Kampung Ramadhan Santri Bersama Masyarakat

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
134
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Kampung Ramadhan Santri Bersama Masyarakat

Oleh: M. Saifudin, Pengasuh Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen

Ramadan selalu menghadirkan suasana kebersamaan yang unik. Di bulan ini, ruang-ruang pertemuan sosial seolah terbuka lebih lebar. Di beberapa tempat, buka bersama atau disingkat dengan “bukber”, menjadi wasilah untuk mempererat hubungan antarsesama. Tradisi sederhana ini sering kali menghadirkan kehangatan yang sulit ditemukan pada hari-hari biasa.

Di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen, kebersamaan itu sebenarnya tidak hanya hadir pada momen tertentu. Melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan harian selama bulan Puasa.

Setiap sore, para santri dan asatidz berkumpul di emperan asrama yang disebut dengan “Maidatur Rahman.” Istilah ini terinspirasi dari tradisi di Mesir, di mana di tempat-tempat seperti di depan masjid, pinggir jalan, halaman rumah, samping warung, dekat lapangan, dan lainnya di Kairo hingga di pelosok Mesir, dihidangkan makanan untuk berbuka bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan maupun yang dengan sengaja berniat datang.

Di Pesantren Sangen, kebiasaan rutin ini menjadi simbol kepedulian, kesederhanaan, dan kebersamaan antara santri, para guru, dan para muhsinin yang terdiri dari wali santri maupun masyarakat umum. Bahkan sebenarnya setiap Ahad sore selama bulan Ramadhan para santri juga mengikuti kegiatan buka bersama di masjid besar desa, bersama-sama dengan warga masyarakat desa sekitar.

Namun pada Sabtu, 7 Maret 2027 atau 18 Ramadhan 1447 H, suasana kebersamaan itu terasa lebih hangat. Pada hari itu, Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen menggelar ifhtor jama’i bersama masyarakat, sebuah kegiatan yang menjadi puncak dari rangkaian program Kampung Ramadan yang dijalankan santri putra yang dimotori oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) selama dua hari sebelumnya, 5–6 Maret.

Lingkungan di sekitar pesantren berubah menjadi lebih meriah dari biasanya. Puluhan pedagang kaki lima diundang untuk meramaikan sore hari di sepanjang jalan depan pondok. Lapak-lapak sederhana itu menyajikan dagangan takjil dan makanan, dari cilok, es buah, gorengan, dimsum dan lainnnya, dengan suasana yang akrab, hangat, dan terasa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Santri-santri terlihat antusias berbaur dengan warga yang datang, berlarian memilih makanan yang hendak dibeli. Para orang tua menikmati suasana sore, sementara aroma makanan berbuka mulai memenuhi udara. Yang membuat suasana semakin istimewa adalah kehadiran para wali santri. Mereka diberi kesempatan untuk hadir dan membersamai anak-anaknya dalam kegiatan Kampung Ramadhan. 

Tidak seperti biasanya, di mana pertemuan wali dengan santri terjadwal secara tertib. Hari itu benar-benar terasa hangat dan meriah. Bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi momen melihat dari dekat kehidupan anak-anak mereka di pesantren, sekaligus merasakan suasana Ramadhan yang hidup di lingkungan pendidikan yang mereka percayakan.

Kegiatan Kampung Ramadhan tidak hanya menghadirkan keramaian pasar sore. Para santri juga mengisi acara dengan “Ngaji on the Road,” sebuah kegiatan membaca dan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, membentuk halaqah-halaqah di sepanjang jalan utama pesantren. Suasana islami terasa berpadu dengan dinamika masyarakat yang lalu-lalang menikmati sore Ramadan.

Menjelang azan magrib, kegiatan dilanjutkan dengan kultum ifthor, tausiyah singkat yang mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang keramaian, tetapi juga tentang memperkuat iman dan kepedulian sosial.

