Perbedaan Idul Fitri: Anugerah dan Ujian Kedewasaan Umat

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
63
Shalat Idul Fitri

Shalat Idul Fitri

Perbedaan Idul Fitri: Anugerah dan Ujian Kedewasaan Umat

Oleh: Hening Parlan, Mahasiswa Pasca Sarjana MPI Universitas Muhamamdiyah Jakarta 

Setiap tahun, perbedaan dalam penetapan awal Idul Fitri kembali hadir di tengah umat Islam Indonesia. Sebagian merayakan lebih awal, sementara sebagian lainnya menyusul kemudian. Perbedaan ini seperti siklus yang terus berulang—namun sayangnya, tidak selalu diiringi dengan kedewasaan dalam menyikapinya.

Di ruang digital, kita sering menyaksikan perdebatan yang tidak perlu. Ada yang merasa paling benar, ada yang menyindir, bahkan ada yang secara halus merendahkan pilihan pihak lain. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan ini kadang menimbulkan kebingungan dalam keluarga: kapan berkumpul, kapan bersilaturahmi, bahkan terkadang memunculkan jarak emosional yang sebenarnya tidak perlu.

Padahal, jika kita menengok lebih dalam, perbedaan ini bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam. Ia adalah bagian dari tradisi ijtihad—usaha sungguh-sungguh para ulama dalam memahami teks dan realitas. Perbedaan metode, baik rukyat maupun hisab, adalah bukti bahwa Islam memiliki kekayaan intelektual yang luar biasa.

Allah Swt. telah mengingatkan bahwa perbedaan adalah bagian dari ketetapan-Nya:

“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hud: 118)

Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan bukanlah penyimpangan, melainkan bagian dari sunnatullah. Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan, tetapi bagaimana manusia menyikapinya.

Dalam konteks Indonesia, salah satu ikhtiar penting untuk merespons dinamika ini dilakukan oleh Muhammadiyah melalui pengembangan kalender global. Kalender ini merupakan upaya untuk menghadirkan kepastian waktu ibadah berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus menawarkan sistem yang dapat digunakan secara universal oleh umat Islam di berbagai belahan dunia.

Namun demikian, kehadiran kalender global bukan berarti menghapus perbedaan. Perbedaan tetap mungkin terjadi, karena ia merupakan bagian dari dinamika ijtihad itu sendiri. Justru di sinilah letak hikmah yang lebih dalam. Perbedaan awal Idul Fitri dapat menjadi cermin untuk menilai kedewasaan umat dalam berbagai dimensi kehidupan.

Kedewasaan Keislaman

Kedewasaan keislaman tercermin dari kemampuan memahami bahwa tidak semua persoalan memiliki satu jawaban tunggal. Dalam wilayah ijtihad, perbedaan adalah sesuatu yang wajar dan bahkan dihargai.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

“Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia mendapat dua pahala. Jika ia berijtihad lalu keliru, maka ia mendapat satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan pesan penting bahwa perbedaan hasil ijtihad tidak boleh menjadi sumber permusuhan. Sebaliknya, ia harus dipandang sebagai bagian dari dinamika berpikir dalam Islam.

Umat yang dewasa secara keislaman tidak mudah mengklaim kebenaran mutlak, apalagi menyalahkan pihak lain. Mereka mampu memegang keyakinannya dengan teguh, namun tetap menghormati pilihan orang lain.

Kedewasaan Keindonesiaan

Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman. Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu yang harus dikelola dengan bijak.

Allah Swt. berfirman:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan adalah sarana untuk membangun relasi, bukan untuk menciptakan konflik. Dalam konteks keindonesiaan, perbedaan Idul Fitri seharusnya menjadi cerminan dari semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Jika dalam perbedaan besar seperti suku, budaya, dan agama kita mampu hidup berdampingan, maka perbedaan satu hari dalam Idul Fitri seharusnya tidak menjadi persoalan yang membesar. Justru di sinilah kedewasaan kita sebagai bangsa diuji.

Kedewasaan Keumatan

Sebagai bagian dari umat Islam, kita diikat oleh ukhuwah Islamiyah. Persaudaraan ini tidak boleh rusak hanya karena perbedaan metode atau pandangan.

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa menjaga persaudaraan adalah kewajiban. Dalam konteks perbedaan Idul Fitri, ukhuwah harus tetap dijaga.

Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh, apalagi bermusuhan. Sebaliknya, ia harus menjadi ruang untuk memperkuat empati, saling memahami, dan memperluas cara pandang.

Kedewasaan Kemanusiaan Universal

Islam tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan antar manusia. Nilai-nilainya bersifat universal, melampaui batas kelompok dan identitas.

Allah Swt. berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam hadir sebagai rahmat, bukan sebagai sumber konflik. Oleh karena itu, cara kita menyikapi perbedaan harus mencerminkan nilai kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama.

Jika perbedaan Idul Fitri justru melahirkan konflik, maka yang perlu kita evaluasi bukanlah perbedaannya, melainkan cara kita memahaminya.

Refleksi Pemikiran Buya Syafii Maarif

Keempat dimensi tersebut sejalan dengan pemikiran Ahmad Syafii Maarif.

Buya Syafii Maarif dikenal sebagai tokoh yang menekankan pentingnya integrasi antara keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa Islam tidak boleh dipahami secara sempit dan eksklusif, tetapi harus menjadi kekuatan moral yang membawa kebaikan bagi semua.

Dalam salah satu pemikirannya, Buya menegaskan:

“Islam itu harus menjadi rahmat bagi semua, bukan hanya untuk kelompoknya sendiri.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada identitas, tetapi harus meluas menjadi sikap yang menghadirkan kebaikan universal.

Lebih jauh, Buya juga mengingatkan tentang bahaya sikap merasa paling benar dalam beragama:

“Kalau kita merasa paling benar sendiri, di situlah awal dari kerusakan dalam kehidupan beragama.”

Pesan ini menjadi sangat relevan dalam konteks perbedaan Idul Fitri. Ketika perbedaan disikapi dengan ego dan klaim kebenaran tunggal, maka yang muncul bukanlah rahmat, melainkan perpecahan.

Dalam karya dan refleksi pemikirannya, Buya Syafii juga menekankan bahwa Islam di Indonesia harus berpijak pada realitas kebangsaan:

“Keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan harus berjalan seiring, tidak boleh dipisahkan.”

Pandangan ini memberikan kerangka yang utuh dalam memahami perbedaan. Bahwa menjadi Muslim yang baik tidak hanya diukur dari ketepatan ritual, tetapi juga dari kemampuan menjaga persatuan sebagai bangsa dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Dalam konteks perbedaan Idul Fitri, pemikiran Buya ini menjadi sangat relevan. Perbedaan awal Idul Fitri adalah anugerah. Ia bukan sekadar fenomena tahunan, tetapi juga ujian yang mengukur kedewasaan umat dalam berbagai dimensi kehidupan. Perbedaan bukanlah ancaman, melainkan ruang pembelajaran. Ia mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati, terbuka, dan bijaksana dalam menghadapi realitas yang beragam.

Dengan demikian, cara kita menyikapi perbedaan Idul Fitri sejatinya mencerminkan apakah kita telah mengamalkan Islam sebagai rahmat, atau justru masih terjebak dalam cara pandang yang sempit. Karena pada akhirnya, Idul Fitri bukan hanya tentang kapan kita merayakan, tetapi tentang bagaimana kita kembali kepada fitrah—menjadi manusia yang lebih bijak, lebih lapang, dan lebih mampu menerima perbedaan sebagai bagian dari rahmat Allah.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari Idul Fitri: bukan sekadar merayakan hari yang sama, tetapi merayakan hati yang sama—hati yang mampu memaafkan, menghargai, dan merangkul perbedaan dalam kasih sayang. (hn)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

SM Tower Berau dan Wisata Eksotik Kepulauan Berau adalah sebuah kabupaten yang berada di propinsi K....

Suara Muhammadiyah

7 October 2023

Humaniora

Zakat Mal: Ibadah Spiritual dan Tanggung Jawab Sosial Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua MLH PP Muham....

Suara Muhammadiyah

19 March 2026

Humaniora

Doa Terakhir Nenek Menjelang Ajal Cerpen Soegiyono MS Umi Salamah seorang nenek tua renta hidup se....

Suara Muhammadiyah

29 November 2024

Humaniora

Durian, Mendoan, dan Kemakmuran Masjid Kesan Pertemuan LPCRPM PP Muhammadiyah di Universitas Muhamm....

Suara Muhammadiyah

13 January 2025

Humaniora

Cerpen Diko Ahmad Riza Primadi Titik dan detik paling aman dunia adalah ketika matahari terbenam. S....

Suara Muhammadiyah

22 July 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah