Hadirkan Komisioner Komnas Perempuan RI dalam Talkshow Ramadhan
MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Masih dalam rangkaian Ramadhan di Kampus (RDK), Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) kembali menggelar Talk-O Rama Talkshow Ramadhan. Dengan tema “Al-Qur’an dan Perempuan”, acara dilaksanakan pada Jumat (6/3) di Auditorium Kampus 1 UNIMMA dan menghadirkan Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D, Sekretaris Litbang Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah yang juga merupakan Komisioner Komnas Perempuan RI sebagai narasumber.
Dalam paparan yang berjudul ‘Al-Qur’an sebagai Kitab Pembebasan: Meneladani Spirit Nuzulul Qur’an untuk Martabat Perempuan’, Prof. Alimatul menjelaskan bahwa Al-Qur’an memandang perempuan sebagai makhluk yang memiliki kedudukan setara dengan laki-laki. “Sebagaimana laki-laki, perempuan juga makluk yang sempurna, punya peran di segala bidang dan juga mempunyai status yang sama. Islam juga empatik dalam melihat tugas reproduksi perempuan,” tuturnya.
Ia juga menegaskan prinsip kesalingan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan telah ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui berbagai ayat. “Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki peran sebagai hamba Allah yang ditegaskan dalam surah Adz Dzariyat ayat 56, sama-sama sebagai khalifah di bumi sebagaimana dalam Al Baqarah ayat 30, sama dalam penciptaan berdasarkan An Nisa ayat 1. Kemudian sama dalam hal bertanggungjawab atas apa yang diperbuat sesuai Al Maidah ayat 38,” jelasnya
Lebih lanjut, Prof. Alimatul mengatakan, meskipun Al-Qur’an telah mengajarkan nilai keadilan, dalam praktiknya masih banyak ketidakadilan gender yang terjadi di masyarakat. “Al Qur’an mengajarkan keadilan berbasis gender, tapi kenapa masih banyak ketidakadilan gender di masyarakat? Karena masih adanya tafsir-tafsir yang dipengaruhi nilai patriarkhi, misoginis, dan juga karena adanya kemalasan untuk belajar secara komphrehensif,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa sejumlah praktik yang berkembang di masyarakat sering dipengaruhi oleh tafsir yang tidak tepat, seperti praktik sunat perempuan yang menghambat hak-hak seksualitas, standar kecantikan yang menekan perempuan hingga menurunkan rasa percaya diri, hingga penggunaan alat kontrasepsi yang sering menimbulkan ketidaknyamanan bagi perempuan.
Prof. Alimatul juga menyoroti berbagai upaya yang telah dilakukan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam mendorong kesetaraan gender, di antaranya melalui berdirinya ‘Aisyiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah, pengakuan terhadap ulama perempuan dalam Majelis Tarjih, pelibatan perempuan dalam berbagai majelis dan lembaga Persyarikatan, serta keputusan keluarga sakinah yang progresif seperti penolakan perkawinan anak dan pembagian peran dalam keluarga.
Selain itu, ia menekankan bahwa nilai tauhid dalam Islam menjadi fondasi penting dalam membangun relasi yang setara antara laki-laki dan perempuan. “Tauhid berarti hanya Allah yang Maha Tinggi. Tidak ada manusia (laki-laki) yang boleh memposisikan diri sebagai ‘tuhan’ atau penguasa mutlak atas manusia lainnya (perempuan),” ungkapnya.

