Mengenang Syed Muhammad Naquib al-Attas: Ketika Ilmu, Amal, dan Peradaban Berada dalam Satu Tarikan Nafas

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
118
Syed Muhammad Naquib al-Attas

Syed Muhammad Naquib al-Attas

Mengenang Syed Muhammad Naquib al-Attas: Ketika Ilmu, Amal, dan Peradaban Berada dalam Satu Tarikan Nafas

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta 

Ada tokoh yang hidup bukan sekadar sebagai individu dalam sejarah, tetapi sebagai penanda zaman. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka, melainkan juga jejak pemikiran yang terus bekerja dalam kesadaran umat. Demikianlah sosok Syed Muhammad Naquib al-Attas—seorang filsuf besar Islam yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk memulihkan martabat ilmu dan peradaban.

Pada hari pemakamannya di Masjid Taqwa TTDI, suara duka bercampur rasa hormat terdengar melalui pidato putra sulungnya, Syed Ali Tawfik al-Attas. Dalam suasana haru setelah salat jenazah, ia tidak memilih untuk sekadar memuji kebesaran intelektual ayahnya—sesuatu yang, menurutnya, telah diketahui banyak orang melalui karya-karya dan pengaruh pemikiran yang luas. Sebaliknya, ia mengingatkan hadirin pada satu dimensi penting yang sering terlewat dalam memandang sosok Al-Attas: bahwa ia bukan hanya seorang pemikir besar, melainkan juga seorang pelaku sejarah—seorang yang bekerja, merancang, dan mewujudkan gagasan.

Selama ini dunia mengenal Al-Attas sebagai filsuf Islam terkemuka yang menggagas konsep Islamisasi ilmu pengetahuan dan memetakan kembali worldview Islam sebagai dasar kebangkitan peradaban. Namun, sebagaimana disampaikan oleh putranya, warisan Al-Attas tidak berhenti pada wilayah gagasan. Ia adalah sosok yang mengubah pemikiran menjadi institusi, visi menjadi struktur, dan konsep menjadi realitas yang dapat dirasakan umat.

Sejak usia muda, bakat kepemimpinan dan daya kreatifnya telah tampak. Pada usia sekitar lima belas tahun, ia telah diminta untuk merumuskan makna sebuah gerakan politik yang pada masa itu dikenal dengan nama United Malays National Organisation, yang dahulu disebut PEKEMBAR. Bahkan simbol bendera yang kemudian menjadi lambang persatuan nasional turut dirancang melalui tangannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa sejak awal Al-Attas tidak hanya berada di ruang kontemplasi intelektual, tetapi juga di arena praksis kebangsaan.

Jejak tindakan itu semakin nyata ketika ia menggagas berdirinya sebuah universitas Islam yang berakar pada tradisi intelektual Islam klasik namun tetap relevan dengan dunia modern. Gagasan tersebut akhirnya terwujud melalui pendirian International Institute of Islamic Thought and Civilization pada tahun 1987. Lembaga ini bukan sekadar pusat studi, melainkan representasi konkret dari pandangan hidup Islam yang ia rumuskan selama puluhan tahun.

Yang menarik, keterlibatan Al-Attas dalam proyek ini tidak hanya bersifat konseptual. Ia turut merancang arsitektur bangunan, tata ruang, hingga detail-detail interiornya. Setiap unsur—mulai dari desain perpustakaan, bentuk lampu, hingga motif ubin—merupakan bagian dari visi estetika dan intelektualnya tentang bagaimana sebuah pusat peradaban Islam seharusnya diwujudkan. Perpustakaan yang ia bangun pun menjadi salah satu simbol warisan keilmuan yang monumental, dengan koleksi lebih dari seratus lima puluh ribu jilid buku.

Warisan tersebut menunjukkan bahwa Al-Attas memahami peradaban sebagai kesatuan antara ilmu, seni, dan tata kehidupan. Baginya, ilmu bukan sekadar abstraksi teoritis, melainkan kekuatan yang membentuk kebudayaan. Dalam pengertian inilah ia tidak hanya dikenal sebagai filsuf, tetapi juga sebagai arsitek peradaban.

Namun, di balik semua prestasi intelektual dan institusional itu, putranya menekankan satu sisi yang lebih mendasar: karakter pribadi. Dalam kenangan keluarganya, Al-Attas adalah seorang yang teguh memegang amanah. Ia tidak berkata dusta, dan ketika menyampaikan sesuatu, ia berbicara dengan kebenaran. Ketika memegang janji, ia menjaganya dengan kesungguhan.

Janji terbesar yang ia pegang sepanjang hidupnya adalah janji kepada umat Islam: mendidik mereka. Pendidikan, dalam pandangannya, bukan sekadar transmisi pengetahuan, tetapi proses memuliakan manusia—menjadikan umat Islam kembali memiliki martabat intelektual dan spiritual dalam peradaban dunia.

Karena itu, wafatnya seorang tokoh besar seperti Al-Attas memang menghadirkan rasa kehilangan yang mendalam. Umat mengucapkan kalimat yang selalu terucap ketika menghadapi musibah besar: Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Namun dalam duka itu, sebagaimana diingatkan oleh keluarganya, umat juga perlu merayakan warisan yang telah ia tinggalkan. Warisan itu bukan hanya berupa buku-buku, institusi, atau gagasan filsafat, melainkan sebuah teladan tentang bagaimana ilmu harus dijalani dengan integritas, keberanian, dan kesungguhan.

Kepergian Syed Muhammad Naquib al-Attas menutup satu bab penting dalam sejarah pemikiran Islam modern. Akan tetapi, gagasan-gagasannya tentang adab, worldview Islam, dan Islamisasi ilmu pengetahuan terus hidup dalam ruang-ruang akademik, pesantren, dan universitas di berbagai belahan dunia.

Seorang pemikir boleh saja wafat, tetapi peradaban yang ia bangun melalui ilmu dan amal akan terus berdenyut melampaui zamannya. Dalam pengertian itulah Al-Attas tidak sekadar meninggalkan kenangan—ia meninggalkan arah.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya, menempatkannya di taman surga yang luas, dan menjadikan warisan ilmunya sebagai cahaya bagi generasi-generasi Muslim yang akan datang. Aamiin.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Matematika Tanpa Jiwa Oleh: Sindi Nur Diansyah, Guru Matematika SMA Muhammadiyah 3 Jakarta, Kader ....

Suara Muhammadiyah

23 February 2026

Wawasan

Oleh: Mohammad Fakhrudin Warga Muhammadiyah, tinggal di Magelang Kota Oleh: Iyus Herdiyana Saputra....

Suara Muhammadiyah

11 January 2024

Wawasan

Membangun Sistem Hukum, Membangun Peradaban yang Berkemajuan Oleh: Akmaluddin Rachim Haedar Nashir....

Suara Muhammadiyah

12 November 2025

Wawasan

Ramadhan, Al-Qur'an, dan Pengetahuan Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja Universitas Al Azhar Indonesia&....

Suara Muhammadiyah

27 February 2026

Wawasan

Oleh: Ir Tito Yuwono, ST., MSc., PhD., IPM, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia....

Suara Muhammadiyah

23 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah