) sekaligus mampu berdialog dengan ilmu pengetahuan modern menjadi semakin penting.
Di tengah derasnya arus digital, cara generasi muda belajar agama pun berubah. Fikih, akidah, bahkan tafsir kini banyak dikenal bukan lagi dari majelis taklim atau pesantren, melainkan dari potongan video singkat, unggahan media sosial, hingga konten yang didorong oleh algoritma. Fenomena ini tidak bisa dihindari, tetapi ia membawa konsekuensi serius: ilmu kerap hadir secara instan, terpotong, dan dangkal, sering kali terlepas dari sanad dan kedalaman rujukan. Otoritas keilmuan pun perlahan bergeser, bukan lagi diukur dari proses belajar yang panjang dan disiplin, melainkan dari jumlah pengikut serta jangkauan tayangan. Karena itu, Muhammadiyah sebagai gerakan keilmuan dan dakwah memiliki tanggung jawab untuk meneguhkan kembali tradisi sanad, memperdalam kajian, dan menjaga etika ilmiah, agar agama tidak sekadar menjadi konten, tetapi tetap menjadi ilmu yang membimbing dengan benar.
Tradisi keilmuan itu sejatinya sudah hidup di lingkungan Muhammadiyah. Pesantren, Majelis Tarjih, pengajian Ahad pagi, berbagai forum kajian, hingga lembaga pendidikan telah melahirkan banyak kader yang memiliki dasar ilmu agama yang kuat. Ini adalah modal besar yang patut disyukuri. Namun, di tengah perubahan zaman yang cepat, penguatan tradisi tersebut perlu dilakukan secara lebih terarah dan berkesinambungan. Pendalaman kitab-kitab turats, pembinaan sanad keilmuan, serta ruang dialog yang sehat antara ilmu agama dan sains perlu terus diperluas agar wibawa keilmuan Muhammadiyah semakin kokoh.
Muhammadiyah selama ini telah membuktikan diri sebagai gerakan amal yang tertata dan modern dalam manajemen. Tantangan berikutnya adalah menyatukan kedalaman tradisi dengan keluasan pandangan zaman. Ilmu agama tidak cukup hanya dijaga, tetapi harus menjadi penuntun arah perkembangan sains dan peradaban. Sebaliknya, kemajuan sains juga perlu memperkaya cara kita memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara lebih relevan dan membumi.
Pesantren Muhammadiyah memegang peran yang sangat menentukan. Ia bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang kaderisasi yang menyiapkan arah masa depan. Di dalamnya, ilmu alat, tafsir, fikih, akhlak, dan halaqah tahfizh ditempa secara serius, sekaligus dipertemukan dengan sains dan teknologi yang terus berkembang. Dari perjumpaan itulah diharapkan lahir ulama berkemajuan, figur yang kukuh dalam tauhid, mendalam ilmunya, sekaligus terbuka dan percaya diri menghadapi perubahan zaman.
Jika pada abad pertama Muhammadiyah dikenal karena daya dobrak amal usahanya, maka pada abad kedua kekuatannya akan sangat ditentukan oleh mutu keilmuan kader-kadernya. Amal usaha yang besar memerlukan fondasi ilmu yang dalam. Ketika tradisi klasik yang kokoh bertemu dengan pemikiran modern yang luas dalam diri seorang kader, di sanalah wibawa Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu akan benar-benar terasa.
Karena itu, pesantren Muhammadiyah bukan pelengkap dalam struktur gerakan, melainkan simpul masa depan. Di sanalah benih-benih ulama disemai, bukan hanya untuk menjaga ajaran, tetapi untuk menuntun umat di tengah perubahan zaman. Jika ikhtiar ini dijaga dengan kesungguhan, maka dari rahim pesantren itulah Muhammadiyah akan terus melahirkan generasi yang bukan hanya paham agama, tetapi mampu memberi arah bagi peradaban.Top of Form

