Kemandirian di Tengah Ketergantungan yang Direkayasa

Publish

7 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
120
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Kemandirian di Tengah Ketergantungan yang Direkayasa

Oleh: Roehan Usman, Pengasuh PP Ibnul Qoyim C Anggota Muhammadiyah Patuk Gunungkidul

Firaun dan kroninya berhasil menciptakan ketergantungan rakyat Mesir melalui kekuasaan yang berlebihan di genggaman mereka. Dengan angkuh, Firaun bahkan mengaku sebagai tuhan, seolah apa yang berada dalam kekuasaannya akan abadi. Kesombongan ini menutup mata dan hati terhadap kenyataan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas penindasan pada akhirnya akan runtuh.

Nabi Musa hadir sebagai sosok yang langsung menghujam pusat lingkaran kekuasaan tersebut. Misi perubahannya jelas: menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai lawan dari kebobrokan serta kesewenang-wenangan yang selama ini dijalankan oleh Firaun dan rezimnya.

Dalam teori perubahan ketatanegaraan, revolusi dipahami sebagai bentuk perubahan sosial yang cepat dan mendasar, yang merombak sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat dalam urusan politik, ekonomi, dan social dalam waktu singkat. Revolusi sering kali dipicu oleh konflik atau ketidakpuasan massal, baik yang direncanakan, seperti Revolusi Industri, maupun yang bersifat spontan. Revolusi menuntut perubahan struktural secara total, sebagaimana terlihat dalam Revolusi Prancis.

Namun, Mesir pada masa Firaun tidak berubah melalui gerakan massa yang revolusioner. Perubahan itu terjadi melalui tangan Tuhan, yang bekerja melalui sosok seorang Musa.

Kisah seorang siswa berusia sepuluh tahun di Nusa Tenggara Timur yang memilih mengakhiri hidupnya karena persoalan biaya sekolah adalah fragmen tragis yang menampar nurani kemanusiaan bangsa ini bagi siapa pun yang masih mau merasa. Peristiwa ini menjadi sinyal adanya ketidakberesan yang serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sesuatu yang seharusnya segera diluruskan. Ia mengingatkan pada kisah Nabi Musa yang berani menegur pusat kekuasaan Mesir.

Dalam cerita Firaun dan Mesir, berbagai bencana diturunkan: taufan atau banjir besar yang melanda negeri, serangan belalang yang merusak tanaman dan harta benda, wabah kutu atau ulat yang menyerang manusia dan hewan, wabah katak yang memenuhi ruang hidup hingga tempat tidur dan makanan, serta berubahnya Sungai Nil dan sumber air lainnya menjadi darah, sehingga tak lagi dapat diminum.

Semua itu terasa mirip dengan peristiwa yang dialami bangsa ini: banjir yang terjadi hampir setiap tahun beserta bencana ikutannya, gagal panen dengan beragam penyebab, pandemi yang terkesan direkayasa demi keuntungan, musibah gawai yang begitu masif hingga merusak generasi muda, serta darah anak bangsa yang tertumpah karena faktor-faktor yang kerap dianggap sepele.

Lantas, mungkinkah seorang anak kecil yang memilih gantung diri itu merupakan simbol Musa modern, sebuah jeritan sunyi yang memaksa kita menoleh dan bertanya: ada apa yang salah di negeri ini?

Pemimpin negeri ini pernah menyampaikan argumennya dengan meminjam istilah tongkat Nabi Musa. Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan di benak saya, terlebih ketika sang pemimpin mengundang para profesor, bahkan telah diagendakan pula untuk mengundang para kiai, ulama, serta pimpinan pondok pesantren ke Istana Negara. Apakah situasi ini dapat dianalogikan dengan kisah Firaun yang mengundang para tukang sihir ke istananya untuk dimintai dukungan, demi mengalahkan Nabi Musa dan menggagalkan misinya agar ia tetap bercokol di tampuk kekuasaan?

Betapa banyak kebijakan pemimpin negeri ini yang mendapatkan penolakan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kritik datang dari berbagai arah, ada yang bersifat konstruktif, ada pula yang destruktif, disertai bukti-bukti konkret yang sulit dibantah. Namun, dengan beragam argumen dan cara, kritik-kritik tersebut kerap dimentahkan. Situasi ini mengingatkan pada kisah para tukang sihir Firaun yang justru mengakui kebenaran Nabi Musa. Alih-alih melakukan koreksi, Firaun semakin ngawur dalam membuat kebijakan, hingga pada akhirnya muncul keputusan ekstrem untuk memusnahkan Bani Israel.

Jika upaya mengumpulkan para profesor, bahkan para ulama dan kiai, dianalogikan dengan kisah Firaun yang mengundang para tukang sihir yang kemudian terbelah menjadi dua

golongan: sebagian mengikuti Firaun karena takut kepadanya, dan sebagian mengikuti Nabi Musa karena takut kepada Tuhannya, maka hasil akhirnya dapat dibaca dengan jelas. Semua upaya tersebut berujung pada satu arah: siapa yang mendukung akan dijamin hidupnya, sedangkan yang menolak akan disingkirkan. Gambaran “tiang gantungan” di sini tentu bersifat metaforis, namun simbol itu terasa diwakili oleh tragedi seorang siswa berusia sepuluh tahun yang memilih mengakhiri hidupnya, seolah tidak ada pilihan lain baginya.

