Puasa Moment Release Stres Tanpa Vape, Bonus Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Oleh: Sri Sunarti, MPH, PhD, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia, PENGDA KALTIM
Puasa merupakan ibadah yang tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki implikasi luas terhadap kesehatan fisik dan mental. Berbagai masalah kesehatan mental saat ini banyak dialami masyarakat, stres menjadi salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular serta perilaku adiktif seperti merokok dan penggunaan vape. Banyak individu menggunakan vape sebagai mekanisme koping terhadap stres, padahal nikotin justru memperburuk regulasi emosi dan ketergantungan. Puasa menghadirkan momentum pengendalian diri (self-regulation) yang berpotensi menjadi strategi alami untuk melepaskan stres tanpa ketergantungan zat adiktif, sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kesehatan holistik (Koob & Volkow, 2020; Nasr et al., 2024).
Secara ilmiah, puasa terbukti memengaruhi sistem neuroendokrin melalui penurunan hormon stres seperti kortisol dan peningkatan keseimbangan neurotransmiter yang berkaitan dengan ketenangan serta kontrol emosi. Selain itu, pembatasan makan terkontrol selama puasa berperan dalam menurunkan inflamasi sistemik dan meningkatkan fungsi imun. Kondisi ini menjadikan puasa sebagai pendekatan preventif yang relevan dalam meningkatkan daya tahan tubuh, khususnya pada masyarakat modern dengan tingkat stres tinggi dan gaya hidup tidak sehat (Longo et al., 2021; Anton et al., 2020).
Perilaku merokok dan penggunaan rokok elektrik, berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial, pengetahuan, sikap, serta akses produk sangat memengaruhi perilaku tersebut. Studi analitik pada mahasiswa menemukan bahwa determinan sosial berperan signifikan terhadap kebiasaan merokok, termasuk tekanan teman sebaya dan rendahnya kesadaran risiko kesehatan. Momentum puasa dapat menjadi intervensi perilaku berbasis spiritual dan edukatif untuk mengurangi ketergantungan nikotin dan mendorong perubahan perilaku sehat (Nasr et al., 2024; Sunarti et al., 2022; Anggara et al., 2021).
Berbagai faktor mempengaruhi perilaku merokok salah satunya dukungan teman sebaya, aksesibilitas produk rokok elektrik, serta faktor lingkungan memiliki hubungan kuat dengan perilaku merokok pada remaja dan mahasiswa. Edukasi kesehatan yang meningkatkan pengetahuan dan sikap terbukti efektif dalam mencegah perilaku e-smoking. Dalam konteks ini, puasa dapat diposisikan sebagai strategi promotif-preventif yang mengintegrasikan pendekatan spiritual, sosial, dan edukasi kesehatan untuk menekan perilaku adiktif sekaligus meningkatkan kontrol diri individu (Amelia & Sunarti, 2019; Diana et al., 2020; Sunarti et al., 2024).
Dalam perspektif Islam, puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan haus, tetapi sebagai proses penyucian diri (tazkiyatun nafs), pengendalian hawa nafsu, serta pembentukan karakter sehat secara holistik—fisik, mental, dan spiritual. Al-Qur’an menegaskan tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qur’an, 2:183). Ketakwaan dalam konteks kesehatan dimaknai sebagai kesadaran menjaga tubuh sebagai amanah Allah, menghindari perilaku merusak, serta membangun gaya hidup sehat dan seimbang. Puasa melatih kontrol diri (self-regulation), kesabaran, serta disiplin biologis melalui pengaturan pola makan, tidur, dan emosi yang secara ilmiah berkaitan dengan stabilisasi hormon stres, peningkatan fungsi metabolik, dan perbaikan sistem imun (Trepanowski & Bloomer, 2010; World Health Organization, 2021; Yulianti & Kosasih, 2025; Lilis, 2024).
