Masyarakat Demam Kripto, Akademisi UM Bandung: Waspada Investasi Tanpa Literasi

Publish

12 July 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
579
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Bandung Yudi Haryadi SE MM mengupas fenomena demam investasi cryptocurrency (kripto) yang marak di kalangan anak muda dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat belum lama ini. Ia menyoroti bahwa antusiasme terhadap kripto kerap berubah menjadi kecanduan yang menimbulkan dampak psikologis, sosial, bahkan ekonomi yang serius.

Dalam paparannya, Yudi menjelaskan bahwa kripto, dengan pasar yang aktif 24 jam dan fluktuasi ekstrem, dapat menimbulkan sensasi adiktif mirip judi online dan game digital. Anak muda yang awalnya berniat berinvestasi justru terjebak dalam perilaku spekulatif karena minimnya literasi keuangan dan syariah. Hal ini diperparah oleh pengaruh media sosial dan fenomena fear of missing out (FOMO) yang mendorong mereka ikut tren tanpa pemahaman.

Ia mengungkapkan bahwa kecanduan kripto berdampak negatif pada kesehatan mental, seperti stres, gangguan tidur, depresi, dan bahkan keretakan hubungan sosial. Banyak kasus mahasiswa dan pekerja muda mengalami kerugian besar, bahkan berutang hingga ratusan juta rupiah karena ingin cepat kaya melalui kripto. ”Budaya konsumtif dan hedonisme menjadi latar subur dari fenomena ini,” jelasnya.

Yudi juga mengingatkan bahwa menurut perspektif Islam, kripto sebagai mata uang dinilai haram karena mengandung unsur gharar (ketidakjelasan), maisir (judi), dan spekulasi tinggi. Namun, jika kripto memenuhi syarat sebagai komoditi yang jelas dan tidak mengandung unsur haram, penggunaannya dapat diperbolehkan. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam mengatur dan mengawasi sangat penting demi melindungi masyarakat.

Lebih lanjut, Yudi menekankan pentingnya pendidikan literasi keuangan sejak usia dini. Anak-anak harus diajarkan tidak hanya sebagai penerima uang, tetapi juga sebagai pengelola yang bijak. ”Pendidikan finansial tidak cukup diberikan saat dewasa, harus dimulai sejak kecil, agar terbentuk sikap tanggung jawab dan kesadaran terhadap nilai uang,” ujarnya.

Peran keluarga, lanjut Yudi, menjadi benteng utama dalam mencegah anak muda terjerumus dalam investasi bodong. Orang tua dituntut hadir secara psikologis dan spiritual, membimbing anak memahami konsep harta sebagai amanah dari Allah, bukan alat untuk pamer atau ajang gengsi. Dengan pondasi keimanan yang kuat, anak muda bisa lebih tahan terhadap godaan kekayaan instan.

Dalam konteks dakwah dan pendidikan, Yudi menyerukan perlunya kolaborasi antara keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, dan ulama untuk membentuk generasi yang cakap digital sekaligus kuat secara spiritual. ”Teknologi boleh canggih, tapi harus diimbangi dengan akhlak. Cuannya boleh besar, tapi harus halal dan membawa keberkahan,” tegasnya.

Ia menutup ceramah dengan ajakan agar generasi muda memandang harta sebagai alat kebaikan, bukan sumber kesombongan. ”Islam mengajarkan kehati-hatian dan keberkahan dalam setiap transaksi. Investasi dan teknologi modern pun harus dituntun oleh nilai-nilai keadilan, tanggung jawab, dan spiritualitas,” pungkasnya.*(FA)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - "Tujuan nikmat itu dilimpahkan dan diberikan kepada umat Islam yait....

Suara Muhammadiyah

24 March 2024

Berita

MEULABOH, Suara Muhammadiyah - Sekolah Muhammadiyah diseluruh Aceh harus mampu membangun peradaban m....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah  – Kekhawatiran para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah....

Suara Muhammadiyah

16 March 2024

Berita

PEMALANG, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka semarak Milad ke-93 Pemuda Muhammadiyah, PCPM (Pimpinan ....

Suara Muhammadiyah

12 May 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga isu tentang ke....

Suara Muhammadiyah

17 February 2025