TULUNGAGUNG, Suara Muhammadiyah – Kelahiran Muhammadiyah sejak tahun 1912 tidak lain tidak bukan salah satu tujuannya menyemai benih kemaslahatan kepada umat dan bangsa. Karena itu, jangan sampai serampangan dalam mengurus organisasi terbesar di Indonesia ini.
“Memang Muhammadiyah itu amanat Allah, yang akan dihisab. Dihisab apanya?”, tanya Muhammad Busyro Muqoddas. Disambung lagi olehnya, yaitu dihisab dalam mengurus Muhammadiyah. “Dari Ranting sampai Pusat,” imbuhnya.
Di samping itu, hal terpenting lainnya yang dibentangkan Busyro dalam kesempatan itu, “Juga nanti (segala kiprah Muhammadiyah, red) akan dijadikan catatan sejarah oleh bangsa Indonesia,” tuturnya, saat Kajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung di Masjid Al Fattah Kepatihan, Tulungagung, Jawa Timur, Ahad (4/1).
Lebih kentaranya lagi, menyoal dakwah Muhammadiyah. “Muhammadiyah untuk semua,” kata Busyro. Maksudnya, kiprah dakwah Muhammadiyah yang diejawantahkan sesungguhnya tidak tersentral hanya di Muhammadiyah, tapi untuk semua lapisan masyarakat dan komunitas lainnya.
“Harus untuk semuanya, sampai yang non-Islam pun, itu kalau perlu diurusi, ya diurusi,” tutur Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut dengan benderang.
Pengejawantahan dakwah yang dilakukan Muhammadiyah bersifat melintas batas. Seluruh Tanah Air. “Ada di Papua, di Kupang. Muhammadiyah mengurusi sampai sana,” beber Busyro.
Dicontohkannya, bahwa di Papua Muhammadiyah mendirikan perguruan tinggi. “Yang mayoritas Kristen dan Katolik,” ungkapnya. Termasuk juga, di dalamnya ada amal usaha di bidang kesehatan, yakni pendirian rumah sakit.
"Belum lama ini digroundbreaking (Rumah Sakit PKU Muhammadiyah UNIMUDA Sorong, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, red)," singkapnya.
Semua itu, menurut Busyro, “Demi keadilan,” tegasnya, seraya menguatkan bahwa semangat Muhammadiyah itu hadir memberi untuk semua. Tentu saja, ini berlaku tidak hanya hari ini, akan tetapi berkelanjutan sampai di masa depan. (Cris)

