YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Hidup manusia tidak akan pernah terlepas dari cengkeraman salah dan kealpaan. Hal itu merupakan sebuah keniscayaan.
Karena itu, Tuhan mengingatkan kepada hamba-Nya agar bersegera untuk mendapatkan ampunan-Nya untuk menggapai surga-Nya (Qs ali-Imran: 133).
"Luasnya seluas langit dan bumi, yang sangat luas surga itu," beber Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Itulah ending dari Ramadhan. Yang muaranya berpokok pangkal pada proses penggemblengan bak di atas kawah candradimuka untuk membakar dosa-dosa baik secuil maupun dalam jumlah yang seonggok.
"Ramadan itu sendiri juga bermakna membakar, di antara yang dibakar adalah dosa-dosa kita ini. Maka harusnya ending Ramadan ini kita bisa mendapatkan ampunan Allah itu," tekannya.
Di sinilah relevansi doa untuk Lailatul Qadar. Doanya, "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
"Ketika kita mohonkan itu dengan sungguh-sungguh, memohonnya di sepertiga malam terakhir, kata Rasul, siapa yang meminta ampun diberi ampun. Yang berdoa dikabulkan, yang meminta sesuatu diberi," tegasnya saat Pengajian dan Iftar Bersama PP Muhammadiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta, Rabu (18/3).
Karenanya, pasca-ramadhan, umat Islam yang telah dilatih sedemikian rupa, mestinya sudah tidak ada lagi onggokan benih dosa yang bersarang di dalam jiwanya. "Harusnya selesai Ramadhan ini bersih (jiwanya)," ujarnya.
"Maka ini Ramadan saatnya betul melakukan pertobatan," sambung Agus, mengaksentuasikan hal demikian menjadi bagian integral dari karakteristik orang yang bertakwa (Al-Muttaqin).
"Ciri orang Al-Muttaqin itu ketika ia terlanjur berbuat salah atau perbuatan zalim menganiaya diri sendiri, ia segera ingat akan Allah. Mohon ampun terhadap segala dosa yang telah ia laku," tandasnya. (Cris)
