Menjadi Muslim Futurist yang Meneguhkan dan Mencerahkan

Publish

2 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
330
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Menjadi Muslim Futurist yang Meneguhkan dan Mencerahkan

Penulis: Nur Ngazizah, Mahasiswa Doktoral UAD, Dosen UMPWR

Selamat datang di tahun 2026. Kita tidak sedang memasuki sekadar pergantian angka di kalender, melainkan melangkah ke dalam era disrupsi yang semakin matang. Di tahun ini, kecerdasan buatan (AI) bukan lagi wacana futuristik, melainkan "rekan kerja" sehari-hari. Ekonomi global semakin terfragmentasi, dan kebisingan digital mencapai puncaknya.

Di tengah lanskap yang serba cepat dan seringkali membingungkan ini, pertanyaan mendasar bagi kita sebagai warga Persyarikatan dan umat Islam secara umum adalah: Bagaimana kita menavigasi tahun ini? Apakah kita hanya akan menjadi buih yang terbawa arus algoritma, atau menjadi arsitek peradaban yang berdaya?

Jawabannya tidak perlu dicari di Silicon Valley, melainkan dengan kembali menggali "teknologi langit",Al-Qur’an, yang dipadukan dengan wawasan sains modern. Mari kita bedah strategi kehidupan ("Life Blueprint") seorang Muslim untuk satu tahun ke depan melalui tiga pilar strategis.

1. Sanitasi Indra dan Integritas Kognitif (Protokol Al-Isra’: 36)

Langkah pertama di 2026 adalah menyelamatkan "pintu masuk" jiwa kita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 36: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."

Dalam konteks neuroscience modern, ayat ini adalah peringatan keras tentang kesehatan mental dan kognitif. Kita hidup di era "Ekonomi Atensi," di mana mata dan telinga kita dijajah oleh konten singkat yang memicu dopamin instan namun menumpulkan daya kritis. Otak yang terus-menerus terpapar "sampah informasi" akan mengalami penurunan fungsi prefrontal cortex, bagian otak yang bertugas mengambil keputusan bijak.

Maka, agenda pertama tahun ini adalah melakukan "Audit Sensorik". Seorang Muslim yang berkemajuan tidak menelan mentah-mentah setiap notifikasi yang masuk. Kita harus menerapkan filter Tabayyun Scientific. Saring apa yang kita dengar dan lihat. Jika pendengaran dan penglihatan kita dipenuhi dengan hal-hal positif dan ilmiah, maka "Hati" (Al-Fu’ad) akan memprosesnya menjadi kebijaksanaan. Sebaliknya, jika inputnya sampah, outputnya adalah kegelisahan. Jadikan tahun ini sebagai tahun detoksifikasi digital: kurangi scrolling nirfaedah, perbanyak literasi bermakna.

2. Aktivasi Bio-Spiritualitas (Spirit At-Tin: 4)

Seringkali kita merasa minder atau insecure menghadapi persaingan global. Padahal, Allah telah menegaskan dalam QS. At-Tin ayat 4 bahwa manusia diciptakan dalam "Ahsan Taqwim" (bentuk yang sebaik-baiknya).

Ini bukan sekadar pujian fisik, tapi fakta biologis. Riset epigenetik terbaru menunjukkan bahwa "software" tubuh kita bisa ditingkatkan kinerjanya melalui kebiasaan spiritual. Ibadah bukan sekadar ritual gugur kewajiban, tapi sebuah mekanisme "bio-hacking" tercanggih. Gerakan shalat yang tuma’ninah melancarkan aliran darah ke otak; puasa sunnah memicu autophagy (pembersihan sel rusak); dan membaca Al-Qur’an terbukti menyeimbangkan gelombang otak Alpha yang menenangkan.

Untuk 2026, berhentilah memandang tubuh dan agama sebagai dua hal terpisah. Jadikan tubuh Anda kendaraan yang tangguh untuk beribadah. Jaga pola makan (halalan thayyiban), jaga pola tidur sesuai sunnah (tidur awal, bangun awal), dan sadari bahwa Anda didesain untuk menjadi juara, bukan pecundang.

3. Etos Kerja "Tri-Partite Surveillance" (Mandat At-Taubah: 105)

Visi tanpa eksekusi hanyalah halusinasi. Bagaimana menerjemahkan potensi diri menjadi karya nyata? Peganglah QS. At-Taubah ayat 105: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu..."

Ayat ini menawarkan konsep manajemen kinerja yang jauh lebih tinggi dari KPI perusahaan mana pun. Kita bekerja di bawah tiga lapis pengawasan (surveillance):

Allah: Menuntut keikhlasan dan integritas (bekerja rapi meski tak ada atasan).
Rasul: Menuntut standarisasi kualitas sesuai sunnah (profesional, jujur, cerdas).
Orang-orang Mukmin: Menuntut dampak sosial. Karya kita harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Di tahun 2026, seorang Muslim tidak boleh bekerja "asal jadi". Kita harus menjadi Khoiru Ummah (Umat Terbaik) yang menjadi produsen, inovator, dan pemberi solusi, bukan sekadar konsumen. Ingat, Allah, Rasul, dan kaum mukminin akan melihat. Ini adalah dorongan untuk menciptakan legacy. Buatlah program kerja tahunan yang terukur: skill apa yang akan dikuasai tahun ini? Proyek sosial apa yang akan digulirkan?

Menghadapi 2026, mari kita tinggalkan sikap reaktif dan mulai bersikap proaktif-strategis. Mulailah hari dengan rutinitas Subuh yang kuat untuk menata hati, isi siang dengan kerja profesional yang berstandar "langit", dan akhiri hari dengan evaluasi diri.

Jadilah pribadi yang Meneguhkan iman di tengah gempuran zaman, dan Mencerahkan semesta dengan karya nyata. Karena pada akhirnya, misi terbesar kita bukanlah sekadar bertahan hidup, melainkan mempersaksikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang membangun peradaban. Selamat bekerja, selamat berkarya di tahun 2026.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengurai Kemuliaan Ibu dari Ayat-Ayat Penciptaan Oleh: Wakhidah Noor Agustina, S.Si., Sekretaris Ma....

Suara Muhammadiyah

13 December 2025

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko LPCRPM PPM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Menyimak acara seminar via z....

Suara Muhammadiyah

26 February 2024

Wawasan

Oleh: Prima Trisna Aji, Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang Menje....

Suara Muhammadiyah

3 June 2025

Wawasan

Adabul Mar’ah Fil Islam Adabul Mar’ah Fil Islam artinya ‘Adab Perempuan dalam Isl....

Suara Muhammadiyah

22 April 2024

Wawasan

Outlook Microfinance Muhammadiyah 2024 Oleh: Agus Yuliawan, Direktur Eksekutif Induk Baitut Tamwil ....

Suara Muhammadiyah

29 December 2023