Ramadhan sebagai Peningkatan Kesadaran Lingkungan, Sebuah Perspektif Eko-Teologi

Publish

25 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
85
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Ramadhan sebagai Peningkatan Kesadaran Lingkungan, Sebuah Perspektif Eko-Teologi

Oleh: Riza A. Novanto, M.Pd: Dosen Tegal Muhammadiyah University (TMU)

Ramadhan sering dipahami sebagai bulan penuh spiritualitas, di mana umat Muslim berlatih menahan diri dari hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Namun, ada satu dimensi yang kerap terabaikan: hubungan manusia dengan alam. Dalam konteks eko-teologi sebuah pendekatan yang mengaitkan ajaran agama dengan tanggung jawab ekologis Ramadhan bisa menjadi momentum refleksi untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, khususnya melalui praktik konsumsi yang minim sampah.

Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan spiritual yang menuntun manusia pada kesadaran diri, empati sosial, dan pengendalian konsumsi. Sayangnya, fenomena yang sering terjadi justru sebaliknya: konsumsi berlebihan, belanja makanan berlimpah, dan akhirnya menghasilkan sampah yang menumpuk. Ironis, karena esensi Ramadhan adalah kesederhanaan, bukan kemewahan.

Eko-teologi menekankan bahwa iman tidak hanya berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga dengan ciptaan-Nya. Dalam Islam, manusia disebut sebagai khalifah di bumi, yang berarti memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Kesadaran ini seharusnya tercermin dalam praktik sehari-hari, termasuk saat Ramadhan. Mengurangi sampah makanan, menggunakan wadah ramah lingkungan, dan menghindari plastik sekali pakai adalah bentuk nyata ibadah ekologis.

Konsumsi Minim Sampah

Salah satu refleksi kritis adalah bagaimana kita mengonsumsi makanan saat berbuka dan sahur. Banyak keluarga menyiapkan hidangan berlebihan, yang akhirnya tidak habis dan menjadi sampah. Padahal, Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk makan secukupnya, tidak berlebihan. Prinsip ini bisa diterjemahkan dalam praktik modern: 1). Membeli makanan sesuai kebutuhan, bukan keinginan sesaat. 2). Menggunakan wadah yang bisa dipakai ulang. 3). Mengolah kembali sisa makanan agar tidak terbuang. 4). Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat membeli takjil. Dengan cara ini, spiritualitas Ramadhan tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi menjelma dalam tindakan nyata menjaga bumi.

Fenomena pasar takjil, diskon besar-besaran, dan iklan makanan berlimpah menunjukkan bagaimana Ramadhan sering direduksi menjadi pesta konsumsi. Budaya konsumerisme ini bertentangan dengan nilai kesederhanaan yang diajarkan agama. Di sinilah refleksi kritis diperlukan: apakah kita benar-benar menjalani Ramadhan sebagai latihan spiritual, atau sekadar mengikuti arus kapitalisme yang membungkus diri dengan label religius?

Etika lingkungan dalam perspektif Islam menekankan keseimbangan (mizan) dan larangan berbuat kerusakan (fasad). Sampah berlebihan, pencemaran plastik, dan pemborosan makanan adalah bentuk fasad modern. Maka, Ramadhan bisa menjadi laboratorium etika lingkungan: sebuah kesempatan untuk melatih diri agar lebih bijak dalam mengelola konsumsi dan sampah.

Ramadhan sebagai Pendidikan Ekologis

Ramadhan juga bisa dijadikan sarana pendidikan ekologis bagi keluarga dan masyarakat. Misalnya: mengajarkan anak-anak untuk memilah sampah sejak dini, mengadakan kajian Ramadhan yang membahas eko-teologi, menggalakkan gerakan berbuka bersama dengan konsep zero waste, dan menjadikan masjid sebagai pusat edukasi lingkungan. Dengan cara ini, Ramadhan tidak hanya meningkatkan iman, tetapi juga membentuk generasi yang peduli terhadap bumi.

Ramadhan adalah bulan refleksi, bukan sekadar ritual. Melalui perspektif eko-teologi, kita diajak untuk melihat bahwa ibadah tidak hanya soal hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dengan alam. Konsumsi makanan minim sampah adalah salah satu bentuk konkret spiritualitas Ramadhan yang relevan dengan tantangan ekologis zaman ini. Kritik terhadap budaya konsumtif perlu terus disuarakan, agar Ramadhan benar-benar menjadi momentum peningkatan spiritualitas diri sekaligus kesadaran ekologis. Dengan begitu, kita tidak hanya berpuasa dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari kerakusan yang merusak bumi.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Islam adalah agama yang memadukan jiwa dan raga secara utuh. Dengan menjalankan....

Suara Muhammadiyah

18 October 2023

Wawasan

Tantangan Muhammadiyah Ke depan Oleh: Akhmad Faozan, Ketua PCM Mayong Jepara Muhammadiyah telah me....

Suara Muhammadiyah

14 November 2025

Wawasan

Membijakkan Sabar dan Ikhlas di Kota Suci Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammad....

Suara Muhammadiyah

10 July 2025

Wawasan

Refleksi Milad ke-60, Menuju IMM Progresif di Masa Depan Oleh: Muhammad Ikhlas Prayogo, Sekertaris ....

Suara Muhammadiyah

17 March 2024

Wawasan

Sebuah Alasan untuk Tetap Semangat Berkarya Oleh: Heriyanti, Kepala SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta, ....

Suara Muhammadiyah

22 May 2024