SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Salah satu hasil Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta, Jawa Tengah yaitu dirumuskannya Risalah Islam Berkemajuan. Bagi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, konteks Islam Berkemajuan punya semangat Islam yang dibangun oleh Muhammadiyah.
Meski demikian, tidak dinafikan bilamana masing-masing kelompok punya taglinennya sendiri-sendiri. Namun, hal itu seharusnya tidak menjadi soalan, justru yang terpenting bagaimana mengamalkan substansi agama itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Saudara tidak usah mempertanyakan kok ada Islam Berkemajuan, Islam Nusantara. Ketika ada ungkapan itu, bukan dilihat dari Islam sebagai syariat. Tetapi Islam sebagaimana dipahami, diamalkan oleh pemeluknya,” tuturnya saat Tabligh Akbar Gema Kampus Ramadhan di Masjid Sudalmiyah Rais Universitas Muhammadiyah Surakarta, Senin (10/3).
Tafsir mengatakan, Islam Berkemajuan telah menjadi atmanya Muhammadiyah sejak periode awal. Menurutnya, waktu itu umat Islam dan bangsa Indonesia pada era keterbelakang karena dampak penjajahan oleh bangsa Belanda.
“Maka, Kiai Haji Ahmad Dahlan ingin umat Islam, ingin bangsa Indonesia terbebas dari kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan oleh penjajahan. Untuk bisa menjadi manusia yang maju, dua hal yang harus dibangun, pendidikan dan kesehatan,” katanya.
Di situlah konsentrasi Muhammadiyah di periode awal. Muhammadiyah meyakini, dua hal tersebut sebagai landasan utama untuk mewujudkan kehidupan umat dan bangsa yang jauh lebih baik dan berkemajuan.
“Dari awal konsentrasi Muhammadiyah pada dua bidang ini. Itu untuk membangun umat Islam, membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Bangsa yang terbebas dari keterbelakangan dan bangsa yang terbebas dari kemiskinan,” jelasnya.
Tafsir menyebut setidaknya ada lima karaktertsitik dari Islam Berkemajuan. Pertama, Berlandaskan pada Tauhid. Menurut Tafsir, agama Islam adalah penyerahan diri dengan tauhid kepada Allah.
“Islam adalah berserah diri kepada Allah, berserah diri dengan tauhid kepada Allah. Seorang Muslim sebelum mengamalkan yang lain-lain, tauhidnya harus dikuatkan dulu. Jangan sampai tauhid kita lemah. Karena tauhid adalah fondasi keislaman dan keimanan seseorang,” ucapnya.
Kedua, Mengembangkan Ijtihad dan Tajdid. Ijtihad sebagai mengerahkan kemampuan intelektual untuk memperoleh keputusan-keputusan hukum.
“Ijtihad diperlukan karena Islam sebagai syariat telah selesai, tidak ada Qur’an-Sunnah baru. Tapi, pemahaman Islam butuh penyesuaian perkembangan zaman. Islam harus sesuai dengan perkembangan modernitas, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Maka butuh ijtihad,” katanya.
Sementara, Tajdid memiliki arti makna sebagai pembaruan. Yakni pembaruan dalam bentuk pemurnian maupun dinamisasi dalam pemahaman dan pengamalan agama.
“Yang diperbarui bukan Qur’an, Hadisnya, tapi cara pandangnya, pemahamannya, dan penafsirannya (pemikirannya),” terangnya.
Ketiga, berdasarkan pada al-Qur’an dan al-Sunnah. “Itu sesuatu yang telah selesai. Qur’an telah final. Sunnah telah final,” katanya. Karena keduanya turun sejak 15 abad yang lalu, isinya sudah komprehensif untuk mengatur kehidupan. “Maka butuh perangkat ijtihad dan tajdid,” bebernya.
Keempat, Wasathiyah. Artinya adalah Islam agama wasathiyah (tengahan) yang menolak ekstremisme dalam beragama.
“Islam Muhammadiyah adalah berpaham Islam moderat. Tidak ekstrem kanan-kiri. Tapi Islam jalan tengah, karena Qur’an menyebut umat Islam adalah ummatan wasathan (umat jalan tengahan),” jelasnya.
Kelima, Mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
“Artinya Islam untuk siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Islam sebagai rahmat (kasih sayang) untuk semua. Sehingga, di mana pun ada seorang Muslim, di sanalah dia akan menebar rahmat bagi sekitarnya,” tandasnya. (Cris)