Membangun Ekosistem UMKM Melalui SPKL-MU

Publish

20 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
102
Gambar: SPKL-MU 1 unit EVCS dan 1 unit BSS pada RSMA

Gambar: SPKL-MU 1 unit EVCS dan 1 unit BSS pada RSMA

Membangun Ekosistem UMKM Melalui SPKL-MU

Oleh: Khafid Sirotudin, Ketua LP UMKM PWM Jawa Tengah

Ramadan tahun 1446H/2025M, tepatnya 15 Maret 2025, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan dan menghibahkan Becak Elektrik (Betrik) 1912 di halaman SM Tower Yogyakarta. Betrik 1912 adalah salah satu hasil riset hilirisasi yang dilakukan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sejak 2018. Demikian pernyataan Prof. Muchlas MT, Rektor UAD yang hadir bersama Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agung Danarto dan Ketua MPM Dr. M. Nurul Yamin.

Tujuan pemberian Betrik 1912 kepada anggota Paguyuban Abang Becak KH. Ahmad Dahlan (PABELAN) kota Yogyakarta, untuk mendukung dunia pariwisata dan ekonomi kreatif serta  memberikan dampak ekonomi guna menaikkan penghasilan para pengayuh becak, sekaligus mempromosikan moda transportasi umum tenaga listrik yang ramah lingkungan.

Pada Desember 2025 lalu, Presiden Prabowo memberikan 200 unit Becak Listrik kepada para pengemudi becak di berbagai daerah, termasuk di Jawa Tengah dan DIY. Rencananya, becak listrik produksi PINDAD yang dibiayai secara pribadi Presiden Prabowo bakalan diperluas dan diperbanyak. Penyalurannya melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) bekerja sama dengan Pemerintah Daerah. Becak listrik seharga Rp 22 juta per unit ini dilengkapi fitur yang dibutuhkan dengan masa garansi 1 tahun.

Pemberian Betrik 1912 yang dilakukan MPM PP Muhammadiyah dan UAD, maupun Becak Listrik oleh Presiden Prabowo menunjukkan kepedulian terhadap kondisi ekonomi “wong cilik” (abang becak). Sebuah laku ijtihadi (pembaharuan) terhadap moda transportasi umum serta laku peradaban mulia di bidang sosial ekonomi masyarakat. Becak listrik merupakan alat transportasi ramah lingkungan yang dibutuhkan pada masa kini dan mendatang.

Mengelola Potensi: Dari Jamaah ke Kekuatan Ekonomi

Saya sering menyampaikan di beberapa forum pengajian ekonomi UMKM, bahwasanya Muhammadiyah itu tidak kekurangan potensi. Kita punya jamaah yang besar, jaringan luas, dan amal usaha yang tersebar di berbagai sektor. Dari akar rumput di tingkat ranting (desa/kelurahan) sampai wilayah (provinsi), dari musala dan masjid sampai kampus, dari rumah sakit sampai panti asuhan, dari perkotaan hingga pedesaan, dari Indonesia hingga PCIM di luar negeri, semuanya ada.

Namun pertanyaannya sederhana: Apakah potensi itu sudah dikelola secara sungguh-sungguh menjadi kekuatan ekonomi?

Selama seabad lebih kita rajin menggerakkan pengajian, memperkuat dakwah, dan membangun amal usaha. Tetapi dalam banyak kesempatan, aktivitas ekonomi masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal, jika kita mampu menghubungkan jamaah, membangun jaringan dan ribuan usaha dalam satu sistem, maka kekuatannya akan berlipat.

Disinilah kehadiran Lembaga Pengembang Usaha Mikro Kecil Menengah (LP-UMKM) Muhammadiyah menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar menjadi lembaga pendamping dan lembaga pelatihan, tetapi sudah seharusnya naik kelas menjadi motor penggerak ekonomi umat.

Dari Pemberdayaan ke Ekosistem UMKM

Memasuki usia pengabdian 3 tahun (April 2023-Februari 2026) LP-UMKM PWM Jawa Tengah telah melakukan banyak hal. Kita merintis Kampus Ramah UMKM dengan pendirian UMKM Center di 6 Universitas Muhammadiyah dan Aisyiyah se Jawa Tengah; melakukan MoU dan kerjasama dengan LP-UMKM PWM DIY, Jawa Timur, dan Jawa Barat; merintis dan membangun media; mendirikan Koperasi Serba Usaha; mengikuti pameran dan MICE.

Kami tidak lupa mengadakan pengajian ekonomi secara rutin dan periodik; menyelenggarakan dan mengikuti pelatihan dan workshop; pendampingan dan penguatan kelembagaan; fasilitasi gratis sertifikasi produk halal; Rakerwil dan Rakorwil; hingga membukakan akses permodalan ke BPRS dan Bank Syariah. 

Paling mutakhir, LP-UMKM diberi tugas persyarikatan sebagai konsolidator Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM), Lembaga Keuangan Mikro berbadan hukum Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS). Dimana PWM Jawa Tengah memiliki BTM terbanyak se Indonesia dan telah membentuk Pusat BTM di Wiradesa Pekalongan, serta Induk BTM.

Kita juga membangun jejaring antar pelaku usaha, mengadakan temu bisnis, dan mendorong lahirnya produk-produk barang dan jasa bersama. Kolaborasi dan sinergi dengan MLO (Majelis, Lembaga, Ortom) dan AUM, afirmasi pelaku UMKM Perempuan –khususnya BUEKA (Badan Usaha Ekonomi Aisyiyah) dan BUANA (Badan Usaha Amal Nasyiatul Aisyiyah). Bahkan dalam beberapa kasus, kita mulai masuk ke skala produksi yang lebih besar melalui kolaborasi lintas Daerah dan Wilayah.

Kalau melihat data BPS, potensi UMKM ini sangat besar. Sebanyak 1,45 juta unit UMKM di Jateng adalah jumlah terbesar kedua di Indonesia. Kami memperkirakan sekitar 10-12 persen (150.000-170.000) unit diantaranya berada di dalam jejaring UMKM Muhammadiyah. Artinya, ada ratusan ribu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah yang dapat kita konsolidasikan dalam satu kekuatan ekonomi. 

Memang membutuhkan waktu agar masing-masing unsur (MLO, UPP, AUM, BUMM, BUMWM –Badan Usaha Milik Warga Muhammadiyah) memiliki kesadaran kolektif melakukan “ekonomi berjamaah” : bersinergi dan berkolaborasi menjalankan bisnis berjamaah. Saling berbagi peran sesuai bidang usaha, jenis produk (barang dan jasa), jaringan distribusi dan layanan supply and chain, sistem pemasaran (off-line/on-line), baik secara internal maupun eksternal persyarikatan.

Gagasan besar ini tidak boleh berhenti pada konsep. Di beberapa Wilayah dan Daerah, ia mulai diuji dalam praktik nyata. LP-UMKM Jawa Tengah adalah salah satu contoh paling menarik. Hingga akhir tahun 2025, belum semua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (35 PDM) berdiri LP-UMKM. Meskipun faktanya, sebagian besar unit-unit bisnis milik warga Muhammadiyah dan AUM (99%) berada dalam skala bisnis UMKM: Omzet di bawah Rp 50 Milyar setahun atau Aset di bawah Rp 5 Milyar.

Kita juga harus jujur, sebagian besar UMKM masih bergerak dalam produksi yang sama, skala kecil, pasar masih lokal, dan belum sepenuhnya terintegrasi. Saya sering menyuarakan bahwa problem laten UMKM itu ada “3 Tas”, yaitu kualitas, kuantitas dan kontinyuitas. Disamping sebagian besar UMKM dan IKM belum siap naik kelas: masih termasuk ke dalam skala PIRT (Pembinaan Industri Rumah Tangga). Ke depan, LP-UMKM tidak cukup hanya memperkuat pelaku, namun kita harus mulai membangun Ekosistem Bisnis UMKM.

Membaca Arah Zaman: Ekonomi Baru Sedang Tumbuh

Hari ini kita sedang menyaksikan perubahan besar. Kendaraan listrik (EV: Electric Vehicle) mulai masuk, energi mulai beralih, dan pola konsumsi masyarakat berubah. Banyak orang yang melihat ini sebagai urusan teknologi. Tapi bagi kami, ini adalah pergeseran struktur ekonomi.

Ketika kendaraan listrik berkembang, maka yang tumbuh bukan hanya industri mobil dan kendaraan roda dua/tiga, tetapi juga: infrastruktur pengisian daya, layanan pendukung (sales, service, sparepart), hingga model bisnis baru berbasis energi. Dalam konteks ini, kehadiran SPLK-MU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Muhammadiyah) menjadi sangat penting.

SPKL-MU: Infrastruktur sebagai Peluang Usaha

SPKL sering dilihat sebagai fasilitas teknis tempat mengisi daya kendaraan listrik. Tapi kalau kita lihat lebih dalam, ini adalah “titik ekonomi”.

Satu SPKL-MU bisa menjadi tempat orang berhenti cukup lama, 10 menit untuk sepeda motor hingga 60-90 menit untuk mobil listrik. Dalam waktu itu, akan muncul kebutuhan lain: konsumsi, layanan, interaksi. Artinya, di sekitar SPKL- MU bisa tumbuh: usaha retail, kuliner, jasa layanan, bahkan komunitas (Hub).

Dengan kata lain, SPKL-MU adalah simpul ekonomi baru. Kalau kita mampu masuk ke sektor ini, maka kita tidak hanya menjadi pelaku UMKM, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai yang lebih besar.

Belajar dari VGreen: Ekosistem itu Dibangun, Bukan Ditunggu

Kita bisa belajar dari langkah besar VinGorup: VinFast produsen Mobil dan Sepeda Motor Listrik (EV: Electric Vehicle), VGreen membangun dan mengembangkan infrastruktur SPKL berupa BSS (Batery Swap Station) sebanyak 80.000 dan EVCS (Electric Vehicle Charging Station) 25.000 unit. 

Mereka tidak menunggu pasar siap. Mereka memilih membangun infra-struktur SPKLU lebih dahulu. Mereka menyiapkan charging station, membuka kemitraan dan memperluas jaringan secara progresif. Artinya, mereka tidak sekedar menjual mobil atau kendaraan listrik, tetapi membangun ekosistem.

Ini pelajaran penting. Dalam ekonomi modern, yang kuat bukan hanya yang punya produk, tetapi yang menguasai sistem.

Urgensi bagi LP-UMKM 

Di sinilah kami melihat urgensi LP-UMKM Muhammadiyah Jawa Tengah (bersama DIY) untuk mulai masuk ke sektor SPKL, termasuk melalui skema kemitraan dengan V-Green membangun SPKL-MU.

Ada beberapa alasan mendasar: Pertama, Peluang ekonomi terbuka lebar. Dengan rencana mendirikan 80.000 titik SPKLU V-Green di Indonesia pada tahun 2026, ruang kemitraan terbuka sangat besar. Ini peluang dan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

Kedua, kita punya basis aset  dan jaringan yang kuat. Muhammadiyah Jawa Tengah dan DIY memiliki ribuan titik strategis AUM Pendidikan (sekolah, kampus, ponpes/MBS), AUM Kesehatan (rumah sakit dan poliklinik pratama), AUM Sosial (PAY Muhammadiyah-Aisyiyah, masjid), kantor Sekretariat (PWM, PDM, PCM), BUMM (BPRS, Sinar Muhindo, dll) dan BTM (KSPPS: Baitut Tamwil Muhammadiyah). 

Selama ini di setiap titik lokasi yang dimiliki, telah menjadi tempat berkumpul beragam aktivitas dan menjadi tempat masyarakat berinteraksi secara spiritual, sosial, dan ekonomi. Banyak diantara aset itu berada di tempat strategis yang potensial untuk disewakan dan ditempatkan SPKL-MU V-Green. Satu BSS hanya membutuhkan 1-2 meter dan EVCS 12-15 meter persegi.

Ketiga, keterkaitan langsung dengan UMKM. SPKL-MU bisa menjadi pusat pertumbuhan UMKM binaan dan jejaring Muhammadiyah. Dari satu titik, bisa lahir dan berkembang banyak usaha kecil yang saling terhubung (UMKM-Hub).

Keempat, menjaga kemandirian ekonomi umat. Jika kita tidak masuk menjadi pemain di sebuah ekosistem bisnis, maka kita hanya akan menjadi penonton atau pengguna (konsumen). Tetapi kalau kita ikut membangun SPKL-MU, maka kita menjadi pemain dan bagian dari sistem.

Kelima, sarana promosi bagi AUM dan UMKM-Mu. Setiap lokasi AUM Pendidikan, Kesehatan dan Sosial yang dipasang SPKL-MU secara otomatis dipromosikan secara digital dan mendunia oleh Vin-Group selama masa sewa 3-5 tahun. Kita mengetahui biaya promosi sebuah billboard di pinggir jalan raya mencapai puluhan juta Rupiah untuk masa tayang 1 bulan. Masyarakat yang “nggalbo” (menyadari) dan melihat media promosi billboard juga terbatas pada mereka yang berkendara, bersepeda, berlari atau berjalan di jalan itu.

Keenam, tidak membutuhkan modal dan Investasi. Setiap titik lokasi aset milik persyarikatan dapat diajukan sebagai lokasi SPKL-MU. Setelah dilakukan kurasi serta mendapatkan persetujuan dari VGreen, maka dapat segera mendapatkan uang sewa untuk ditempatkan SPKL-MU. Semua biaya perijinan, pembangunan dan pemasangan instalasi, serta perawatan SPKL-MU sepenuhnya menjadi tanggungjawab VGreen Indonesia.

Tantangan: Naik Kelas ke Infrastruktur

Kita tidak boleh menutup mata terhadap peluang dan tantangan.

Masuk ke Green Economy dan EV berarti: membutuhkan investasi yang tidak kecil; memerlukan pemahaman teknologi; harus beradaptasi dengan regulasi; dan membutuhkan kemitraan strategis. Hal ini menuntut perubahan “state of mind” (keadaan pikiran: kondisi mental, emosional dan suasana hati) serta “way of thinking” (cara berpikir). Dari sekadar pemberdayaan UMKM, menjadi pembangunan ekosistem ekonomi.

Kalau membaca sejarah satu abad Muhammadiyah, kita sudah terbiasa membangun hal-hal besar, diantaranya: merubah arah kiblat salat, mendirikan media (Suara Muhammadiyah), membangun institusi atau lembaga pendidikan tingkat Dasar dan Menengah, PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah: Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, Universitas), rumah sakit dan poliklinik, masjid dan musala, pelopor pelembagaan dan pengelolaan zakat infak sedekah, serta yang paling mutakhir KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal). Artinya, secara kelembagaan, kita punya pengalaman. Bukankah “pengalaman adalah guru yang terbaik”.

Berjamaah Membangun Sistem Ekonomi

Saya selalu percaya, kekuatan Muhammadiyah ada pada jamaah (anggota, warga, simpatisan), jamiyyah (tata organisasi dan kepemimpinan), dan sedekah jariyah berupa aneka “monumen amal saleh” (AUM, BUMM, dll.). Namun ketiga kekuatan itu harus diikat dalam sebuah sistem.

SPKL-MU bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk itu. Dari satu titik SPKL-MU, kita bisa: menggerakkan UMKM, membangun pasar internal, menghubungkan pelaku usaha, hingga menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri.

Penutup: Momentum Harus Diambil

Perubahan tidak menunggu kita siap. Perubahan akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita. Kendaraan listrik, energi baru, green economy dan ekonomi berbasis ekosistem adalah kenyataan yang sedang tumbuh. Bagi LP-UMKM Muhammadiyah Jawa Tengah dan DIY, ini bukan sekadar peluang, tetapi sebuah momentum.

Kita punya potensi. Kita punya jaringan. Kita punya pengalaman. Yang dibutuhkan tinggal satu: keberanian untuk melangkah lebih jauh. Kalau kita tidak mulai sekarang, bisa jadi beberapa tahun ke depan kita hanya menjadi penonton: melihat ekosistem besar tumbuh, tanpa pernah menjadi pemain di dalamnya.

Soal kerjasama lebih lanjut di bidang riset dan pengembangan teknologi EV biarlah menjadi domain PTMA (UAD, UMS, UM Jember, dll). Untuk pemasaran (distributor, keagenan) VinFast bisa menjadi unit bisnis baru BUMM. Perbengkelan dan suku cadang (service and spare-part) dapat diambil sebagai unit bisnis Sekolah Vokasi Muhammadiyah (SMKM/PTM). 

Last but not least, Vinfast telah meresmikan pabrik kendaraan listrik seluas 171 hektar di Subang pada 15 Desember 2025, dengan investasi awal Rp 4,8 Triliun dari total investasi US$ 1Miliar (Rp17 Triliun, kurs US$1=Rp17.000). Mulai April 2026, ditargetkan memulai produksi massal mobil Vinfast sebanyak 50.000 unit per tahun serta menciptakan 15.000 lapangan pekerjaan. Sebuah peluang bagi BUMM dan Majelis Ekonomi dan Bisnis Muhammadiyah bersinergi membangun industri EV pada lokasi lain di luar Jabar, DKI dan Banten.

LP UMKM PWM Jawa Tengah dan DIY sedang memulai satu hal besar, yaitu membangun ekosistem ekonomi umat yang terintegrasi: dari produksi, pembiayaan, hingga distribusi.

Yogyakarta, 27 Maret 2026 

 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Memaknai Dialog Dalam Isra’ Mikraj  Oleh : Dr. Nasrullah, M. Pd., Pensiunan Guru SMA, Al....

Suara Muhammadiyah

17 January 2026

Wawasan

Pro-kontra Tambang dan Komitmen Bermuhammadiyah Oleh : Haidir Fitra Siagian Sebagai organisasi sos....

Suara Muhammadiyah

28 July 2024

Wawasan

Idul Fitri dan Keadaban Publik Oleh: Muhammad Qorib, Dosen Fakultas Agama Islam UMSU dan Bendahara ....

Suara Muhammadiyah

12 March 2026

Wawasan

MPI: Garda Terdepan Wujudkan Visi “Digital Organization” Muhammadiyah  Oleh: Labud....

Suara Muhammadiyah

27 November 2023

Wawasan

Menjadi Muslim Futurist yang Meneguhkan dan Mencerahkan Penulis: Nur Ngazizah, Mahasiswa Doktoral U....

Suara Muhammadiyah

2 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah