Misteri dan Makna di Balik Sosok Zulqarnain

Publish

25 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
76
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Misteri dan Makna di Balik Sosok Zulqarnain

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Identitas Zulqarnain tetap menjadi salah satu teka-teki paling memikat dalam studi Al-Qur'an. Namanya muncul secara khusus dalam Surah Al-Kahfi, sebuah surah yang penuh dengan narasi metafisika dan ujian iman. Melalui ayat ke-83, Al-Qur'an memperkenalkan tokoh ini sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang Zulqarnain. Katakanlah, 'Aku akan bacakan kepadamu sebagian dari kisahnya.”

Ayat ini mengindikasikan bahwa informasi yang diberikan bukanlah biografi lengkap yang mendetail, melainkan fragmen-fragmen kisah yang mengandung pelajaran penting bagi umat manusia. Namun, keterbatasan detail ini justru memicu perdebatan intelektual yang panjang di kalangan mufasir dan sejarawan mengenai siapa sebenarnya pria "Pemilik Dua Tanduk" ini.

Perdebatan Mengenai Alexander Agung dan Paradoks Kesalehan

Selama berabad-abad, banyak mufasir klasik cenderung mengidentifikasi Zulqarnain sebagai Alexander Agung (Alexander the Great), sang penakluk dari Makedonia yang hidup pada abad ke-4 SM. Julukan "Dua Tanduk" sering dikaitkan dengan representasi Alexander pada koin-koin kuno atau helmnya yang menyerupai tanduk domba, simbol dari dewa Ammon. Secara geografis, ekspansi Alexander yang membentang dari Yunani hingga India tampak sejalan dengan narasi Al-Qur'an tentang pengembara yang mencapai tempat terbenam dan terbitnya matahari.

Namun, identifikasi ini memunculkan paradoks besar. Dalam catatan sejarah arus utama, Alexander adalah seorang raja pagan yang tidak dikenal karena kesalehan monoteistiknya. Sebaliknya, Zulqarnain digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai hamba Allah yang sangat beriman, yang setiap tindakannya didasari oleh ketundukan kepada Tuhan dan keadilan sosial. Ketidakcocokan ini sempat terjembatani oleh literatur Kristen kuno dan legenda-legenda Suriah (Syriac) yang berkembang sebelum masa Islam. 

Dalam tradisi tersebut, Alexander dikonstruksi ulang sebagai pahlawan Kristen yang saleh yang berjuang demi menyebarkan pesan Tuhan. Meskipun secara kronologis Alexander hidup jauh sebelum kekristenan, narasi legendaris ini mengubahnya menjadi simbol pejuang iman. Bagi para pakar modern seperti Theodor Nöldeke dan Sidney Griffith, kemiripan antara legenda Suriah ini dengan struktur kisah dalam Al-Qur'an menunjukkan adanya dialog intertekstual yang kuat pada masa itu.

Upaya Mufasir Modern: Menemukan Kandidat yang Lebih Relevan

Karena adanya jurang antara karakter Alexander yang historis dengan Zulqarnain yang Al-Qur'ani, para mufasir modern mulai mencari tokoh sejarah lain yang lebih sesuai dengan profil "Raja yang Saleh". Salah satu pendapat yang paling kuat dikemukakan oleh Abul A'la Maududi, yang mengajukan nama Koresh yang Agung (Cyrus the Great), pendiri Kekaisaran Persia.

Koresh menawarkan kecocokan yang lebih harmonis secara teologis. Dalam catatan sejarah dan bahkan dalam literatur biblika (seperti Kitab Yesaya), Koresh dikenal sebagai penguasa yang sangat toleran dan adil. Ia adalah sosok yang membebaskan bangsa Yahudi dari pembuangan di Babilonia dan mengizinkan mereka kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci. 

Sifat-sifat kemanusiaan, perlindungan terhadap kaum tertindas, dan pengakuan terhadap keesaan Tuhan (dalam perspektif Zoroastrianisme awal atau pengaruh monoteisme lainnya) menjadikan Koresh kandidat yang lebih masuk akal sebagai prototipe Zulqarnain dibandingkan Alexander yang ambisius secara duniawi. Hal ini menunjukkan bahwa penafsiran Al-Qur'an bersifat dinamis, di mana data sejarah baru digunakan untuk memperdalam pemahaman terhadap teks suci.

Dimensi Wahyu dan Ujian Kenabian

Penting untuk diingat bahwa kisah Zulqarnain turun sebagai bentuk validasi kenabian. Masyarakat Mekah, atas saran para rabi Yahudi, memberikan teka-teki kepada Nabi Muhammad SAW untuk membuktikan apakah beliau benar-benar menerima wahyu. Mereka bertanya tentang para pemuda yang tertidur di gua (Ashabul Kahfi), tentang roh, dan tentang pengembara besar yang mencapai ujung bumi.

Dalam konteks ini, Zulqarnain bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan bukti ilmu gaib yang disampaikan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Para penanya menuntut sebuah narasi yang mampu melampaui pengetahuan lokal masyarakat Arab saat itu. Dengan menjawab tantangan ini, Al-Qur'an tidak hanya memberikan informasi sejarah, tetapi juga melakukan proses "pembersihan" narasi. Al-Qur'an mengambil inti sari dari cerita-cerita yang beredar di tradisi Suriah atau Persia, membuang elemen mitis yang berlebihan, dan menyajikannya kembali sebagai pelajaran moral yang jernih.

Esensi di Balik Nama: Pelajaran di Atas Identitas

Meskipun pencarian identitas Zulqarnain adalah upaya intelektual yang berharga, Al-Qur'an sendiri secara implisit menunjukkan bahwa nama dan biografi spesifik bukanlah prioritas utama. Mengapa Allah tidak menyebutkan nama aslinya secara eksplisit? Jawabannya terletak pada fungsi Al-Qur'an sebagai Huda (petunjuk). Yang jauh lebih krusial adalah pesan moral yang dibawa oleh tokoh tersebut: bagaimana kekuasaan yang absolut harus dibarengi dengan tanggung jawab moral yang besar kepada Tuhan.

Zulqarnain dalam Al-Qur'an adalah model penguasa ideal. Ia diberikan kekuasaan di bumi dan sarana untuk mencapai segala sesuatu, namun ia tidak sombong. Saat ia bertemu dengan kaum yang tertindas oleh Ya’juj dan Ma’juj, ia tidak meminta imbalan materi. Ia justru mengajak mereka bekerja sama membangun benteng baja, seraya menegaskan bahwa kekuatan itu adalah rahmat dari Tuhannya.

Narasi yang Melampaui Zaman

Kisah Zulqarnain adalah sebuah metafora tentang bagaimana kebenaran agama berinteraksi dengan sejarah manusia. Orang-orang pada masa Nabi mungkin menginginkan sebuah "versi Muslim" dari legenda yang sudah mereka dengar—sebuah cerita yang bisa membuat mereka terkesan. Allah memberikan lebih dari itu; Dia memberikan visi dunia di mana seorang pemimpin besar adalah dia yang paling tunduk kepada penciptanya.

Analogi yang tepat adalah seperti menonton film berdasarkan kisah nyata. Penonton mungkin tidak terpaku pada akurasi setiap detail teknis, namun mereka menangkap esensi dan inspirasi dari karakter tersebut. Al-Qur'an menggunakan sosok Zulqarnain untuk menanamkan nilai-nilai teologis, etika kekuasaan, dan keadilan sosial. 

Apakah dia Alexander, Koresh, atau tokoh lain yang sejarahnya telah hilang, ia tetap menjadi simbol abadi bagi setiap jiwa yang mencari cara untuk menyatukan kekuatan duniawi dengan kemurnian spiritual. Fokus utama kita bukanlah pada siapa dia di masa lalu, melainkan bagaimana kita bisa meneladani integritasnya di masa sekarang.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kontroversi KUHAP Baru dan Pertarungan Legitimasi di Ruang Publik Digital Penulis: Mukhlish Muhamma....

Suara Muhammadiyah

14 January 2026

Wawasan

Muhammadiyah dan Dinamika Politik Oleh: Ahmad Alkhawarizmi, S.H, Trainer Pusdiklat UMM, Pengurus MP....

Suara Muhammadiyah

3 May 2024

Wawasan

Menentang Penindasan Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Apakah Al....

Suara Muhammadiyah

5 January 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas   Sekitar 1400 tahun sila....

Suara Muhammadiyah

16 September 2024

Wawasan

Anak Saleh (7) Oleh: Mohammad Fakhrudin Perlu ditegaskan kembali bahwa anak saleh bukan sesuatu y....

Suara Muhammadiyah

5 September 2024