Ikhtiar Menghadang Campak

Publish

9 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
69
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ikhtiar Menghadang Campak 

Oleh: Farindira Vesti Rahmasari – Ekorini Listiowati, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan MPKU PP Muhammadiyah

Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan layanan kesehatan, sebagian orang mungkin mengira bahwa penyakit menular seperti campak telah menjadi bagian dari masa lalu. Namun kenyataannya, penyakit ini masih terus muncul di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia bahkan kembali menghadapi peningkatan kasus campak setelah masa pandemi COVID-19 yang sempat mengganggu layanan imunisasi rutin di banyak tempat.

Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan dikenal sebagai salah satu penyakit paling mudah menular. Penularannya terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Virus campak bahkan dapat bertahan di udara hingga sekitar dua jam di ruangan tertutup. Karena tingkat penularannya yang sangat tinggi, satu orang penderita dapat menularkan penyakit ini kepada 12–18 orang lain yang belum memiliki kekebalan (World Health Organization (WHO), 2025).

Secara global, laporan epidemiologi menunjukkan bahwa wabah campak masih terjadi di berbagai negara. Penurunan cakupan imunisasi di sejumlah wilayah setelah pandemi menyebabkan munculnya kelompok anak yang belum terlindungi secara optimal. Kondisi ini membuat virus campak lebih mudah menyebar kembali di masyarakat (Antoni et al., 2025; CDC, 2026).

Gambar 1. Jumlah kasus campak yang dilaporkan pada Juli–Desember 2025, menunjukkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kasus tertinggi; data masih bersifat sementara berdasarkan laporan WHO per Februari 2026.  (sumber: World Health Organization, 2026)

Indonesia pun menghadapi tantangan yang sama. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang tahun 2025 dilaporkan 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan 69 kematian, sehingga case fatality rate (CFR) tercatat 0,1 persen. Sementara itu, hingga Minggu ke-7 tahun 2026, jumlah kasus suspek campak mencapai 8.224, dengan 572 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 4 kematian, serta CFR sebesar 0,05 persen. Dalam periode tersebut juga tercatat 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak dan 13 KLB campak yang telah terkonfirmasi laboratorium, yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi (Aji, 2026). Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian campak masih memerlukan perhatian serius, terutama dalam memastikan cakupan imunisasi yang merata di seluruh wilayah.

Mengenali Gejala dan Pola Penularan

Campak biasanya mulai menunjukkan gejala sekitar 10–14 hari setelah seseorang terpapar virus. Penyakit ini umumnya diawali dengan demam tinggi yang berlangsung selama beberapa hari, disertai batuk, pilek, mata merah dan berair, serta kadang muncul bintik-bintik putih kecil di bagian dalam pipi. Ruam merah khas campak biasanya muncul sekitar 7–18 hari setelah paparan, dimulai dari wajah dan leher bagian atas, kemudian menyebar ke seluruh tubuh hingga tangan dan kaki dalam waktu sekitar tiga hari. Ruam ini umumnya bertahan selama 5–6 hari sebelum memudar (World Health Organization [WHO], 2025).

Pada sebagian kasus, campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti diare berat yang menyebabkan dehidrasi, infeksi telinga, radang paru (pneumonia), ensefalitis atau radang otak, bahkan kebutaan. Risiko komplikasi lebih tinggi pada anak usia di bawah 5 tahun, orang dewasa di atas 30 tahun, anak dengan kekurangan gizi terutama kekurangan vitamin A, serta individu dengan daya tahan tubuh lemah. Campak juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain.

Karena sifatnya sangat menular, campak dapat menyebar dengan cepat di lingkungan dengan interaksi tinggi seperti rumah, sekolah, pesantren, maupun tempat bermain anak. Penularan bahkan dapat terjadi sebelum ruam muncul, sehingga seseorang dapat menularkan virus kepada orang lain tanpa disadari. Kondisi ini membuat deteksi dini menjadi sangat penting. Ketika gejala awal dikenali dengan cepat dan anak segera dibawa ke fasilitas kesehatan, maka penularan dapat dicegah lebih awal sebelum menyebar lebih luas di lingkungan sekitar.

Pencegahan dan Respon Cepat Melindungi Masyarakat

Pencegahan utama campak adalah imunisasi. Vaksin campak atau vaksin MR (Measles-Rubella) telah digunakan selama puluhan tahun dan terbukti aman, efektif, serta terjangkau. Untuk membentuk kekebalan yang optimal, anak perlu menerima dua dosis vaksin, karena tidak semua anak langsung memiliki kekebalan setelah dosis pertama. Dua dosis vaksin dapat memberikan perlindungan yang sangat tinggi terhadap penyakit ini, sehingga orang tua perlu memastikan anak memperoleh imunisasi lengkap sesuai jadwal (World Health Organization [WHO], 2025).

Campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Penularan terjadi melalui percikan dari hidung atau tenggorokan penderita saat batuk atau bersin, maupun melalui udara di sekitar penderita. Virus campak bahkan dapat tetap aktif dan menular di udara atau pada permukaan yang terkontaminasi hingga dua jam. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan penyakit ini kepada banyak orang lain, bahkan sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelah ruam timbul. Karena itu, campak sangat mudah menyebar di lingkungan dengan interaksi tinggi seperti rumah, sekolah, pesantren, maupun tempat bermain anak (WHO, 2025).

Namun, pengendalian campak tidak hanya bergantung pada imunisasi. Respon cepat terhadap kasus juga sangat penting. Dalam sistem surveilans kesehatan masyarakat dikenal pendekatan 7-1-7, yaitu kasus penyakit harus terdeteksi dalam tujuh hari, dilaporkan dalam satu hari, dan direspon dalam tujuh hari berikutnya melalui langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk mengendalikan penyebaran penyakit (Kementerian Kesehatan RI [Kemenkes RI], 2024). Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengendalian wabah memerlukan kerja sama antara masyarakat dan tenaga kesehatan. Ketika orang tua, guru, dan kader kesehatan mampu mengenali gejala campak lebih awal dan segera melaporkannya ke fasilitas kesehatan, maka penyebaran penyakit dapat dicegah sebelum berkembang menjadi wabah yang lebih luas.

Langkah-langkah sederhana juga dapat membantu mencegah penularan. Anak yang mengalami gejala campak sebaiknya beristirahat di rumah dan sementara waktu tidak berinteraksi dengan anak lain. Kebiasaan menutup mulut saat batuk atau bersin, mencuci tangan dengan sabun, menjaga ventilasi rumah, dan menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit dapat membantu menurunkan risiko penyebaran.

Selain pencegahan, penanganan campak juga penting untuk mencegah komplikasi. Hingga saat ini belum ada pengobatan khusus untuk campak, sehingga perawatan difokuskan pada meredakan gejala, menjaga kenyamanan anak, mencukupi cairan dan nutrisi, serta mencegah komplikasi. Pada kasus tertentu, dokter dapat memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder seperti pneumonia atau infeksi telinga dan mata. Penderita campak juga dianjurkan menerima dua dosis vitamin A dengan jarak 24 jam karena vitamin A dapat membantu mencegah kerusakan mata, kebutaan, dan menurunkan risiko kematian akibat campak (WHO, 2025).Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan merupakan bagian dari menjaga amanah kehidupan yang diberikan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari). Hadis ini mengingatkan bahwa kesehatan adalah nikmat besar yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh.

Al-Qur’an juga mengingatkan manusia agar tidak menjerumuskan dirinya ke dalam bahaya. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)

Ayat ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan terhadap hal-hal yang membahayakan kehidupan. Dalam konteks kesehatan masyarakat, imunisasi, menjaga kebersihan, dan mencegah penularan penyakit merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keselamatan diri dan orang lain.

Sebagai gerakan dakwah yang memiliki perhatian besar pada kesehatan masyarakat, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat tentang pencegahan penyakit menular. Melalui berbagai program promotif dan preventif di sekolah, pesantren, dan komunitas, gerakan ini terus berupaya membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial.

Campak seharusnya tidak lagi menjadi ancaman besar jika kita semua mengambil peran. Dengan memperkuat imunisasi, meningkatkan kewaspadaan, dan menerapkan respon cepat terhadap kasus, kita dapat menjaga amanah kesehatan anak-anak Indonesia. Sebab pada akhirnya, menjaga kesehatan generasi muda berarti menjaga masa depan umat.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kuman di Seberang Lautan dan Gajah di Pelupuk Mata Oleh: Mohammad Fakhrudin Banyak orang lebih sib....

Suara Muhammadiyah

21 November 2025

Wawasan

Menguak Perdebatan Abadi tentang Janji Kehancuran Kedua Bani Israil Oleh: Donny Syofyan, Dosen Faku....

Suara Muhammadiyah

22 August 2025

Wawasan

Piawai Mengeksekusi Penulis: Iu Rusliana, Dosen Ilmu Manajemen Sumber Daya Insani Program MM Uhamka....

Suara Muhammadiyah

30 January 2026

Wawasan

Guru yang Tak Dilindungi Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (U....

Suara Muhammadiyah

22 November 2024

Wawasan

Oleh: Muhammad Akhyar Adnan, Dosen Prodi Akuntansi, FEB Universitas Yarsi Bahasa adalah cermin buda....

Suara Muhammadiyah

2 June 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah