Pengajian PDM Kota Tegal Memperkuat Tauhid dan Silaturahmi

Publish

24 March 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
119
Foto Istimewa

Foto Istimewa

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Tegal menggelar Pengajian dan Buka Puasa Bersama yang disponsori oleh LAZISMU Kota Tegal pada Ahad (23/3/2025) di Masjid Ulil Al-Bab SMA Muhammadiyah Kota Tegal dan  menghadirkan Ustadz Ghusni Darajatun M.Pd., sebagai narasumber.

Acara ini dihadiri oleh keluarga besar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tegal, PCM, PRM, dan Ortom Muhammadiyah di Kota Tegal. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus membahas perkembangan Muhammadiyah, khususnya di kota Tegal.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala SMA Muhammadiyah Kota Tegal, Sulaiman, M.Pd., yang menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap kegiatan pengajian dan buka puasa bersama ini membawa keberkahan serta memperkuat komitmen bersama Muhammadiyah di kota Tegal.

“Kami berharap melalui silaturahmi pengajian dan buka bersama ini, PDM senantiasa diberikan kelancaran dan keberkahan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya,” ujar Sulaiman.

Dalam Sambutan PDM Kota Tegal yang pada kesempatan ini diwakili oleh Baharudin, M.Pd., juga menyambut baik serta mengapresiasi para jamaah yang hadir dengan penuh semangat walaupun sedang berpuasa dan mengharap balasan berupa pahala dari Allah SWT. Lebih lanjut, Ia memaparkan beberapa pesan diantaranya tentang menghidupi masjid-masjid Muhammadiyah di sekitar kota Tegal.

“Salah satu tolak ukur Muhammadiyah dilihat dari jamaah di masjid-masjid milik muhammadiyah,” kata Baharudin.

Sesi berikutnya yaitu pengajian. Dalam tausyiahnya, Ghusni Darajatun mengusung tema "Tauhid".  Ia mengupas delapan tema “Tauhid” berdasarkan Q.S Al-Qasas ayat 5. Tema tersebut mencakup Tuhan, keyakinan terhadap keesaan Allah, dan satu-satunya tuhan yang berhak disembah serta sebagai sandaran hidup.

Mengutip dari doa “Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqina imama” yang merupakan potongan Q.S Al-Furqan ayat 74 yaitu doa untuk memperoleh keturunan yang baik serta ketenangan hati dan selalu dibaca sehabis shalat. Allah langsung menjawabnya dengan Q.S Al-Qasas ayat 5 yang berbunyi “wa nurîdu an namunna ‘alalladzînastudl‘ifû fil-ardli wa naj‘alahum a immataw wa naj‘alahumul-wâritsîn” yang artinya “Kami berkehendak untuk memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”.

Penggalan ayat diatas merupakan kisah dari keselamatan nabi Musa terhadap kekejaman Fira'un pada zaman tersebut. Maksud dari kedua ayat tersebut adalah Allah SWT telah berjanji kepada orang-orang yang senantiasa meminta dan bersandar kepadanya niscaya diberikan pula apa yang telah Allah janjikan, seperti dalam Q.S Al-Qasas ayat 5, Allah SWT berjanji akan menjadikan mereka pemimpin dan mewarisi bumi. "Bagi Allah SWT hal tersebut mudah dan tiada yang tidak mungkin jika sudah dikehendakinya," ungkapnya. 

Lebih jelas mengenai tema kali ini, Ia menjelaskan tentang semut yang bahkan manusia tidak diketahui pada saat itu, disimak pada Q.S An-Naml ayat 18-24. Dalam ayat 18 ada hal yang paling mengejutkan dimana diksi ayat yang menyebutkan menggunakan kata “qalat namlatun” tidak cukup jika hanya diartikan “berkata seekor semut”. Ghusni menjelaskan secara rinci terjemah penggalan ayat tersebut.

"Terjemah dari qalat namlatun mestinya “(telah) berkata seekor semut betina”. Sebab namlatun membawa tanda ta’ marbutoh (ة) sebagai tanda isim mu’annats atau kata benda perempuan, sehingga semut yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah semut betina. Demikian pula kata qalat yang mendahuluinya berasal dari qala yang disandari hiya, yakni isim dhamir yang menunjukan subjek mu’annats dan mufrad (perempuan tunggal)," jelasnya.

Jika kisah semut ini dikaitkan dengan dunia manusia, seorang yang bisa memberi perintah adalah pemerintah atau seorang pemimpin. Artinya dalam ayat ini ditegaskan bahwa semut betina tersebut adalah pemimpin para semut. Sehingga dapat digunakan istilah Ratu Semut.

"Dari penjelasan ini bisa kita ketahui bahwa memang Allah SWT itu sandaran hidup kita, karena Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui," tambahnya.

Dipenghujung taushiyah, Ia mengajak berdoa bersama untuk Muhammadiyah dan keberkahan hidup serta mengakhiri kegiatan baik ini dengan berbuka puasa dan shalat maghrib berjamaah. (MFN/ND)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah - Eco Bhinneka Muhamamdiyah Regional Banyuwangi pada Sabtu (7/9/2024)....

Suara Muhammadiyah

10 September 2024

Berita

Peran Guru, Perempuan, dan Keluarga  SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Lembaga Resiliensi Bencana (....

Suara Muhammadiyah

28 October 2023

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Bidang Kajian Dakwah Islam (KDI) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhamm....

Suara Muhammadiyah

3 December 2023

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Tengah menggel....

Suara Muhammadiyah

10 February 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Makassar sukses menggelar kegi....

Suara Muhammadiyah

27 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah