Ketua Nasyiatul Aisyiyah Sukoharjo Menjadi Fasilitator Kegiatan Internasional

Publish

25 April 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
738
Foto Istimewa

Foto Istimewa

SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Sukoharjo, Ninin Karlina, menjadi salah satu fasilitator dalam kegiatan internasional bertajuk Unconference. Kegiatan tersebut diadakan oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) UGM di Hotel UGM, Yogyakarta, Kamis-Jumat (24-25/4).

Dalam kegiatan yang bertema Polarization and Its Discontent in the Southern Hemisphere: Mitigation Measures, Strategies and Policies tersebut, Ninin mewakili Peace Generation menjadi fasilitator di sesi Civil Society/Faith-Based Organizations.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk memitigasi polarisasi di tengah masyarakat yang semakin menguat, dengan mendatangkan praktisi dan ahli dari berbagai daerah di Global South, meliputi Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Beberapa kampus dari Amerika, Eropa, dan Australia turut hadir, di antaranya Harvard University, Los Angeles University Colombia, University of Birmingham UK, dan University of Western Australia. Selain kampus, hadir pula perwakilan pemerintahan dari Kementerian Keagamaan dan Kementerian Hukum dan HAM, serta berbagai organisasi sipil.

Ninin menyebut, hal ini ia gunakan sebagai sarana untuk membumikan, memperluas, dan menginternasionalisasi ideologi Muhammadiyah di berbagai forum eksternal Muhammadiyah.

Mengutip Tanfidz Muktamar Muhammadiyah ke-48, ia menyebut bahwa Muhammadiyah perlu memainkan perannya bukan saja pada tingkat nasional tetapi juga pada tingkat global. Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar untuk membangun tata kehidupan global yang adil, damai dan sejahtera. Muhammadiyah harus hadir untuk menampilkan wajah Islam yang benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan li al-alamin).

“Masyarakat Islam Indonesia memiliki jati diri Islam yang moderat, ramah, dan santun. Akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini muncul fenomena perilaku beragama yang keras dan ekstrem. Cara pandang keagamaan tersebut tentu tidak positif bagi kepentingan ukhuwah internal umat Islam maupun bagi persatuan bangsa, lebih-lebih dalam kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia yang majemuk. Di sinilah pentingnya cara beragama yang benar-benar moderat secara autentik di tubuh umat Islam maupun agama lain untuk tidak jatuh pada posisi dan sikap ekstrem,” ujar Ninin.

Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah perlu mendorong nilai-nilai yang damai dan berkeadilan. Di tengah konflik global yang terus memanas, Indonesia perlu memainkan peran politik diplomasi untuk membantu mengurangi eskalasi dan dampak konflik.

“Muhammadiyah sebagai organisasi Islam dengan sejarah yang cukup panjang, sumber daya yang lengkap dan cakap, serta jaringan internasional yang luas akan ikut serta secara aktif membantu usaha pemerintah untuk memainkan peran juru damai global melalui politik bebas-aktif, dengan ikut menyediakan sumber daya dan jaringan yang dimiliki,” imbuhnya. (Yusuf/m)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Baitul Arqam Pimpinan Ranting 'Aisyiyah Sendangtirto Utara ( PRA STU ) ....

Suara Muhammadiyah

17 January 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pada esensinya, puasa sebagai ibadatu tarbawiyah (ibadah pendidi....

Suara Muhammadiyah

24 February 2026

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Unversitas  Malaysia Perlis bersama Universitas Muhammadiyah Sumate....

Suara Muhammadiyah

7 December 2024

Berita

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah — Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fathurrahman ....

Suara Muhammadiyah

23 November 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhamamdiyah — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali menorehkan ....

Suara Muhammadiyah

24 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah