Manusia: Ruh, Jiwa dan Badan

Publish

25 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
41
Ilustrasi

Ilustrasi

Manusia: Ruh, Jiwa, dan Badan

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah 

Komposisi manusia dalam pandangan hidup Islam dipahami sebagai kesatuan ruh, jiwa (nafs), dan badan yang masing-masing memikul amanah dan kecenderungan tersendiri. Ruh mengandung daya ‘aqliyyah yang memungkinkannya menangkap kebenaran dan menerima cahaya ma‘rifat; jiwa rendah membawa dorongan hawa nafsu yang cenderung pada keakuan dan kelalaian; sedangkan badan menjadi alat penginderaan yang menghubungkan manusia dengan alam zahir.

Ketiganya bukan unsur yang berdiri sendiri, melainkan terhimpun dalam satu kesatuan fitrah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang memantulkan tanda-tanda semesta.

Manusia disebut sebagai ‘alam kecil (al-‘alam al-saghir), kerana dalam dirinya terhimpun isyarat dari dua alam: alam shahadah dan alam ghaib. Unsur-unsur jasmaninya—yang dalam khazanah klasik dikaitkan dengan lendir, darah, empedu, dan kemurungan hati—berkorespondensi dengan unsur air, tanah, udara, dan api.

Namun keterkaitan ini bukan sekadar penjelasan kosmologis, melainkan penegasan bahawa tubuh manusia terjalin dengan tatanan ciptaan. Pada saat yang sama, ruh dan nafs mengisyaratkan dimensi ukhrawi: ruh berkait dengan keridhaan Ilahi yang menjadi hakikat surga, sedangkan nafs yang liar menyerupai neraka, yakni keadaan keterjauhan dari rahmat-Nya.

Surga dan neraka dalam kerangka ini bukan hanya realitas eskatologis yang menanti di akhirat, tetapi juga memiliki pantulan eksistensial di dunia. Ruh orang beriman memantulkan ketenangan ilmu dan cahaya keyakinan; ia merasakan “surga” berupa kedamaian makrifat dan kedekatan kepada Allah.

Sebaliknya, nafs yang dibiarkan menguasai diri melahirkan kegelisahan, kekeliruan, dan tabir yang menghalangi hati dari Tuhan—suatu “neraka” batin yang menyiksa sebelum datangnya hari pembalasan.

Sebagaimana pada Hari Kebangkitan seorang mukmin dibersihkan dari neraka sebelum memasuki surga, demikian pula dalam kehidupan dunia ia mesti membebaskan diri dari kungkungan nafs sebelum mencapai iradah yang murni. Iradah yang sejati berakar pada ruh, bukan pada dorongan hawa.

Jalan pembebasan itu ditempuh dengan meniti Syari‘at, kerana hukum Ilahi bukan sekadar aturan lahiriah, melainkan jalan tazkiyah yang menertibkan jiwa dan menguatkan ruh agar layak menerima limpahan ma‘rifat.

Maka, mengenal Allah di dunia, berpaling dari segala selain-Nya, dan istiqamah di atas jalan-Nya adalah bentuk jihad batin yang menentukan keadaan akhir manusia. Ruh yang dikuatkan oleh akal yang tunduk kepada wahyu akan menuntun pemiliknya menuju “surga” kedekatan, sementara nafs yang ditundukkan menjadi kendaraan, bukan penguasa.

Inilah perjuangan berterusan para pencari Tuhan: tidak mengendur dalam mujahadah melawan jiwa rendah, sehingga rahasia Ilahi yang bersemayam dalam rumah ruh dan akal dapat tersingkap dengan jernih.


Sumber: Al Hujwiri, Kasyful Mahjub: Buku Daras Tasawuf Tertua, Pernj: Suwarjo Muthary & Abdul Hadi WM, Mizan: 2015, hlm. 197


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Saling Menasihati dalam Hidup Bertetangga Oleh: Mohammad Fakhrudin Topik “Memelihara Kehorma....

Suara Muhammadiyah

28 August 2025

Wawasan

Manifestasi Pengalaman Agama Oleh: Prof Dr Syamsul Anwar, MA Manifestasi pengalaman agama ada yang....

Suara Muhammadiyah

14 June 2024

Wawasan

Refleksi Hardinas dan Jembatan Emas Pendidikan Oleh: Adam Dahlanisme, Pascasarjana UMS Tujuan Pend....

Suara Muhammadiyah

2 May 2024

Wawasan

 KPI Digital Microfinance Muhammadiyah  Oleh : Putro Prihatmanto, S.H Dalam mengelo....

Suara Muhammadiyah

22 September 2023

Wawasan

Amal Shalih Sebagai Bekal Akhirat  Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Dalam kehidupan....

Suara Muhammadiyah

31 December 2024