Mengungkap Keajaiban Al-Qur'an: Lebih dari Sekadar Bahasa
Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Pembahasan kita kali ini masih berkutat di surah kedua Al-Qur'an, yang menyimpan segudang hikmah namun juga potensi kesalahpahaman. Ayat ke-23 menjadi sorotan utama: 'Jika kamu ragu terhadap apa yang Kami wahyukan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah yang serupa dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.' Bagaimana kita melihat terjemahan ini dan apa pesan inti yang terkandung di dalamnya?
Sebetulnya kita perlu melihat ini lewat perspektif menarik. Banyaknya ayat yang memerlukan kajian mendalam di bab ini bukanlah indikasi keanehan, melainkan karena panjangnya surah tersebut dan juga karena para mufassir klasik seringkali meletakkan fondasi pemahaman suatu tema di surah-surah awal. Jadi, meskipun kita membahas ayat ini dari Surah Al-Baqarah, tantangan yang diungkapkannya merupakan tema sentral dalam keseluruhan Al-Qur'an.
Inti dari ayat ini adalah 'Tantangan Al-Qur'an', sebuah ajakan yang berulang kali diserukan kepada mereka yang meragukan keotentikan wahyu yang diterima Nabi Muhammad ﷺ. Para penentang kala itu menganggap Al-Qur'an hanyalah buah pikiran Nabi Muhammad ﷺ semata. Sebagai jawabannya, Al-Qur'an dengan tegas menyatakan dirinya sebagai firman Allah. Jika Nabi Muhammad ﷺ mencoba untuk mereka-reka wahyu, tentu Allah akan mencegahnya.
Namun, mari kita gali lebih dalam makna tantangan ini. Jika Anda, para peragu, beranggapan bahwa Nabi Muhammad ﷺ mampu menciptakan Al-Qur'an dan kemudian mengklaimnya sebagai wahyu Ilahi, maka buktikanlah! Coba hasilkan sesuatu yang setara. Para ulama klasik umumnya menafsirkan tantangan ini sebagai pengakuan akan keunggulan linguistik Al-Qur'an yang tak tertandingi oleh kemampuan manusia biasa tanpa pertolongan Allah. Lebih dari sekadar keindahan bahasa, Al-Qur'an juga memuat informasi tentang masa lalu dan masa depan, serta pengetahuan yang melampaui batas nalar manusia pada zamannya. Ia juga memiliki kekuatan untuk menyentuh relung hati dan jiwa.
Ini diyakini sebagai manifestasi pengetahuan Allah yang mendalam tentang psikologi manusia dan cara membimbing mereka. Di era modern, kita juga melihat bagaimana Al-Qur'an seolah berdialog dengan penemuan-penemuan ilmiah terkini, menimbulkan pertanyaan tentang sumber pengetahuan tersebut. Bahkan, kajian matematis menemukan pola-pola kompleks dalam struktur Al-Qur'an yang sulit dijelaskan secara kebetulan. Semua ini mengarah pada keyakinan akan adanya campur tangan ilahi dalam penyampaian risalah Nabi Muhammad ﷺ.
Kembali ke ayat yang kita bahas, Al-Qur'an menantang. Jika kamu ragu, buatlah satu surah yang serupa, ajaklah saksi-saksi selain Allah jika kamu benar. Namun, jika kamu tidak mampu – dan kamu pasti tidak akan mampu – maka takutlah akan api neraka. Lalu, mengapa ayat yang tampak jelas ini dianggap disalahpahami dan mengapa pemahaman yang benar begitu krusial?
Di sini ada perspektif yang menarik. Merujuk pada ayat lain (10:16) di mana Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatakan, 'Sungguh aku telah tinggal bersamamu beberapa waktu lamanya sebelum ini. Apakah kamu tidak memikirkan?' Ayat ini menekankan aspek psikologis dari tantangan tersebut. Dari sudut pandang psikologi manusia, sulit dipercaya bahwa seorang yang dikenal jujur dan terpercaya sepanjang hidupnya – seperti Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal oleh kaumnya – tiba-tiba berbohong dan mengklaim bahwa kata-kata yang berasal dari dirinya sendiri adalah wahyu dari Tuhan.
Tantangan ini seolah mengembalikan 'bola' kepada para penentang: jika secara psikologis hal ini mungkin terjadi, maka cobalah kalian sendiri! Jika seseorang merenungkan hal ini sejenak, akan disadari betapa sulitnya bagi orang yang jujur untuk mengarang sebuah tulisan dan kemudian dengan sadar menyatakan bahwa itu berasal dari Tuhan, padahal ia tahu itu hanyalah hasil pemikirannya sendiri. Jadi, inti dari tantangan ini terletak pada aspek psikologisnya: mustahil secara psikologis bagi Nabi Muhammad ﷺ untuk menjadi pengarang Al-Qur'an. Ia adalah wahyu yang diturunkan kepadanya oleh Allah Yang Maha Kuasa.
Ayat ini, yang berulang di berbagai surah, menghadirkan sebuah tolok ukur kebenaran yang unik: 'Tantangan Al-Qur'an'. Al-Qur'an secara terbuka menantang siapa pun yang meragukan keaslian wahyu yang diterima Nabi Muhammad ﷺ untuk menciptakan sebuah karya yang setara. Tantangan ini merupakan jawaban atas klaim para penentang yang menganggap Al-Qur'an sekadar produk pemikiran Nabi Muhammad ﷺ. Namun, Al-Qur'an dengan tegas menyatakan dirinya sebagai firman Allah, dan menegaskan bahwa pemalsuan wahyu oleh Nabi ﷺ tidak akan pernah diizinkan.
Inti tantangan ini adalah undangan untuk membuktikan klaim dengan tindakan nyata: jika kalian meragukan keilahian Al-Qur'an, maka hasilkanlah satu surah saja yang sebanding dengannya. Ajaklah semua sekutumu selain Allah untuk membantu upaya ini, jika kalian merasa berada di pihak yang benar. Para ulama klasik memahami tantangan ini sebagai pengakuan atas keunggulan Al-Qur'an dalam berbagai aspek, terutama kefasihan bahasa Arabnya yang luar biasa, yang diyakini melampaui kemampuan manusia biasa tanpa bimbingan Ilahi. Selain itu, Al-Qur'an juga memuat pengetahuan yang luas tentang masa lalu, masa depan, dan realitas yang tidak terjangkau oleh ilmu pengetahuan manusia pada zamannya. Kekuatan spiritualnya juga tak terbantahkan, mampu menyentuh dan mengubah hati manusia – sebuah bukti pengetahuan Allah yang mendalam tentang jiwa manusia.
Di era modern, kita juga menyaksikan bagaimana Al-Qur'an seolah beresonansi dengan penemuan-penemuan ilmiah terkini. Ini menimbulkan pertanyaan tentang sumber pengetahuannya. Lebih jauh lagi, analisis matematis terhadap struktur Al-Qur'an mengungkapkan pola-pola numerik yang kompleks dan saling terkait, yang sulit dijelaskan sebagai kebetulan semata. Semua ini menjadi indikasi kuat adanya intervensi ilahi dalam penyampaian risalah Nabi Muhammad ﷺ, sebuah kekuatan Maha Mengetahui yang menjaga keaslian Al-Qur'an hingga kini.
Kembali pada ayat yang menjadi fokus kita, Al-Qur'an secara eksplisit menyatakan. Jika keraguan masih menghantuimu tentang wahyu yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka tunjukkanlah satu surah yang setara, dan serulah para penolongmu selain Allah jika kamu memang jujur. Namun, jika kamu tidak mampu melakukannya – dan kamu pasti tidak akan mampu – maka takutlah akan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Lalu, mengapa ayat yang sedemikian jelas ini justru sering disalahpahami, dan mengapa pemahaman yang benar begitu esensial?
Saya ingin menyoroti aspek psikologis yang mendasari tantangan ini, merujuk pada ayat lain (10:16) di mana Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengingatkan kaumnya tentang kebersamaan mereka selama bertahun-tahun sebelum kenabian. Dari sudut pandang psikologi, sangat tidak mungkin bagi seseorang yang dikenal jujur dan amanah sepanjang hidupnya – seperti Nabi Muhammad ﷺ – untuk tiba-tiba membuat klaim palsu tentang wahyu ilahi.
Tantangan ini, oleh karena itu, juga merupakan ujian kejujuran dan akal sehat para penentang. Jika mereka benar-benar yakin bahwa Al-Qur'an hanyalah karangan manusia, maka buktikanlah sendiri. Namun, seorang yang jujur akan menyadari betapa sulitnya, bahkan mustahilnya, untuk mengarang sebuah karya dan kemudian dengan sadar mengakuinya sebagai firman Tuhan. Inilah inti dari tantangan ini: secara psikologis, Nabi Muhammad ﷺ tidak mungkin menjadi pengarang Al-Qur'an. Ia adalah wahyu yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah Yang Maha Kuasa.
Tentu saja, Al-Qur'an adalah mahakarya linguistik. Namun, keajaibannya melampaui sekadar bahasa. Ia juga mengandung kebenaran ilmiah, struktur matematis yang menakjubkan, dan aspek-aspek luar biasa lainnya. Meskipun demikian, menurut pemahaman saya, konteks utama ketika Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan Al-Qur'an adalah untuk membuktikan bahwa ia adalah wahyu dari Allah, bukan semata-mata karya sastra manusia. Pada saat itu, tantangan yang paling relevan adalah membuktikan sumber ilahi dari pesan tersebut. Dan Allah-lah yang memiliki pengetahuan yang paling sempurna.