Ulasan-ulasan dari sahabat-sahabat seperti Jamet, Nanang, dan lainnya dalam diskusi mengenai carut-marut kondisi negeri ini, kemudian dituangkan secara menarik dalam sebuah tulisan oleh Nur Hadi Ihsan (maaf, gelar-gelar tidak saya cantumkan). Jika dicermati pula kritik Rocky Gerung, muncul satu penekanan penting: banyak analisis telah dilakukan, tetapi semuanya adalah analisis atas sesuatu yang sudah terjadi. Seorang siswa sekolah dasar di NTT telah memilih mati dengan cara gantung diri. Yang belum banyak dibahas adalah analisis tentang bagaimana membatalkan agar peristiwa itu tidak terjadi, atau bagaimana mencegahnya sejak awal. Mudah-mudahan keadaan tidak berlanjut seperti yang dikhawatirkan.

Hakekat Kemandirian

Kembali ke tema utama tulisan ini, yaitu kemandirian. Kemandirian sejati adalah kemampuan untuk berdiri tegak dengan hanya bergantung kepada-Nya, melalui karunia yang telah Dia berikan, yakni diri kita sendiri beserta seluruh potensi yang menyertainya. Seperti disinggung di awal, ketergantungan sebagai lawan dari kemandirian, bukanlah sesuatu yang terjadi secara alamiah semata, melainkan sering kali sengaja diciptakan.

Ketergantungan dan ketakutan yang direkayasa (manufactured dependency and fear) merupakan teknik manipulasi sosial, ekonomi, atau psikologis, di mana pihak berkuasa baik pemerintah, korporasi, maupun elite tertentu secara sengaja menciptakan narasi ancaman atau kerentanan untuk mengendalikan perilaku publik. Fenomena ini kerap digunakan untuk melegitimasi kebijakan otoriter, menjual kepentingan tertentu, atau mempertahankan struktur kekuasaan dengan membuat individu merasa tidak aman tanpa perlindungan mereka.

Ketergantungan dan ketakutan juga merupakan indikator lemahnya keyakinan, baik iman kepada Tuhan maupun keyakinan terhadap diri sendiri (self-confidence). Berbagai perspektif psikologis dan spiritual menunjukkan bahwa seseorang dengan keyakinan yang kuat cenderung memiliki ketenangan dan kemandirian, sedangkan keraguan melahirkan ketergantungan dan ketakutan akan masa depan.

Dalam konteks spiritual, ketakutan yang berlebihan sering dikaitkan dengan kurangnya sikap tawakal. Kegelisahan terhadap apa yang telah terjadi dan kecemasan berlebihan terhadap apa yang belum terjadi menunjukkan kurangnya keyakinan bahwa ada kekuatan yang lebih besar Tuhan yang mengatur rezeki dan nasib manusia. Ketaatan yang didasarkan semata- mata pada rasa takut, bukan pada cinta dan kesadaran, kerap dipandang sebagai tanda keyakinan yang belum dewasa.

Demikian pula, ketergantungan emosional atau ketergantungan pada sesama makhluk menunjukkan lemahnya kepercayaan terhadap diri sendiri maupun kepada Tuhan. Seseorang menjadi sulit bertindak mandiri, selalu mencari validasi dan rasa aman dari orang lain, dan akhirnya terjebak dalam relasi yang tidak sehat karena merasa tidak mampu berdiri sendiri.

Ketakutan dan ketergantungan sejatinya adalah mekanisme pertahanan diri ketika seseorang merasa rapuh. Dengan memperkuat iman dan keyakinan diri, manusia dapat melepaskan ketergantungan emosional serta ketakutan irasional, lalu beralih menuju ketenangan dan kemandirian sejati.

Pertanyaannya kemudian: apakah Istana Negara sedang menjadi produsen ketergantungan dan ketakutan, khususnya di kalangan akademisi dan pemerhati umat? Mudah-mudahan tidak. Harapannya, justru Istana menjadi ruang yang memperkuat kemandirian, kebebasan berpikir, dan keberanian moral demi kemaslahatan bangsa.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Allah berfirman, “Apabila....

Suara Muhammadiyah

26 January 2024

Wawasan

Jelang Munas Satu Abad: Menyongsong Transformasi Kedua Majelis Tarjih (5) Oleh: Mu’arif Jika....

Suara Muhammadiyah

30 January 2024

Wawasan

Shalat dan Berkurban sebagai Wujud Syukur Oleh: Mohammad Fakhrudin Sebagai muslim mukmin menyadari....

Suara Muhammadiyah

25 May 2024

Wawasan

UMKM, Literasi dan Lingkungan  Oleh: Arief Budiman UMKM sering dianggap usaha skala kecil-ke....

Suara Muhammadiyah

11 January 2026

Wawasan

Oleh: Gunawan Trihantoro. Sekretaris Forum Kreator Era AI (FKEAI) Provinsi Jawa Tengah dan AMM ....

Suara Muhammadiyah

11 November 2024