Munggahan: Manifestasi Dakwah Kultural yang Menggembirakan
Oleh: Faozan Amar, Associate Profesor FEB UHAMKA dan Wakil Ketua MPKS PP Muhammadiyah
Aroma Ramadan selalu membawa getaran rindu yang mendalam bagi setiap insan beriman. Di lingkungan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), suasana menyambut bulan suci ini kian semarak dengan tradisi yang menyejukkan.
Pesan-pesan di grup gawai para dosen dan karyawan tak sekadar berisi informasi akademik, melainkan kabar gembira (basyiron) tentang pembagian daging munggahan. Sebuah tradisi yang telah dilaksanakan UHAMKA dan telah bertransformasi menjadi simbol kedermawanan dan kebersamaan persyarikatan.
Momentum ini menjadi kian istimewa karena daging yang dibagikan merupakan produk dari UHAMKA Agrivision, sebuah unit inovatif yang fokus pada pengembangan sektor pertanian dan peternakan secara holistik. Langkah ini membuktikan bahwa dakwah Muhammadiyah telah bergerak melampaui teks murni, masuk ke dalam ranah pemberdayaan ekonomi riil.
Hal ini sejalan dengan konsep "Islam Berkemajuan" yang ditegaskan Haedar Nashir, di mana praktik keagamaan harus mampu melahirkan transformasi sosial dan kesejahteraan nyata bagi umat (Nashir, 2015).
Filsafat "Munggah" dan Solidaritas Sosial
Munggahan, yang berakar dari tradisi masyarakat Muslim Sunda, adalah ekspresi tasyakkur atas kesempatan kembali bertemu dengan bulan penuh ampunan. Secara etimologis, "munggah" berarti naik. Hal ini selaras dengan hakikat puasa yang sejatinya adalah tangga menuju derajat ketakwaan yang lebih tinggi. Melalui aktivitas silaturahmi, cucurak (makan bersama), hingga sedekah, munggahan menjadi sarana penyucian diri (tazkiyatun nafs).
Dalam perspektif sosiologi, Clifford Geertz (1960) melihat tradisi semacam ini sebagai cara masyarakat memperkuat solidaritas sosial melalui simbol-simbol keagamaan. Munggahan menjadi ruang di mana nilai-nilai profan bertemu dengan nilai sakral, menciptakan harmoni yang mempersatukan komunitas sebelum menunaikan ibadah panjang di bulan suci.

Dampak Ekonomi: Menggerakkan Arus Keberkahan
Namun, munggahan tidak berhenti pada dimensi spiritual semata. Secara ekonomi, tradisi ini memicu geliat konsumsi rumah tangga yang signifikan di tingkat akar rumput. Permintaan yang melonjak terhadap komoditas pangan, terutama daging dan bumbu dapur, menciptakan multiplier effect bagi para pedagang pasar tradisional dan peternak lokal. Dalam teori ekonomi makro, aktivitas ini mendorong percepatan perputaran uang (velocity of money) di tingkat lokal.
Melalui UHAMKA Agrivision, kampus terakreditasi Unggul ini menunjukkan model ekonomi sirkular yang inklusif. Distribusi daging munggahan bukan sekadar pemberian cuma-cuma, melainkan bentuk apresiasi institusi terhadap sumber daya manusia (SDM) sekaligus hilirisasi produk peternakan sendiri.
Ketika tradisi ini dijalankan secara kolektif, ia menjadi instrumen redistribusi kekayaan yang efektif melalui sedekah dan jamuan makan bersama, yang dalam jangka pendek mampu menjaga stabilitas daya beli masyarakat menjelang terjadinya fluktuasi harga di bulan Ramadan.
Dakwah Kultural yang Memberdayakan
Persyarikatan Muhammadiyah, melalui keputusan Sidang Tanwir di Bali tahun 2002, telah meneguhkan Dakwah Kultural sebagai strategi gerakan. Menurut M. Amin Abdullah (2006), ini adalah wujud "integrasi-interkoneksi", di mana agama menyatu dalam kearifan lokal tanpa mencederai kemurnian ajaran. Dalam implementasi munggahan di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), terlihat jelas empat pilar utama dakwah kultural:
Pertama, bersifat gembira dan inklusif. Menghindari wajah kaku dan konfrontatif, dakwah ini merangkul tradisi dengan kasih sayang. Sebagaimana gagasan Ahmad Jainuri (2002) tentang "akomodasi kultural", dakwah harus mampu membuat ajaran Islam diterima dengan sukacita tanpa resistensi.
Kedua, Berbasis akar rumput. Dakwah ini menyapa jamaah melalui kebiasaan sehari-hari yang sudah mengakar, sehingga nilai-nilai Islam masuk secara alami ke dalam sanubari umat. Ketiga, Purifikasi kontekstual. Persyarikatan Muhamamdiyah tetap menjaga kemurnian akidah dengan membuang unsur syirik, namun memberikan ruang bagi kreativitas sosial selama hal tersebut membawa maslahat (Pasha & Darban, 2003).
Keempat, Pemberdayaan nyata. Seperti yang ditunjukkan UHAMKA Agrivision, aspek spiritualitas dikombinasikan dengan kemandirian ekonomi. Dakwah tidak hanya mengajak orang untuk berdoa, tetapi juga memberikan solusi atas kebutuhan sosial masyarakat, menciptakan ekosistem syiar yang mandiri dan berdaya.
Jika seluruh lini AUM mampu mengintegrasikan kearifan lokal seperti munggahan dengan pemberdayaan ekonomi, maka syiar Islam akan terasa lebih mencerahkan. Kohesi sosial menguat, ekonomi lokal bergerak, dan jamaah merasa bahagia.
Mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk benar-benar "munggah"—naik secara spiritualitas, intelektualitas, dan kesejahteraan ekonomi. Selamat datang Ramadan, bulan penuh cahaya yang mencerahkan semesta alam.
Nah, apakah di amal usaha Muhammadiyah tempat pembaca beraktifitas juga ada tradisi menjelang Ramadan? Marhaban Yaa Ramadan.