Kampung Ramadan ini sebenarnya bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan kelanjutan dari semarak kegiatan sebelumnya, yaitu Ekspo dan Sangen Fair yang digelar pada 17–18 Januari oleh para santri putri PPM Sangen. Acara itu menghadirkan berbagai kegiatan kreatif seperti tampilan ekstrakurikuler dan talenta dari seluruh santri putri. Kegiatan ini sangat menarik perhatian masyarakat luas, bahkan menghadirkan puluhan pedagang dan seluruh wali santri putri untuk ikut meramaikan suasana.

Dari rangkaian kegiatan itu ada satu pesan menarik, bahwa pesantren tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat belajar para santri, tetapi juga menjadi ruang berinteraksi bersama masyarakat luas. Di sana masyarakat bisa berkumpul, berinteraksi, bahkan menggerakkan ekonomi kecil melalui para pedagang yang diundang untuk meramaikan kegiatan.

Karena itu, puncak kegiatan pada 7 Maret berupa buka bersama masyarakat terasa sangat bermakna. Undangan yang hadir tidak hanya berasal dari lingkungan pesantren, tetapi dari berbagai unsur masyarakat dan persyarikatan.

Hadir pimpinan harian PCM Weru, para ketua majelis dan lembaga PCM Weru, pimpinan PCA Weru, para ketua ranting Muhammadiyah se-Kecamatan Weru, Pimpinan Ranting Krajan, warga masyarakat Dukuh Brunggang-Sangen dari enam RT, para takmir masjid dan mushala se-Desa Krajan, para asatidz, musyrif-musyrifah, santri pengabdian, hingga para pekerja pondok seperti tukang, tenaga dapur, dan pengelola air. Termasuk pula tokoh-tokoh masyarakat di luar persyarikatan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kegiatan “Santri Berbagi” pada Ahad pagi, 8 Maret. Kegiatan rutin tahunan ini menjadi penutup dari kegiatan santri dan asatidz dengan membagikan sekitar 140 paket sembako kepada masyarakat sekitar yang berhak menerimanya.

Dari rangkaian kegiatan dan suasana tersebut semakin terlihat bahwa pondok pesantren tidak bisa berdiri sendiri. Pesantren dapat tumbuh dan kokoh bersama masyarakat, terutama masyarakat di sekitarnya. Dengan adanya hubungan yang kuat ini, fungsi pesantren sebagai sarana dakwah, pengabdian masyarakat, dan pendidikan dapat dicapai dengan baik.

Ramadan di Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen tidak hanya menjadi bulan ibadah bagi para santri: tarawih, tilawah, dan iktikaf. Meski di tengah masa ujian tengah semester, Ramadhan juga menjadi momentum pertemuan, kebersamaan, dan penguatan hubungan sosial. Dari Maidatur Rahman yang sederhana setiap hari hingga Kampung Ramadhan yang meriah, semuanya menempatkan pesantren sebagai pusat keberkahan bagi lingkungan sekitarnya.

Makna kebersamaan Ramadhan bagi pesantren akhirnya tidak sebatas mendidik santri di dalam asrama. Lebih dari itu, ia juga menghidupkan masyarakat di sekelilingnya dan mempererat hubungan dengan semua pihak.

Seperti pesan KH. Ahmad Dahlan, “Sedikit bicara, banyak bekerja.” Dari Maidatur Rahman hingga Kampung Ramadan, dakwah para santri tumbuh dan hidup di tengah masyarakat.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Rasa Tanggung Jawab Penulis: Iu Rusliana, Penulis adalah dosen Program MM Uhamka dan Sekretaris Pim....

Suara Muhammadiyah

9 January 2026

Wawasan

Menjaga Kewarasan dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Etis, Psikologis, dan Spiritual Oleh: Nur Amali....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Wawasan

Relevansi Gerakan IMM pada Era Digital Oleh: Khoirul Iksan, Kader IMM Klaten Dalam kurun waktu 60 ....

Suara Muhammadiyah

29 March 2024

Wawasan

Resolusi 2026: Merdeka Finansial atau Mati Konyol Digulung Pinjol Penulis: Izzul Khaq, Kader IMM Ja....

Suara Muhammadiyah

3 January 2026

Wawasan

Mentransformasi Jiwa dan Kompetensi di Bulan Suci Oleh: Zaky Anshari, Wakasek Kurikulum dan SDM SM....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah