Matematika Tanpa Jiwa

Publish

23 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
117
Ilustrasi

Ilustrasi

Matematika Tanpa Jiwa

Oleh: Sindi Nur Diansyah, Guru Matematika SMA Muhammadiyah 3 Jakarta, Kader Nasyiatul Aisyiyah

Saya masih mengingat jelas aroma kapur tulis dan tajamnya bau spidol belasan tahun lalu. Saat itu, saya masih duduk di bangku sekolah. Ketika guru memberikan latihan soal matematika, kami harus bergelut membolak-balik buku paket yang tebal, mencoret-coret lembar buram dengan runtutan rumus yang panjang, dan sering kali harus mengulang dari awal jika perhitungan meleset. Rasanya masih terekam jelas betapa membuncahnya kebahagiaan saat guru membubuhkan nilai di buku tulis; sebuah skor yang lahir dari proses yang melelahkan. Namun, justru dari kelelahan itulah saya bersyukur, karena di sanalah saya merasakan proses mendewasakan nalar.

Kini, setelah roda waktu berputar dan menempatkan saya di depan kelas sebagai seorang guru matematika tingkat SMA, bayangan masa lalu itu seolah memudar. Proses panjang yang saya alami dahulu tidak lagi saya temukan pada murid-murid saya. Suasana kelas berubah total. Seiring gempuran digitalisasi, meja-meja kayu yang dulu penuh tumpukan buku kini berganti deretan laptop dan tablet.

Jujur saja, saya sering termenung: dari mana semua ini bermula? Sebagai guru SMA, saya berada dalam posisi dilema yang menyesakkan. Murid-murid hari ini adalah "produk" dari proses instan sejak jenjang sebelum-sebelumnya. Saat saya memberikan latihan soal, mereka dengan mudah menemukan jawabannya di mesin pencari atau aplikasi pintar. Mau serumit apa pun soal yang saya susun, jawaban hadir dalam sekejap mata. Tidak ada peluh karena bingung, tidak ada coretan salah. Semuanya tampak bersih, cepat, dan... kosong.

Ilusi Nilai dan Tumpulnya Nalar Siswa

Ketidakberdayaan saya melihat proses instan ini bukan sekadar keresahan tentang nilai, melainkan kekhawatiran tentang masa depan kognisi manusia. Fenomena ini sejalan dengan peringatan Wendy Suzuki, pakar saraf dari New York University dalam karyanya, Healthy Brain, Healthy Life. Ia menganalogikan otak tak ubahnya otot tubuh yang menuntut latihan konsisten agar tetap prima. Jika otot yang jarang digerakkan akan menyusut, begitu pula kapasitas berpikir kita.

Ketergantungan berlebih pada Kecerdasan Buatan (AI) ibarat memberikan kursi roda pada orang yang mampu berjalan; ia memudahkan, namun perlahan melumpuhkan. Tanpa sadar, kita menjebak generasi ini dalam kondisi otak yang malas karena tidak lagi terbiasa bergulat dengan kerumitan. Jika "olahraga berpikir" ini hilang, kemampuan manusia untuk bernalar pun akan turut tumpul.

Kita  tidak  bisa  sepenuhnya  menyalahkan  siswa.  Mereka  hanya  korban dari mindset lama yang memuja kesempurnaan nilai tanpa peduli tanggung jawab proses. Mereka dikejar bayangan angka seratus, tanpa sempat memahami apa yang mereka kerjakan. Padahal, mereka sering tidak sadar bahwa AI yang pintar merangkai kata adalah "anak kandung" dari matematika. Di balik layar ponsel itu, jantungnya adalah logika, biner, dan statistika. Matematika adalah "ibu" dari segala AI. Ironisnya, sang anak yang terlampau jenius ini kini justru menantang cara kita mengajarkan sang ibu di sekolah.

Saat Guru Menilai Mesin, Bukan Manusia

Keresahan yang saya rasakan di ruang kelas ini rupanya bukan sekadar firasat atau nostalgia seorang guru. Angka-angka di lapangan justru berteriak lebih lantang. Berdasarkan potret terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, dari 8.700 responden yang disurvei, sebanyak 27,34 persen menyatakan telah menggunakan AI, sebuah angka yang terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Namun, yang jauh lebih mengejutkan adalah lonjakan penggunaan AI ini paling deras terjadi justru di sektor pendidikan.

Bayangkan saja, akses konten AI untuk kebutuhan pembelajaran melesat tajam dari 21,84 persen di tahun sebelumnya menjadi hampir 44 persen dalam waktu singkat. Data ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa layar-layar ponsel siswa kita kini telah bertransformasi menjadi tutor digital yang bekerja tanpa henti. Pendidikan kita sedang kebanjiran asisten mesin, dan jika kita tetap bertahan dengan cara menilai yang konvensional, kita sebenarnya sedang membiarkan mesin-mesin itu mengambil alih peran nalar siswa secara perlahan.

Ketika teknologi mengubah cara pikir siswa secara drastis, kita tak boleh lagi bergeming dengan metode usang. Selama kesempurnaan nilai 100 masih menjadi berhala, tugas guru adalah meruntuhkan ilusi tersebut dengan menggeser standar penilaian dari hasil akhir ke proses nalar. Faktanya, memberikan PR matematika hari ini telah menjadi dilema besar; dengan jawaban instan yang dibawa siswa, saya sadar bahwa guru sebenarnya sedang menugaskan AI, bukan lagi manusia. Kita akhirnya terjebak menilai ketajaman algoritma, bukan kedalaman permenungan siswa.

Sudah saatnya ujian sesungguhnya bukan lagi terjadi di lembar kertas yang dibawa pulang, melainkan dalam ruang diskusi kelas. Setiap langkah jawaban harus bisa dijelaskan asal-usulnya secara jujur oleh sang pemilik nama di atas kertas tersebut.

Mengasuh Sang Ibu: Menghidupkan Kembali Jiwa di Ruang Kelas

Sejalan dengan arah baru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pembelajaran matematika harus ditarik kembali ke akarnya: Mindful, Joyful, dan Meaningful.

Pertama, Mindful (Sadar). Di SMA, kita harus berhenti sekadar "menghabiskan materi". Saat mengajarkan perhitungan modal akhir dengan sistem bunga tunggal, misalnya, jangan hanya menyodorkan rumus untuk dihafal. Ajak mereka sadar bagaimana rumus itu lahir dari kebutuhan nyata manusia dalam mengelola masa depan finansialnya. Tugas guru adalah mengajak siswa "hadir" dalam proses logika, bukan sekadar memindahkan angka dari layar ke kertas.

Kedua, Joyful (Menyenangkan). Kesenangan muncul dari "Aha! Moment" kepuasan intelektual saat berhasil memecahkan teka-teki logika yang sulit. AI seharusnya dimanfaatkan sebagai asisten untuk membebaskan siswa dari beban hitung manual yang membosankan, sehingga mereka bisa fokus pada strategi pemecahan masalah. Menyenangkan itu muncul saat mereka menjadi tuan atas teknologi, bukan budak algoritma.

Ketiga, Meaningful (Bermakna). Matematika adalah alat untuk membaca dunia. Statistik tidak boleh hanya tentang menghitung angka acak, tapi tentang membaca data kemiskinan atau tren perubahan iklim. Ketika matematika bermakna, keinginan menggunakan jalan pintas AI demi nilai semu akan berkurang dengan sendirinya.

Upaya pemerintah dalam menggiatkan program AI dan coding sudah tepat. Namun, langkah ini akan hambar jika kita tidak merombak cara kita memaknai belajar. Kita tidak sedang mencetak kalkulator, karena kalkulator sudah ada dalam saku mereka. Kita sedang mencetak manusia yang mampu memimpin teknologi dengan hati yang tenang, semangat ceria, dan visi yang bermakna. Hanya dengan cara inilah, matematika sebagai "sang ibu" akan kembali dihormati oleh "sang anak" yang bernama kecerdasan buatan itu.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Refleksi Milad ke-60, Menuju IMM Progresif di Masa Depan Oleh: Muhammad Ikhlas Prayogo, Sekertaris ....

Suara Muhammadiyah

17 March 2024

Wawasan

Pisah Kamar Oleh: Joko Intarto Pembiayaan proyek wakaf merupakan problem umum para pengelola lemba....

Suara Muhammadiyah

17 November 2023

Wawasan

Kehendak Bebas Manusia dalam Genggaman Ilahi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univer....

Suara Muhammadiyah

19 September 2025

Wawasan

Islam dan Zoroastrianisme Oleh: Donny Syofyan/Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Persa....

Suara Muhammadiyah

21 February 2025

Wawasan

Politik Inklusif Bagi Perempuan Oleh: Sakinah Fitrianti Politik inklusif hadir sebagai upaya mew....

Suara Muhammadiyah

10 October 2024