Rasulullah SAW juga menegaskan dimensi kesehatan dari puasa melalui hadis: “Berpuasalah kamu, niscaya kamu sehat” (Al-Tabhrani, n.d.). Makna kesehatan dalam hadis ini mencakup kesehatan fisik, mental, dan perilaku. Puasa berperan sebagai mekanisme detoksifikasi alami, membantu proses perbaikan sel, meningkatkan sensitivitas insulin, serta memperkuat daya tahan tubuh. Dari sisi psikospiritual, puasa menurunkan stres, meningkatkan ketenangan batin (sakinah), serta memperkuat kontrol terhadap perilaku berisiko seperti merokok dan penggunaan vape. Prinsip Islam melarang segala sesuatu yang membahayakan diri (la dharar wa la dirar), sehingga upaya meninggalkan rokok dan vape melalui momentum puasa sejalan dengan maqashid syariah dalam menjaga jiwa (hifz an-nafs) dan menjaga kesehatan (hifz al-badan) (Ibn Majah, n.d.; Centers for Disease Control and Prevention, 2022; Trepanowski & Bloomer, 2010; Ni’mah & Hasanah, 2023; Nasikhin & Lutfiyah, 2024; Arsyad, 2024)
Dengan meningkatnya prevalensi stres dan penggunaan vape, diperlukan pendekatan inovatif yang integratif antara ilmu kesehatan masyarakat, bukti ilmiah, dan nilai spiritual. Puasa menawarkan momentum transformasi perilaku menuju hidup sehat tanpa ketergantungan nikotin, sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh melalui mekanisme biologis dan psikologis. Oleh karena itu, kajian tentang puasa sebagai moment release stres tanpa vape menjadi penting untuk mendukung upaya promotif dan preventif kesehatan masyarakat berbasis evidence dan spiritualitas (Sunarti et al., 2023; Mattson et al., 2022).
Puasa merupakan intervensi holistik yang bekerja melalui mekanisme biologis, psikologis, dan spiritual dalam menurunkan stres. Secara fisiologis, puasa membantu menstabilkan sistem neuroendokrin dengan menurunkan kadar hormon kortisol serta meningkatkan keseimbangan serotonin dan dopamin yang berperan dalam regulasi emosi. Kondisi ini berdampak pada peningkatan ketenangan mental, kejernihan kognitif, dan kemampuan pengendalian diri. Dalam konteks kesehatan masyarakat, pengendalian stres melalui puasa menjadi strategi promotif yang relevan untuk menurunkan risiko perilaku adiktif seperti merokok dan penggunaan vape yang sering dijadikan pelarian psikologis saat individu mengalami tekanan emosional (Longo et al., 2021; Mattson et al., 2022).
Selain berdampak pada kesehatan mental, puasa juga terbukti meningkatkan sistem imun melalui proses metabolic switching, peningkatan autofagi, dan penurunan inflamasi sistemik. Mekanisme ini berkontribusi pada peningkatan daya tahan tubuh terhadap infeksi serta penyakit degeneratif. Penelitian nutrisi menunjukkan bahwa pembatasan kalori terkontrol selama puasa mampu memperbaiki respons imun dan menurunkan stres oksidatif. Dengan demikian, puasa tidak hanya menjadi ibadah spiritual, tetapi juga pendekatan ilmiah berbasis gaya hidup sehat yang mendukung ketahanan tubuh individu (Anton et al., 2020; Zubrzycki et al., 2022).
Stres dan penggunaan vape memiliki hubungan erat. Banyak individu menggunakan nikotin sebagai mekanisme koping, padahal ketergantungan nikotin justru memperburuk regulasi emosi dan meningkatkan risiko kecanduan. Studi pada mahasiswa menunjukkan bahwa kesadaran, sikap, dan determinan sosial berperan penting dalam perilaku merokok. Momentum puasa dapat menjadi periode behavioral reset yang mendorong individu menghentikan konsumsi nikotin, meningkatkan kontrol diri, serta memperkuat motivasi hidup sehat tanpa ketergantungan zat adiktif (Nasr et al., 2024; Sunarti et al., 2023).
Faktor sosial seperti dukungan teman sebaya, akses produk rokok elektrik, serta lingkungan pergaulan terbukti memengaruhi perilaku merokok dan e-smoking. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya dapat meningkatkan atau menurunkan risiko merokok, sedangkan kemudahan akses produk vape meningkatkan prevalensi penggunaan. Edukasi kesehatan yang meningkatkan pengetahuan dan sikap terbukti efektif dalam menekan perilaku tersebut. Dalam konteks ini, puasa dapat diintegrasikan dengan pendekatan edukasi dan sosial untuk memperkuat perubahan perilaku sehat berbasis komunitas (Amelia & Sunarti, 2019; Diana et al., 2020; Anggara et al., 2021; Sunarti et al., 2024).
Menurut perspektif Islam, puasa memiliki dimensi pengendalian diri dan kesehatan yang kuat. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Ketakwaan yang dimaksud mencakup kemampuan mengendalikan hawa nafsu, termasuk kebiasaan tidak sehat seperti merokok dan ketergantungan nikotin. Rasulullah SAW juga bersabda: “Berpuasalah kamu, niscaya kamu sehat” (HR. Thabrani). Nilai spiritual ini memperkuat bahwa puasa merupakan sarana detoksifikasi fisik, mental, dan perilaku menuju kehidupan yang lebih sehat dan seimbang (Trepanowski & Bloomer, 2020).
