Profetik dalam Ramadhan
Penulis: Ichsan Y. Nuansa Putra, M.Pd., Gr., Guru SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kota Yogyakarta
Bulan Ramadhan tentu menjadi waktu terbaik dalam membangun aspek spiritual yang sarat akan nilai pendidikan. Terbangunnya proses pembentukan nilai kepribadian dan kesadaran sosial saat berpuasa inilah bagian dari ibadah puasa. Akan tetapi, bagaimana jalan memahami pemaknaan ibadah puasa untuk sampai pada ranah kedua nilai tersebut?
Kuntowijoyo (dalam Rifai, 2009) melalui perumusan sastra profetiknya menjelaskan bahwa seseorang diharapkan menekankan keterpaduan antara dimensi transendensi, kemanusiaan, dan keterlibatan sosial dalam sejarah. Berdasarkan hal tersebut, maka seseorang tidak berhenti pada kesalehan individual, melainkan menstimulus keterlibatannya dalam memperbaiki realitas sosial.
Orientasi di atas dapat menjadi salah satu aspek pendidikan berupa magnet untuk menumbuhkan rasa semangat dalam menyongsong Ramadhan. Kuntowijoyo mendasarkan konsep profetiknya pada Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 110, menegaskan kewajiban umat terbaik adalah melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah SWT.
Empat gagasan pokok pun terlahir yakni konsep umat terbaik, aktivisme sejarah, pentingnya kesadaran, dan etika profetik (Rifai, 2009). Empat gagasan yang terjabarkan melengkapi nilai liberasi terkait bulan Ramadhan, diantaranya upaya pengendalian manusia dari belenggu hawa nafsu, ketidakadilan, dan memperbaiki struktur sosial dengan cara saling berbagi serta berbuat baik.
Sebagai seorang guru konsep sastra profetik di atas mendukung proses pendekatan pembelajaran mendalam sehingga perspektif profetik dinilai memiliki banyak manfaat. Mustaghfirin dan Zaman (2025) memiliki kesesuaian mendasar dengan prinsip perspektif profetik yakni menekankan penciptaan suasana dan proses pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Jika dijabarkan dalam aspek pembelajaran berkesadaran, ibadah puasa melatih regulasi diri secara sadar hingga konstuktif dalam memahami tujuan aktivitas dan belajarnya. Prinsip pembelajaran bermakna juga menemukan relevansinya seperti kemampuan penguasaan pengetahuan dengan situasi nyata. Selanjutnya, keterhubungan dalam pembelajaran yang menggembirakan terletak pada pendekatan manusia dan dialogis sebagai ranah peningkatan nilai sosial.
Kehadiran bulan Ramadhan dan perspektif profetik memberikan ruang pembelajaran positif. Murid akan menemukan kerangka pembelajaran lain untuk mengembangkan pribadinya sebagai manusia yang berkualitas. Hal tersebut merupakan dimensi transendensi (spiritual) sebuah titik pertemuan antara perspektif profetik dan pembelajaran mendalam.
Murid akhirnya tidak hanya mahir secara kognitif, tetapi memiliki orientasi etis, dan moral. Pada ranah bulan Ramadhan, hubungan manusia dengan Allah SWT di waktu yang spesial menjadi mata air nilai yang menuntut sikap dan perilaku sosial untuk mewujudkan integritas moral.
Kesesuaian ini adalah kesempatan emas untuk murid mengambil pengalamannya di bulan Ramadhan sebagai ruang transformasi pendidikan. Beberapa kegiatan yang dapat diaplikasikan oleh murid seperti jurnal refleksi Ramadhan dan gerakan empati sosial. Pada jurnal refleksi Ramadhan murid dilatih menjalani pembelajaran yang berkesadaran, yakni menyadari tujuan ibadah puasa, mengelola emosi, serta merefleksikan perubahan sikap diri.
Aktivitas reflektif ini selaras dengan praktik pendidikan Islam Rasulullah yang menekankan kesadaran, dialog batin, berkontemplasi untuk menghasilkan karya, dan pembentukan karakter secara bertahap. Selain itu, kegiatan proyek empati sosial menghasilkan diskusi dialogis nilai puasa dan tugas aksi perubahan diri.
Murid secara tidak langsung merasakan pembelajaran yang bermakna dan menggembirakan. Murid tidak sekadar memahami nilai puasa secara konseptual, tetapi mengaplikasikannya dalam tindakan nyata seperti berbagi, bersikap jujur, dan peduli terhadap lingkungan sosial.
Dengan demikian, menyongsong bulan Ramadhan melalui perspektif profetik mempertemukan pada penegasan pembelajaran mendalam yakni mengembalikan arah pendidikan pada rel pembangunan karakter murid.
Perspektif profetik menghadirkan ruang ketegasan dalam membangun dimensi transendensi bahwa seseorang harus memperkuat iman, kemanusiaan, dan perjuangan sosial. Senada pula pada pembelajaran mendalam di mana proses belajar yang reflektif, bermakna, dan transformatif harus diterapkan pada murid. Sehingga, terbangunnya proses pembentukan nilai kepribadian dan kesadaran sosial dalam berpuasa melahirkan makna yang bernilai tinggi.

