Makassar Menjadi Saksi Bisu Lintasan Sejarah Muktamar XI 1998 Hingga Perhelatan Muktamar XXIV 2026

Publish

7 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
184
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Makassar Menjadi Saksi Bisu Lintasan Sejarah Muktamar XI 1998 Hingga Perhelatan Muktamar XXIV 2026

Oleh : Haidir Fitra Siagian (Sekretaris Panitia Muktamar XI, kini aktif sebagai Wakil Ketua LP2M PWM Sulsel dan Dosen UIN Alauddin Makassar)

Hari ini, sejarah seperti menemukan jalannya untuk berulang secara indah di tanah Daeng. Kota Angin Mammiri. Setelah dua puluh delapan tahun berlalu, ribuan kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) kembali memadati Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Jika pada 21–25 Mei 1998 mereka berkumpul dlaam rangka Muktamar XI saat organisasi masih bernama Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), kini pada 5–8 Februari 2026, Makassar kembali menjadi tuan rumah bagi perhelatan Muktamar XXIV.

Muktamar bukan sekadar forum formal untuk mengevaluasi laporan pertanggungjawaban atau memilih formatur kepemimpinan. Inilah salah satu yang membedakan organisasi modern dengan organisasi tradisional. Di balik sidang-sidangnya, tersimpan narasi tentang kegigihan, kesederhanaan, dan dedikasi para kader yang membangun jembatan bagi masa depan organisasi.

Mengenang suasana Muktamar XI tahun 1998 di Makassar berarti membayangkan sebuah kerja keras yang sangat manual. Saat itu, fasilitas serba terbatas; tidak ada ponsel pintar untuk koordinasi cepat, dan kendaraan bermotor masih jarang atau terbatas. Ketua Panitia, Syamsuddin MS, seorang mahasiswa Sastra Unhas asal Sidrap yang kini aktif membangun daerahnya di Bumi Nenek Mallomo, bahkan harus meminjam motor saudaranya dari kampung demi kelancaran tugas.

Panitia saat itu benar-benar mandiri. Bendahara Panitia, Alfiah Firdaus, yang kini menjadi staf akademik di Fakultas Hukum Unhas, harus mengelola keuangan dengan sangat ketat. Dengan segala dinamikanya. Saya sendiri, Haidir Fitra Siagian, yang saat itu mahasiswa FISIP Unhas, diamanahi sebagai Sekretaris Panitia. Kami bekerja bersama ratusan kader terbaik seperti Mursadi Marwas, Nurjannah Nurdin (almh), Irwas Abdullah, Imran Amin, Ishaq Nusu, Muslimin Marwas, Amran Nafie, Kak Linda, Husnah (alm), Lily Mulyani, hingga dukungan teknis dari senior seperti Kanda Syahrir Nur, Kanda Darwis Lantik, Amiruddin Bakri, Kanda Syaiful Saleh, serta almarhum Kanda Iskandar Tompo dan Tahir Fatwa.

Catatan sedikit, bahwa Dik Muslimin Marwas saat ini sudah berdomisili di Australia, tepatnya di Melbourne. Saya sempat bertemu dengannya beberapa tahun lalu. Pada awal rencana pendirian sekolah Muhammadiyah, dia sempat ikut bergabung membicarakan dalam rapat-rapat yang diadakan PCIM setempat.

Kembali lagi ke Muktamar. Satu kenangan yang paling membekas adalah ketika kami harus mencari dana secara mandiri. Saat itu, belum ada senior kami yang menjabat sebagai pejabat penting atau anggota dewan. Mencetak proposal, membuat bazar, menjual kelendar dan sebagainya. Segalanya dilakukan dengan peluh sendiri, misalnya memasang spanduk, umbul-umbul, hingga saya sendiri harus menaiki tiang pancang gedung yang baru dibangun demi memasang baliho besar.

Lokasi acara tahun 1998 tersebar di beberapa titik penting di Makassar. Pembukaan diadakan di Balai Kemanunggalan ABRI/Rakyat, permusyawaratan di Balai Bahasa, sementara penginapan ditempatkan di Kampus Unismuh Makassar. Dengan fasilitas tidak seperti sekarang ini. Masih amat sangat sederhana. 

Di Unismuh, Gedung Al Amien saat itu baru berupa tiang-tiang pancang yang belum selesai. Kami pun berinisiatif memasang atap dari gamacca (anyaman bambu) agar tempat itu bisa digunakan sebagai lokasi pameran.

Peserta dari seluruh Indonesia. Sebagian besar menggunakan kapal laut. Dari arah Jawa dan Sumatra naik dengan kapal perang milik TNI Angkatan Laut. Boleh dikata, tiada yang naik pesawat. Kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Ada satu insiden kecil saat itu, teman atas nama Engkun Ayatullah dari Jawa Barat, mengalami kecelakaan di kereta api. 

Tapi dia tetap ikut ke Muktamar naik kapal perang, sebab dia sendiri yang turut melobi pihak TNI untuk penggunaan kapal tersebut. Sebuah tanggung jawab yang tidak ringan. Selama di Makassar, tampaknya dia tidak ikut bersiang. Justru menginap beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Pelamonia milik TNI Angkatan Darat.

Dukungan warga Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan sangat luar biasa. Bantuan mengalir dalam bentuk dana hingga bahan pangan seperti beras dan sayur-sayuran. Rekan kami dari Tana Toraja, Herman Tahir, yang kelak menjadi Kepala Sekolah Indonesia di Belanda, membawa Kopi Toraja untuk menemani malam-malam panitia, sambil nonton TV yang memberitakan demonstrasi besar-besaran di Jakarta.

Hal yang sangat unik adalah makanan peserta pada akhirnya ditangani oleh anggota TNI dari Pangdam VII Wirabuana. Kalau tidak salah, saat itu Pangdam masih dijabat oleh Mayjen Agum Gumelar atau mungkin sudah beralih ke Mayjen Suaidi Marasabessy; saya lupa persisnya. 

Namun yang pasti, anggota TNI sangat cekatan memasak dan ini sangat membantu panitia lokal dalam menyiapkan konsumsi untuk ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah. Kerjasama ini, ditambah fasilitas rekreasi ke Bantimurung dari Gubernur HZB Palaguna atas lobi KH. Djamaluddin Amien (alm), memberikan kesan mendalam bagi seluruh kader.

Muktamar XI 1998 menjadi sangat magis karena berlangsung tepat di jantung sejarah bangsa. Pada 21 Mei 1998, saat Muktamar dibuka, Presiden Soeharto mengumumkan lengser dari jabatannya. Situasi negara yang genting membuat Pak Amien Rais tidak bisa hadir di Makassar. Sebagai gantinya, Muktamar dibuka oleh Prof. Haedar Nashir, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Badan Pendidikan Kader (BPK) PP Muhammadiyah.

Dua puluh delapan tahun kemudian, dalam Muktamar XXIV di tahun 2026 ini, Prof. Haedar Nashir kembali hadir di Makassar sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kala itu, beliau menyempatkan diri mengunjungi dan didaulat untuk meresmikan penggunaan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel, meskipun belum selesai. Beberapa saat setelah itu, kantor Muhammadiyah Sulsel pun resmi berpindah dari Jl. Gunung Lompobattang No. 201 ke lokasi yang ada sekarang di Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 No. 38 Tamalanrea.

Muktamar 1998 di Makassar berhasil merumuskan "Deklarasi Makassar" dan menetapkan pengurus periode 1998–2000. Taufiqurrahman terpilih sebagai Ketua Umum dan Raja Juli Antoni (sekarang Menteri Kehutanan RI) sebagai Sekjen. Momen ini juga menandai selesainya pengabdian Mas Muhammad Izzul Muslimin dan Mas Iwan Setiawan Ar Rozi. Ditemani Mas Irfan Islami, Pupung Pursita, Mbak Triyatni, Muarawati, Mbak Lina dan seterusnya.

Tak lupa kenangan tentang Imam Nurdin, panitia pusat asal Jawa Barat yang sangat proaktif. Beliau datang paling awal dan pulang paling akhir, bahkan sempat terjatuh dari motor karena terhalang tali kuda di sekitar kampus. Kini beliau telah mendahului kita semua, namun dedikasinya tetap terpatri kuat.

Hari ini, Muktamar XXIV di Makassar berlangsung dengan fasilitas yang jauh lebih modern. Namun, ruh yang dibawa harus tetap sama: kemandirian dan keberanian. Perjalanan dari gedung beratap gamacca menuju balai sidang modern adalah bukti nyata bahwa konsistensi dakwah pelajar tidak akan pernah sia-sia. 

Makassar telah kembali memanggil, dan di kota inilah, api semangat pelajar Muhammadiyah akan terus dinyalakan untuk masa depan Indonesia yang lebih cerah. Sebagai seorang senior, izinkan saya mengucapkan selamat bermuktamar adik-adik sekalian. Ingat pesan Prof. Haedar kemarin. “Kalian adalah anak kandung Muhammadiyah”. Semoga senantiasa dalam redha Allah Swt.

Samata Gowa, 07 Februari 2026


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Pengajian di Desa Kayu Calla, Berjalan kaki Hingga Naik Pick Up Oleh: Furqan Mawardi, Muballigh Aka....

Suara Muhammadiyah

13 October 2025

Humaniora

Anak Semata Wayang  Cerpen Latief S. Nugraha Sugeng dan Salamah berbaring di ranjang. Keduany....

Suara Muhammadiyah

28 December 2024

Humaniora

Malaysia: Menyusuri Jejak Orang Kerinci Oleh: Mahli Zainuddin Tago Hulu Langat-Selangor Malaysia, ....

Suara Muhammadiyah

28 June 2024

Humaniora

Sang Burung Pipit; Dari Ruh Para Syuhada (1) Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah & Akt....

Suara Muhammadiyah

26 January 2026

Humaniora

Oleh: Buya Ari Al Linggawi, Alumnus Megister ITB Ahmad Dahlan Di kaki Gunung Singgalang, dihembus a....

Suara Muhammadiyah

25 November 2025