Etos Keikhlasan dalam Gerakan Persyarikatan
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur)
Dalam setiap gerakan besar, selalu ada satu energi sunyi yang bekerja di balik layar. Sering kali energi ini tidak terlihat, tidak riuh, tetapi menentukan arah dan keberlanjutan. Energi sunyi itu adalah keikhlasan. Dalam konteks Muhammadiyah, keikhlasan bukan sekadar nilai moral personal, melainkan fondasi ideologis yang menopang seluruh gerak organisasi. Keikhlasan adalah ruh yang menjadikan Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad, melintasi berbagai rezim politik, perubahan sosial, hingga gelombang disrupsi global.
Namun, di tengah era yang semakin mengedepankan eksposur, personal branding, dan pengakuan publik, pertanyaan penting mengemuka ialah masihkah etos keikhlasan menjadi arus utama dalam gerakan? Ataukah etos ini perlahan tergeser oleh logika baru yang lebih transaksional? Untuk menjawabnya, kita perlu menengok kembali jejak para tokoh Muhammadiyah klasik, yaitu mereka yang membangun gerakan ini bukan dengan gemuruh retorika, tetapi dengan kesenyapan amal.
Dalam Islam, keikhlasan bukan sekadar anjuran moral, melainkan inti dari setiap amal. Keikhlasan berkaitan langsung dengan orientasi tauhid, bahwa segala aktivitas manusia semata-mata ditujukan untuk Allah. Dalam kerangka inilah Ahmad Dahlan membangun Muhammadiyah. Baginya, dakwah bukanlah panggung untuk mencari pengaruh, melainkan jalan sunyi untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.
Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan keikhlasan melalui ceramah, tetapi juga mempraktikkannya dalam tindakan konkret. Beliau mendirikan sekolah di tengah keterbatasan, mengajarkan Al-Qur’an dengan metode yang saat itu dianggap tidak lazim, dan bahkan menjual harta pribadinya untuk menopang aktivitas dakwah. Tidak ada catatan bahwa ia mencari popularitas atau posisi. Justru, dalam kesederhanaannya, beliau menunjukkan bahwa kekuatan gerakan terletak pada ketulusan niat.
Keikhlasan dalam perspektif Ahmad Dahlan juga memiliki dimensi sosial. Ia tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi menjelma menjadi aksi nyata untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Di sinilah kita melihat bahwa keikhlasan bukanlah sikap pasif, melainkan energi aktif yang mendorong transformasi sosial.
Warisan keikhlasan ini tidak berhenti pada Ahmad Dahlan. Para penerusnya menginternalisasi nilai tersebut dalam kepemimpinan mereka. Salah satu figur penting adalah Ki Bagus Hadikusumo, yang dikenal sebagai sosok tegas sekaligus sederhana.
Ki Bagus memainkan peran penting dalam sejarah bangsa, khususnya dalam perumusan dasar negara. Namun, yang menarik bukan hanya kontribusinya, melainkan cara ia memaknai peran tersebut. Beliau tidak melihat jabatan sebagai kehormatan personal, melainkan sebagai amanah. Ketika harus mengambil keputusan sulit, ia tetap berpegang pada prinsip tanpa kehilangan kerendahan hati.
Keikhlasan Ki Bagus tercermin dalam kesediaannya untuk berkorban demi kepentingan yang lebih besar. Dalam konteks perdebatan ideologis di masa awal kemerdekaan, beliau menunjukkan bahwa keikhlasan juga berarti kemampuan untuk menempatkan kepentingan umat dan bangsa di atas kepentingan golongan.
Figur lain yang patut disebut adalah Mas Mansur. Beliau hidup dalam masa yang penuh tekanan politik, terutama ketika Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang. Dalam situasi tersebut, beliau tetap berusaha menjaga integritas dan orientasi dakwah. Keikhlasannya terlihat dari kesediaannya untuk berada di garis depan, meski harus menghadapi risiko besar.
Mas Mansur menunjukkan bahwa keikhlasan tidak identik dengan menjauh dari realitas politik. Sebaliknya, beliau justru hadir dalam ruang-ruang strategis, tetapi dengan niat yang tetap terjaga. Beliau tidak larut dalam kekuasaan, melainkan menggunakan posisinya untuk memperjuangkan kepentingan umat.
Etos keikhlasan juga menemukan ekspresinya dalam gerakan perempuan Muhammadiyah. Siti Walidah adalah contoh nyata bagaimana keikhlasan menjadi kekuatan transformatif. Dalam konteks masyarakat yang masih patriarkal, ia berani mendorong perempuan untuk keluar dari keterbatasan, mengakses pendidikan, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial.
Namun, perjuangan Siti Walidah tidak dilakukan dengan konfrontasi yang keras. Beliau memilih pendekatan yang penuh hikmah, membangun kesadaran secara perlahan, dan menanamkan nilai-nilai Islam yang membebaskan. Keikhlasannya terlihat dari konsistensinya dalam mendampingi perempuan, bahkan ketika pengakuan publik terhadap perannya masih sangat terbatas.
Melalui organisasi ‘Aisyiyah, beliau meletakkan dasar bagi gerakan perempuan Islam yang progresif. Hingga hari ini, warisan tersebut terus berkembang, menjadi salah satu pilar penting Muhammadiyah. Hal ini menunjukkan bahwa keikhlasan memiliki daya tahan jangka panjang, mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dampaknya melintasi generasi.
Memasuki era modern, lanskap gerakan mengalami perubahan signifikan. Teknologi digital membuka ruang baru bagi dakwah, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Eksposur menjadi lebih mudah, pengakuan publik dapat diperoleh dalam hitungan detik, dan ukuran keberhasilan sering kali diukur dari visibilitas.
Dalam situasi ini, keikhlasan menghadapi ujian yang tidak ringan. Ketika aktivitas dakwah dapat dengan mudah dipublikasikan, muncul godaan untuk menggeser niat, dari yang semula lillahi ta’ala menjadi li al-mutaabi’in (demi pengikut). Fenomena ini tidak hanya terjadi di level individu, tetapi juga dapat merambah ke dalam organisasi.
Di sisi lain, profesionalisasi gerakan juga membawa dinamika tersendiri. Pengelolaan amal usaha Muhammadiyah yang semakin kompleks menuntut sistem yang modern dan efisien. Dalam konteks ini, muncul potensi pergeseran dari orientasi pengabdian ke orientasi kinerja semata. Tentu saja, profesionalisme adalah keniscayaan, tetapi ia tidak boleh menggerus keikhlasan sebagai fondasi.
Menghadapi tantangan tersebut, Muhammadiyah perlu melakukan reaktualisasi etos keikhlasan. Kondisi ini bukan berarti kembali ke masa lalu secara romantik, tetapi mengambil nilai-nilai esensial dan mengadaptasikannya dalam konteks kekinian.
Pertama, keikhlasan perlu dipahami sebagai kesadaran reflektif. Hal ini berarti setiap kader perlu secara aktif memeriksa niatnya, terutama dalam situasi di mana eksposur dan pengakuan menjadi bagian dari realitas. Ini membutuhkan kedewasaan spiritual yang tidak bisa dibangun secara instan.
Kedua, organisasi perlu menciptakan budaya yang mendukung keikhlasan. Misalnya, dengan tidak terlalu menekankan pencitraan, tetapi lebih pada substansi kerja. Penghargaan terhadap kader juga perlu diarahkan pada kontribusi nyata, bukan sekadar popularitas.
Ketiga, pendidikan kader menjadi kunci. Nilai keikhlasan harus ditanamkan sejak awal, tidak hanya melalui materi formal, tetapi juga melalui keteladanan. Di sinilah pentingnya menghadirkan kembali kisah-kisah tokoh Muhammadiyah klasik sebagai sumber inspirasi.
Dalam perspektif yang lebih luas, keikhlasan dapat dilihat sebagai modal sosial. Keikhlasan menciptakan kepercayaan, memperkuat solidaritas, dan meningkatkan legitimasi gerakan. Ketika masyarakat melihat bahwa Muhammadiyah bergerak dengan tulus, tanpa kepentingan tersembunyi, dukungan akan datang dengan sendirinya. Sebaliknya, jika keikhlasan mulai dipertanyakan, maka kepercayaan dapat terkikis. Ini adalah risiko yang harus diantisipasi, terutama di era di mana informasi dapat dengan mudah menyebar dan membentuk persepsi publik.
Keikhlasan juga memiliki dimensi strategis. Dalam jangka panjang, keikhlasan memastikan keberlanjutan gerakan. Organisasi yang dibangun di atas kepentingan pribadi cenderung rapuh, sementara yang didasarkan pada keikhlasan memiliki daya tahan yang lebih kuat.
Meneladani tokoh Muhammadiyah klasik tidak cukup dengan mengagumi mereka. Hal yang lebih penting adalah menginternalisasi nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Keikhlasan bukanlah sesuatu yang bisa diwariskan secara otomatis. Keikhlasan harus dihidupkan kembali dalam setiap generasi.
Hal ini berarti setiap kader Muhammadiyah perlu menjadikan keikhlasan sebagai kompas dalam bergerak. Dalam setiap keputusan, setiap aktivitas, dan setiap interaksi, pertanyaan mendasar perlu diajukan, yaitu untuk siapa semua ini dilakukan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan arah gerakan. Jika keikhlasan tetap menjadi landasan, maka Muhammadiyah akan terus menjadi kekuatan moral yang relevan. Namun, jika ia mulai tergeser, maka gerakan ini berisiko kehilangan ruhnya.
Pada akhirnya, etos keikhlasan adalah tentang merawat ruh gerakan. Etos ini tidak selalu tampak, tetapi kehadirannya dapat dirasakan. Etos ini tidak bisa diukur dengan angka, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan masyarakat. Tokoh Muhammadiyah klasik telah memberikan teladan yang jelas. Mereka menunjukkan bahwa keikhlasan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Etos ini memungkinkan seseorang untuk bekerja tanpa lelah, berkorban tanpa pamrih, dan tetap teguh dalam prinsip.
Tantangan kita hari ini adalah menjaga agar nilai tersebut tetap hidup. Dalam dunia yang semakin bising, keikhlasan menjadi suara sunyi yang justru paling dibutuhkan. Keikhlasan mengingatkan bahwa di balik setiap gerakan, ada niat yang harus terus dijaga. Muhammadiyah telah membuktikan bahwa keikhlasan dapat menjadi fondasi peradaban. Kini, tugas generasi penerus adalah memastikan bahwa fondasi itu tetap kokoh, sehingga gerakan ini tidak hanya bertahan, tetapi juga terus memberi manfaat bagi umat dan bangsa.
