Saat Rasa Aman Menipis

Publish

2 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
288
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Saat Rasa Aman Menipis

Oleh: Nur Amalia, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UHAMKA

Kenaikan harga emas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir patut dibaca tidak semata sebagai gejala pasar, melainkan sebagai isyarat sosial yang mengandung makna lebih dalam. Dalam sejarah peradaban, emas kerap menjadi simbol perlindungan nilai. Ketika banyak orang kembali melirik emas, hal itu sering kali mencerminkan menurunnya rasa aman dan meningkatnya kebutuhan akan kepastian.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia hari ini, sinyal tersebut terasa dekat dengan realitas sehari-hari. Aktivitas ekonomi tetap berjalan, namun beban hidup dirasakan semakin berat. Daya beli tidak runtuh, tetapi melelahkan. Banyak keluarga menata ulang prioritas, mengencangkan ikat pinggang, dan memilih sikap lebih berhati-hati. Fenomena ini bukanlah kepanikan massal, melainkan kewaspadaan sosial yang tumbuh dari pengalaman konkret.

Secara global, emas dikenal sebagai safe haven asset, yaitu aset yang cenderung menguat di tengah ketidakpastian. Ketegangan geopolitik, inflasi yang fluktuatif, serta arah kebijakan ekonomi dunia yang belum sepenuhnya stabil mendorong masyarakat global mencari pegangan yang lebih aman. Dampak dari situasi ini turut dirasakan di dalam negeri, berkelindan dengan dinamika ekonomi nasional dan kondisi psikologis masyarakat.

Namun demikian, penting untuk ditegaskan bahwa kenaikan harga emas tidak serta-merta menandakan kehancuran ekonomi. Ia lebih tepat dibaca sebagai indikator meningkatnya kehati-hatian publik. Negara masih berjalan, institusi masih berfungsi, dan masyarakat tetap berikhtiar menjalani kehidupan. Yang sedang diuji bukan hanya kekuatan ekonomi, tetapi juga ketahanan sosial dan kedewasaan dalam menyikapi perubahan.

Dalam pandangan Islam, situasi yang menekan tidak seharusnya disambut dengan kepanikan, melainkan dengan sikap tawazun (keseimbangan) dan ta‘aqqul (kejernihan berpikir). Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak larut dalam ketakutan berlebihan, sekaligus tidak lalai dalam menghadapi kenyataan. Kewaspadaan yang sehat selalu disertai ketenangan dan kepercayaan kepada Allah SWT.

Fase-fase sulit dalam kehidupan sosial sering kali hadir tanpa hiruk-pikuk, tetapi melalui kelelahan yang perlahan. Di sinilah nilai kesederhanaan, kesabaran, dan solidaritas menemukan relevansinya. Banyak orang mulai belajar memilah kebutuhan, membatasi diri dari kebisingan informasi, serta merawat ketenangan batin. Bukan menimbun karena takut, tetapi menata kehidupan karena kesadaran.

Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa masa tekanan sering menjadi ruang pendewasaan. Dari situ lahir cara hidup yang lebih bijak, lebih berimbang, dan lebih berorientasi pada kemaslahatan bersama. Selama kejernihan berpikir, etika sosial, dan nilai keimanan tetap dijaga, fase ini bukan akhir dari harapan, melainkan proses menuju tatanan yang lebih matang.

Sikap yang Perlu Dijaga Umat di Tengah Keadaan yang Tidak Ringan

Pertama, menjaga kejernihan akal dan ketenangan hati dalam membaca realitas.

Kedua, menata kehidupan secara proporsional, sederhana, dan bertanggung jawab.

Ketiga, memperkuat ikhtiar yang disertai doa dan tawakal kepada Allah SWT.

Keempat, merawat solidaritas sosial dan empati, agar tekanan zaman tidak memudarkan nilai kemanusiaan.

Afirmasi Penguatan

Aku menghadapi zaman ini dengan iman dan kesadaran.

Aku berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tanpa panik dan tanpa putus asa.

Aku percaya, setiap kesulitan mengandung pelajaran dan jalan keluar.

Dengan pertolongan Allah SWT, aku melangkah tenang, menjaga martabat, dan menumbuhkan harapan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kekayaan Muhammadiyah Bukan Pada Asetnya, Melainkan Kesederhanaan Pemimpinnya Oleh: Moh Ramli, Pen....

Suara Muhammadiyah

25 November 2025

Wawasan

Islam Anjurkan Rekonsiliasi Antar Saudara Oleh : Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Uni....

Suara Muhammadiyah

19 March 2025

Wawasan

Influencer vs Ulama: Siapa yang Lebih Didengar Gen Z Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar ....

Suara Muhammadiyah

17 January 2026

Wawasan

Meneguhkan Marwah Masjid yang Memakmurkan Ummat: Catatan dari Akademi Marbot Oleh: Ahsan Jamet Hami....

Suara Muhammadiyah

9 June 2024

Wawasan

Muhammadiyah dan Politik; Sebuah Ketuntasan Sejarah! Oleh: Adrian Al-Fatih Membicarakan politik di....

Suara Muhammadiyah

23 November 2023