Bandara Kematian - Catatan Perjalanan

Publish

4 September 2024

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1344
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Bandara Kematian - Catatan Perjalanan

Oleh: Machnun Uzni, Wakil Sekertaris PWM Kaltim, Owner Sang Surya Wisata

Saya tuliskan ini sambil duduk-duduk di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan. Sembari sesekali melihat orang lalu lalang bergegas antri check in pesawat. Mereka bergegas takut tertinggal dan bersiap satu jam atau tiga puluh menit sebelum pesawat tinggal landas untuk terbang.

Bandara mengajarkan kepada kita akan kedisiplinan. Mengatur ritme waktu dengan tanpa pandang bulu. Ketika terlambat dan tertinggal, tiket hangus dan kita pun menyesal.

Kadangkala kita pun mengeluarkan amarah. Manakala pesawat delay berjam-jam tanpa kepastian. Kesabaran yang terkadang hanya diganti dengan sebungkus roti atau sekotak makanan.

“Para penumpang yang terhormat, harap masuk melalui pintu tiga untuk tujuan Yogyakarta. Demikian, suara petugas bandara memanggil menjadikan para penumpang beranjak dari kursinya.”

Bagaimana dengan bandara kematian kita?

Saatnya tiba. Mau tidak mau, suka tidak suka kita akan memasukinya. Keranda Airlines hanya dengan dua tujuan saja; surga atau neraka. Keberangkatannya tepat waktu, tidak bisa diajukan atau diundurkan. Perbekalannya hanyalah iman dan taqwa. Pilotnya Izroil, keberangkatan yang diiringi isak tangis istri, suami, anak kerabat dan keluarga. Tetangga dan sahabat pun mengenang, takziah menyampaikan duka cita.

Sudahkan kita mempersiapkan bandara kematian dengan sebaik-baiknya? Menyiapkan tiket agar tidak salah tujuan, menyiapkan limit waktu yang ada dengan kesiapan amal.

Andai ada delay kehidupan. Andai ada kematian yang ditangguhkan. Delay sebagai kesempatan akan perpanjangan waktu yang diberikan, maka tentu taubat adalah pilihan. 

Target amal kebaikan kita rapikan, tentang sedekah terbaik yang akan kita keluarkan, Al Quran yang rutin dibaca dan dikhatamkan, sholat malam yang dipaksa untuk dapat dikerjakan dan amal kesalehan lainnya sebagai perbekalan.

Bandara kematian, yang tidak tahu kapan akhirnya kita melakukan penerbangan. Yâ ayyatuhan-nafsul-muthma'innah Wahai jiwa yang tenang, irji‘î ilâ rabbiki râdliyatam mardliyyah kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. fadkhulî fî ‘ibâdî Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. wadkhulî jannatî dan masuklah ke dalam surga-Ku! ( Al Fajr; 27-30).

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Indera dan Akal dalam Pandangan Islam Oleh: Kumara Adji Kusuma, Dosen Universitas Muhammdaiyah Sido....

Suara Muhammadiyah

24 October 2025

Wawasan

Hikmah Syawalan: Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Ibadah Oleh: Tito Yuwono, Ph.D, Dosen....

Suara Muhammadiyah

24 April 2024

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko LPCRPM PPM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Menyimak acara seminar via z....

Suara Muhammadiyah

26 February 2024

Wawasan

OLYMPICAD: Merawat Keunggulan, Meneguhkan Nilai, dan Mengikat Silaturahim Generasi Islam Berkemajuan....

Suara Muhammadiyah

13 February 2026

Wawasan

Memahami Al-Qur`an dan Kitab Suci Lainnya Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universit....

Suara Muhammadiyah

3 April 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah