Paraga Pahargian: Petugas Pembaca Do’a

Publish

8 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
78
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Paraga Pahargian: Petugas Pembaca Do’a 

Oleh: Rumini Zulfikar (GusZul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten

"Dalam sebuah upacara pernikahan yang suci nan sakral, kita tidak boleh meninggalkan sebuah harapan pada Sang Pencipta dengan melangitkan doa agar harapan itu tercapai."

Dalam masyarakat Jawa, seseorang yang akan menikahkan anaknya, sebuah rangkaian yang harus dilalui adalah dengan mempersiapkan kepanitiaan atau disebut paraga dalam pernikahan (pahargian), mulai dari among tamu, penerima pasrah, pambagya harja dari keluarga, hingga paraga yang memimpin doa untuk pengantin.

Dan itu satu rangkaian yang baku (pakem) dalam masyarakat Jawa dalam menggelar upacara pernikahan, baik sederhana maupun upacara pernikahan yang mewah.

Judul di atas menggambarkan akan pentingnya sebuah rangkaian dalam upacara pernikahan.

Suatu hari penulis dihubungi sang keponakan beda kecamatan dan bilang kepada penulis bahwa keluarganya akan menggelar pernikahan adiknya dan sang bapaknya meminta tolong untuk menjadi paraga (petugas) dalam pahargian (pernikahan) adiknya sebagai pembaca doa walimatul 'ursy.

Sama penulis, karena masih ada hubungan kekeluargaan, penulis (GusZul) menyanggupinya.

Satu pekan sebelum pelaksanaan, sang keponakan menghubungi lewat WhatsApp:

Sang Keponakan: Mbah, besuk sore badha magrib bapak mau kesana badhe matur sekalian menghantar undangan dan rundown acara nikah adik saya, Mbah.

Penulis (Gus Zul): Oh ya, Mbak, biar nanti saya mempersiapkannya.

Penulis (Gus Zul): Lha itu tempatnya di mana, Mbak?

Sang Keponakan: Njih, Mbah!

Sang Keponakan: Tempat akad nikahnya di Masjid Agung Al-Aqsha Klaten, di mana masjid tersebut ikon di Klaten karena masjid milik Pemerintah Kabupaten Klaten.

Penulis: Ya lha nanti konsepnya bagaimana, pakai bahasa Jawa apa bahasa Indonesia, terus pakaian bebas apa pakai jas, Mbak?

Sang Keponakan: Pakai bahasa Indonesia, Mbah, bebas Mbah, tapi kalau bisa pakai jas, njih Mbah.

Penulis: Oh ya siap, Mbak.

Tiga hari sebelum pelaksanaan, penulis mempersiapkan materinya dengan mengetik di Android, lantas meminta tolong sama tetangganya yang kerja di toko copy-an untuk menyalin dan mencetaknya.

Tiba yang dinantikan telah datang. Penulis di pagi hari mempersiapkan segala sesuatu dan tidak kalah penting adalah mental agar di hadapan para tamu undangan tetap kondisi fit agar tidak membuat kecewa yang punya hajat. Dan ini bagi penulis pengalaman pertama bertugas atau menjadi paraga pahargian di luar kampung, apalagi tempatnya di masjid kebanggaan warga Klaten, yang mana di kala peresmiannya tahun 2014 dihadiri Prof. Dr. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah) dan KH Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU).

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, penulis (Gus Zul) tiba di lokasi acara. Selang beberapa menit, dari WO bertanya pada penulis, “Nanti yang membacakan doa untuk kedua mempelai bapak, njih?” Penulis menjawab, “Ya, Mas.”

Tak lama pembawa acara membacakan acaranya, “Selanjutnya doa,” dan penulis diminta untuk menempati tempat yang disediakan.

Tak lama penulis (Gus Zul) bergegas untuk melaksanakan tugasnya dengan mengucap salam serta menyapa hadirin yang hadir. Tidak lupa penulis mengutip ayat yang populer yaitu Surat Ar-Rum ayat 21:

"Wa min aayaatihi an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilaihaa wa ja‘ala bainakum mawaddatan wa rahmah, innna fii dzaalika la aayaatil liqoumin yatafakkaruun."

Dan memohon para hadirin yang hadir untuk menundukkan kepala, menadahkan tangan dengan kesucian hati serta keikhlasan mendoakan kedua mempelai pengantin.