Secara keseluruhan, puasa dapat dipandang sebagai intervensi promotif-preventif yang integratif dalam kesehatan masyarakat. Puasa membantu menurunkan stres, menghentikan ketergantungan vape, memperkuat sistem imun, serta membentuk perilaku hidup sehat berbasis spiritual dan ilmiah. Integrasi antara bukti penelitian, pendekatan edukasi, dan nilai religius menunjukkan bahwa puasa memiliki potensi besar sebagai strategi kesehatan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup, ketahanan tubuh, dan kesejahteraan psikologis masyarakat modern (Koob & Volkow, 2020; Sunarti et al., 2022).
Menurut Teori Lawrence Green dalam model PRECEDE–PROCEED, perilaku kesehatan dipengaruhi oleh faktor predisposing, enabling, dan reinforcing. Dalam konteks puasa sebagai moment release stres tanpa vape, faktor predisposing meliputi pengetahuan, sikap, nilai spiritual, dan keyakinan individu terhadap manfaat puasa bagi kesehatan fisik dan mental. Pemahaman bahwa puasa mampu menurunkan stres, meningkatkan kontrol diri, dan memperkuat daya tahan tubuh akan membentuk motivasi intrinsik untuk meninggalkan perilaku adiktif seperti merokok dan penggunaan vape. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan dan sikap kesehatan berperan penting dalam mencegah perilaku e-smoking pada mahasiswa, sehingga edukasi kesehatan berbasis spiritual dan ilmiah menjadi strategi utama dalam perubahan perilaku (Green & Kreuter, 2020; Sunarti et al., 2024).
Faktor enabling dalam teori Lawrence Green berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, akses, dan lingkungan yang memungkinkan individu melakukan perilaku sehat. Dalam konteks ini, puasa dapat menjadi sarana praktis untuk menghentikan konsumsi nikotin karena adanya pembatasan waktu makan, minum, dan merokok. Namun, keberhasilan perubahan perilaku juga dipengaruhi oleh akses terhadap produk rokok elektrik, kebijakan lingkungan bebas rokok, serta dukungan program edukasi kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa kemudahan akses produk vape meningkatkan risiko penggunaan, sehingga diperlukan intervensi lingkungan seperti pembatasan akses, promosi kesehatan, dan dukungan komunitas agar momentum puasa dapat dimanfaatkan secara optimal untuk berhenti dari ketergantungan nikotin (Anggara et al., 2021; Sunarti et al., 2022).
Faktor reinforcing mencakup dukungan sosial, penguatan spiritual, dan lingkungan yang mempertahankan perilaku sehat. Dukungan keluarga, teman sebaya, serta komunitas religius selama bulan puasa dapat memperkuat komitmen individu untuk tidak merokok dan menghindari vape. Nilai spiritual puasa yang menekankan pengendalian diri, kesabaran, dan ketakwaan menjadi penguat internal yang mendorong keberlanjutan perubahan perilaku. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya berhubungan signifikan dengan perilaku merokok, sehingga penguatan sosial positif selama puasa dapat menjadi faktor kunci dalam mempertahankan gaya hidup sehat tanpa nikotin serta meningkatkan kesejahteraan psikologis dan daya tahan tubuh (Amelia & Sunarti, 2019; Diana et al., 2020; Green & Kreuter, 2020).

Implikasi Kebijakan kesehatan masyarakat untuk pengendalian penggunaan vape yaitu :
1. Integrasi pendekatan spiritual dalam promosi kesehatan
Kebijakan kesehatan masyarakat perlu mengintegrasikan nilai religius seperti puasa sebagai bagian dari strategi promotif untuk pengendalian stres dan pencegahan perilaku adiktif. Pendekatan berbasis spiritual terbukti meningkatkan motivasi internal dan kepatuhan terhadap perilaku hidup sehat.
2. Penguatan kebijakan pengendalian rokok dan vape
Pemerintah dan institusi pendidikan perlu memperkuat regulasi pembatasan akses produk rokok dan rokok elektrik, khususnya di lingkungan kampus dan remaja. Momentum puasa dapat dimanfaatkan sebagai periode intervensi berhenti merokok berbasis komunitas.
3. Pengembangan program edukasi kesehatan berbasis perilaku
Kebijakan promotif perlu menekankan peningkatan pengetahuan, sikap, dan literasi kesehatan terkait bahaya nikotin, manajemen stres, serta manfaat puasa terhadap kesehatan mental dan imun.
4. Pendekatan komunitas dan keluarga
Dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, dan komunitas religius perlu diperkuat melalui kebijakan berbasis masyarakat (community-based health promotion) untuk mempertahankan perubahan perilaku sehat.
5. Integrasi promosi kesehatan dalam layanan primer
Fasilitas pelayanan kesehatan primer perlu memasukkan konseling berhenti merokok, manajemen stres, dan edukasi gaya hidup sehat berbasis puasa dalam program promotif-preventif rutin.

