YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Suara Muhammadiyah merupakan majalah resmi milik Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang lahir sejak 1915. “3 Tahun setelah Muhammadiyah berdiri (1912),” ungkap Deni Asy’ari.
Inisiator pendiri SM, sebut Deni, yaitu Ahmad Dahlan bersama Fachroodin. Kala itu, Pemimpin Redaksi (hoofdredacteur) pertamanya Fachroodin. “(Beliau) termasuk sosok anak muda yang tidak suka dengan kemapanan,” katanya. Tapi, punya orientasi ke depan dengan visi genius.
“Itu yang kemudian mendirikan Majalah SM,” tambahnya. Pada awal kelahirannya, Deni menceritakan, kantor SM terletak di depan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Kala itu, konstruksi bangunannya masih amat sederhana.
“Ukuran sekitar 150x200m2, dua lantai. Di bawah bagian distribusi, sirkulasi, di atas bagian redaksi. Sangat kecil,” kenang Deni, sampai kemudian saat ini mampu mentereng dengan memiliki gedung menjulang lima lantai (Grha SM).
Titik awal kelahiran SM tidak lain karena ada vibrasi kesadaran kolektif hatta landscape kehidupan umat Islam kala itu tertinggal dan keterbelakang.
“Pada saat itu, masyarakat kita masyarakat yang buta huruf. Kalau penelitian menyebutkan paham teologi animisme (percaya dengan arwah),” singkap Direktur Utama SM itu dalam podcast yang tayang di chanel Youtube Muhammadiyah Channel, Senin (9/2).

Di situlah muncul gagasan pembaruan (tajdid) dengan melakukan pencerahan lewat piranti media. Yang kemudian dapat menyebarluaskan dan memajukan ajaran Islam sehingga bisa diserap oleh umat dan masyarakat secara luas.
“Tidak ada jalan lain untuk melakukan perubahan dan pencerahan selain menggunakan alat media. Maka mereka (Ahmad Dahlan dan Fachroddin) mendirikan Majalah SM,” bebernya.
Ditambahkan lagi oleh Deni, Majalah SM kala itu masih menggunakan Aksara Jawa. “Karena waktu itu memang segmen pasarnya Jawa,” ujarnya. Lebih-lebih, SM dikenal sebagai media komunitas.
“Dan waktu itu belum ada upaya untuk pengembangan lebih jauh,” menyebut penggunaan Aksara Jawa sampai tahun 1921. “Setelah itu, mulai ada perubahan menggunakan aksara Melayu,” tambahnya. Dan, pada tahun 1924, mulai diperkenalkan istilah Indonesia.
“Tujuannya media ini betul-betul sebagai pemersatu (muwahid),” kata Deni, yang menyingkap istilah Indonesia baru diproklamirkan saat sumpah pemuda tahun 1928. “Cita-cita Majalah SM menggunakan bahasa Indonesia sudah kuat waktu itu,” imbuhnya lagi.
Di sinilah menunjukkan, kehadiran Majalah SM sejak awal kelahirannya sudah menjelma sebagai media penceraha untuk membangkitkan semangat keberagamaan dan kebangsaan. (Cris)