Setelah penulis melantunkan doa-doa yang ditulisnya, di tempat bersujud bergema melangitkan doa untuk mempelai pengantin:

Hamdan na’imin syakirin wa yukafi’u ma yuridhu rabbana lakal hamdu yanbaghi lijalalika wa ‘azhim sulthonik.
Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Barakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama‘a bainakuma fii khoir.

Artinya: “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu serta keberkahan atasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

Ya Allah Ya Rahman,
Hamba menundukkan kepala dan menadahkan tangan sebagai bukti bahwa hamba makhluk yang sangat zalim, lemah, dan banyak dosa, ya Allah.

Ya Allah, mampukan kedua mempelai pengantin dalam menggapai kasih dan sayang-Mu dalam membangun rumah tangga.

Ya Allah Ya Quddus Ya Salam,
Ya Allah mampukan kedua mempelai pengantin ini dalam rumah tangga ini dengan kesucian hati sebagai modal untuk berumah tangga sebagai bentuk dari sebuah ketaatan dalam mendekatkan diri kepada-Mu, ya Allah, sehingga keselamatan dalam berumah tangga senantiasa dalam naungan-Mu.

Dengan sikap tafahum (saling memahami), tafakul (saling menanggung beban), ta‘awun (saling tolong-menolong), tasamuh (saling menghargai), taradhi (saling rida), tarahum (saling mengasihi), taghafur (saling memaafkan).

Ya Allah Ya Aziz,
Kami sadar bahwa semua kehidupan manusia ini dalam genggaman kuasa-Mu ya Allah, maka mampukan daya kekuatan kedua mempelai dalam mengarungi bahtera kehidupan ini dengan kekuatan-Mu sehingga rumah tangganya mampu berdiri kokoh, tangguh dengan pantulan cahaya-Mu.

Ya Allah Ya Razzaq,
Ya Allah mampukan kedua pengantin ini untuk mencari rezeki halal, yang baik, serta rezeki yang membawa keberkahan untuk keluarga di dunia dan akhirat.

Ya Allah Ya Mughni,
Ya Allah mampukan kedua mempelai pengantin untuk mendapatkan kekayaan yang bisa menenteramkan rumah tangganya, yaitu kekayaan secara lahir maupun batin yang membawa kedamaian dalam kehidupan rumah tangga.

Ya Allah Ya Muhaimin,
Ya Allah mampukan kedua mempelai pengantin dalam lindungan-Mu dan peliharalah kehidupannya dengan rasa syukur, sabar, dan jauhkan dari sifat jauh dari-Mu ya Allah.

Ya Allah Ya Malik,
Mampukan kedua mempelai pengantin ini menjadi pasangan di dunia dan akhirat dengan bekal iman dan takwa, yaitu rasa takut jauh dari-Mu.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun waj‘alna lil muttaqina imaama.

Ya Allah anugerahkan anak keturunan yang mempunyai dasar iman dan takwa sebagai pemimpin yang bisa memberikan kebahagiaan keluarga, mampu memberikan kemaslahatan bagi agama, umat, bangsa, dan negara dengan pantulan cahaya (munawaroh) menuju kemuliaan (mukarramah).

Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah.

(Ya Allah berilah kedua mempelai pengantin ini kebahagiaan di dunia dan di akhirat).


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Furqan Mawardi, Muballigh Akar Rumput Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan: “Waktu ....

Suara Muhammadiyah

25 June 2025

Wawasan

Sulthanan-Nashira sebagai Pakaian Politik Islam Oleh: Adrian Al-fatih, Kader Muhammadiyah Sulthana....

Suara Muhammadiyah

22 December 2023

Wawasan

Ragam Cara Menjemput RezekiOleh: Ahsan Jamet Hamidi/Ketua PRM Legoso, Wakil Sekretaris LPCRPM PP Muh....

Suara Muhammadiyah

13 February 2025

Wawasan

Memperingati Milad Muhammadiyah  ke-111 dan Milad UHAMKA ke-66 Oleh: Harinaredi, M.Pd Kesadar....

Suara Muhammadiyah

18 November 2023

Wawasan

Kaitan IMM dan Film Jumbo Oleh: Figur Ahmad Brillian/ IMM Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam Unive....

Suara Muhammadiyah

21 April 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah