JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Krisis lingkungan hidup global dan nasional saat ini semakin nyata dan berdampak luas. Demikian tegas Masyitoh Chusnan dalam Pengajian Ramadhan 1447 Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (28/2).
“Data menunjukkan bahwa kelompok yang paling terdampak dari krisis lingkungan adalah masyarakat miskin, perempuan, anak-anak, dan komunitas rentan lainnya,” beber Ketua PP ‘Aisyiyah itu.
Sebagai permisalan, banjir rob, hingga anomali siklon tropis yang terjadi di wilayah Khatulistiwa di Indonesia yang membentuk baseline iklim baru. “Dampaknya, selama periode 1 Januari-31 Desember 2025, tercatat 3.432 kasus, dan tertinggi adalah banjir sebanyak 1.693 kasus dan cuaca ekstrem 755 kasus,” sebutnya.
Selain itu program food estate telah mengonstruksi lahan tanaman monokultur yang merusak ekosistem lingkungan hutan. Aspek dampak dalam konstelasi ekosida tersebut tidak netral gender, perempuan dan anak memiliki kerentanan yang berlapis, seperti kurangnya ruang aman dan sanitasi layak.
“Peningkatan risiko kekerasan berbasis gender, beban pemulihan domestik hingga hilangnya sumber penghidupan bagi masyarakat adat,” tambahnya.
Dalam konteks Indonesia, degradasi lingkungan berkaitan erat dengan ketimpangan struktural, lemahnya tata kelola sumber daya alam, serta rendahnya kesadaran ekologis yang berakar pada nilai moral dan spiritual.
“Kerusakan lingkungan tidak semata persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan krisis etika, krisis tanggung jawab, krisis spiritual dan krisis kesalehan dalam relasi manusia dengan alam,” tegasnya.
Masyitoh menegaskan, IIslam memandang manusia sebagai khalifah fil ardh, yang memiliki amanah untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan kehidupan. Al-Qur’an dan Hadis banyak menegaskan larangan berbuat kerusakan (fasad) di bumi serta perintah untuk menjaga keseimbangan (tawazun)
“Oleh karena itu, kesalehan tidak cukup dimaknai secara individual dan ritual, tetapi harus diwujudkan dalam kesalehan sosial dan ekologis, yaitu sikap dan tindakan beragama yang berpihak pada pelestarian lingkungan, keadilan antargenerasi, serta perlindungan terhadap kelompok yang dilemahkan oleh krisis ekologis,” jelasnya.
Sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan, ‘Aisyiyah memiliki posisi strategis dalam membangun kesalehan ekologis berkeadilan. Menurutnya, perempuan tidak hanya menjadi kelompok yang paling terdampak oleh kerusakan lingkungan, tetapi juga aktor kunci dalam praktik pengelolaan sumber daya alam.
"Ketahanan keluarga, pendidikan nilai, serta gerakan sosial berbasis komunitas,” tandas Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMY) itu. (Cris)

