Rudal di Timur Tengah dan Api Polarisasi Kita
Penulis: M. Saifudin, Pengasuh PPM Sangen, Alumni Al Azhar Kairo
Beberapa hari terakhir, grup-grup medsos di Indonesia mendadak ramai dengan berita dan postingan potongan video serangan rudal yang saling berbalas di langit Timur Tengah. Ada yang tercengan dengan kecanggihan persenjataan Israel berbasis AI pada serangan yang meluluhlantakkan Teheran. Dan ada pula yang memuji kemampuan balasan rudal hypersonic Iran yang mampu menembus pertahanan lawan. Dalam hitungan menit, video itu berpindah dari satu grup ke grup lain, dari satu ponsel ke ponsel berikutnya.
Percakapan yang awalnya hanya berbagi informasi berubah menjadi perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai keberhasilan teknologi mutakhir, sementara yang lain mengklaim sebagai kemenangan simbolik bagi pihak lain. Tanpa disadari, konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia itu turut memanaskan ruang percakapan digital kita.
Fenomena ini memperlihatkan wajah baru perang di era medos. Eskalasi ketegangan tidak lagi berhenti di kawasan konflik, ia melintasi algoritma, potongan video, dan komentar netizen lalu masuk ke ruang percakapan publik di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Skala ruang digital Indonesia sendiri sangat besar. Laporan Digital 2026 Indonesia dari We Are Social dan Meltwater mencatat sekitar 180 juta warga Indonesia aktif menggunakan media sosial, dengan rata-rata waktu penggunaan lebih dari tiga jam per-hari. WhatsApp menjadi platform komunikasi paling dominan. Data DataReportal menunjukkan sekitar 91 persen pengguna internet Indonesia menggunakan WhatsApp setiap bulannya. Dalam ruang percakapan sebesar inilah narasi konflik global mudah menyebar dan membentuk persepsi publik.
Dunia memang tengah menyaksikan eskalasi baru di Timur Tengah. Iran meluncurkan serangan rudal yang mereka sebut sebagai Operation True Promise 4, aksi balasan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel. Sementara berbagai sistem pertahanan udara modern berusaha mencegatnya. Peristiwa ini dengan cepat menjadi tontonan global karena hampir setiap detiknya terekam kamera dan tersebar melalui media sosial.
Video dramatis tentang rudal yang melintas di langit malam, rekaman pencegatan di udara, hingga simulasi pertempuran digital beredar luas dan memancing emosi publik. Bagi sebagian orang, hal itu bukan lagi sekadar informasi tentang teknologi militer, tetapi simbol kemenangan atau kekalahan suatu pihak.
Perang modern bukan lagi soal rudal yang melintas di udara, tetapi sudah masuk ke dalam narasi yang melintasi ruang digital dan mengusik emosi publik. Di era media sosial, emosi sering kali terpancing lebih cepat daripada fakta sesungguhnya. Potongan video pendek, komentar reaktif, atau pandangan selintas mudah membentuk persepsi publik yang kuat. Ketika emosi lebih dominan daripada nalar, konflik yang jauh dari Indonesia pun mampu merembes ke dalam relasi sosial kita.
Rakyat Indonesia pernah merasakan traumatik dari tajamnya dinamika yang menimbulkan polarisasi relasi publik. Istilah “cebong” dan “kampret” beberapa tahun lalu benar-benar membelah percakapan dari ruang media sosial merambah ke dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan pilihan politik berubah menjadi pelabelan yang merusak dialog dan meretakkan hubungan sosial.
Api polarisasi itu sebenarnya belum sepenuhnya padam. Ia tersimpan di bawah permukaan dan mudah menyala kembali ketika isu global yang sarat emosi muncul. Konflik Timur Tengah hari ini memperlihatkan betapa rapuhnya percakapan publik di ruang digital kita.
Karena itu, tantangan terbesar kita bukan tentang cara memilah informasi yang akurat atau canggihnya teknologi militer mutakhir, tetapi bagaimana menjaga kedewasaan ruang digital. Konflik di Timur Tengah mungkin sedang menguji kecanggihan sistem pertahanan udara, tetapi bagi kita ia justru menguji kemampuan masyarakat untuk tidak terjebak dalam polarisasi, baik di ruang media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa bersimpati terhadap penderitaan manusia di berbagai belahan dunia tanpa menjadikan konflik itu alasan untuk saling membenci sesama warga bangsa. Karena kedewasaan publik terlihat dari kemampuan berdiskusi tanpa kehilangan empati dan nalar.
Buya Hamka pernah mengingatkan bahwa perpecahan sering kali bukan lahir dari perbedaan pendapat, melainkan dari hilangnya akhlak dalam menyampaikan pendapat. Pesan itu terasa sangat relevan dengan ruang percakapan digital kita hari ini. Perbedaan pandangan tentang konflik global seharusnya tidak berubah menjadi permusuhan di antara sesama anak bangsa.
Rudal mungkin terus melintas di langit Timur Tengah. Namun bagi bangsa Indonesia, ujian sesungguhnya justru terjadi di ruang percakapan kita sendiri, mampukah kita menjaga rumah besar bangsa ini agar tetap teduh pada saat dunia sedang memanas.
