Di Balik Penetapan Awal Ramadan 1447 H: Bukan Sekadar Alaska

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
2949
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Di Balik Penetapan Awal Ramadan 1447 H: Bukan Sekadar Alaska

Oleh: Muhamad Rofiq Muzakkir, Lc., M.A., Ph.D., Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dinamika penentuan awal bulan Kamariah kembali menyapa kita menjelang Ramadan 1447 Hijriyah (2026 Masehi). Muhammadiyah, melalui maklumatnya, telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026.

Dalam maklumat tersebut, disebutkan bahwa Parameter Kalender Global yang pertama hasil dari Kongres Penyatuan Kalender Islam di Turki 2016: tinggi 5 derajat dan elongasi 8 derajat terpenuhi di wilayah Alaska. Hal ini mungkin memancing pertanyaan awam: "Mengapa kita harus berpuasa mengikuti hilal yang terlihat jauh di ujung dunia sana?"

Pertanyaan ini wajar, namun jawabannya sesungguhnya melampaui sekadar posisi Alaska. Jika kita membentangkan peta dunia lebih luas dan menelaah data astronomis secara lebih rinci, kita akan menemukan bahwa argumen penetapan ini memiliki basis yang kuat, tidak hanya secara hisab global, tetapi juga dalam konteks sharing night (berbagi malam) dengan berbagai kota, termasuk pusat-pusat peradaban Islam.

Data Sekunder yang Menguatkan: Dari Mekkah hingga Casablanca

Memang benar, basis penetapan Muhammadiyah kini mengacu pada Parameter Kalender Global yang mensyaratkan visibilitas di belahan bumi mana pun, sebuah syarat yang terpenuhi sempurna di kawasan Alaska. Namun, prinsip Wujudul Hilal tetap bisa digunakan sebagai argumen penguat (corroborating evidence) bahwa hilal secara fisik memang sudah ada (eksis) di langit, meskipun belum tentu bisa dilihat mata di semua tempat. Sejak awal memang Muhammadiyah tidak mensyaratkan keterlihatan hilal. Jika kita meninjau melalui kacamata Wujudul Hilal—metode yang lama menjadi tradisi, ataupun kriteria Ummul Qura—validitas tanggal 18 Februari justru semakin kokoh. Fakta astronomis menunjukkan bahwa di wilayah strategis dunia Islam lainnya, hilal sesungguhnya telah 'wujud' di atas ufuk saat matahari terbenam, memberikan konfirmasi bahwa bulan baru secara substansial telah lahir, terlepas dari apakah ia mencapai derajat visibilitas visual atau tidak.

Mari kita lihat data perhitungan Accurate Times (oleh Mohammad Odeh) pada petang hari Selasa, 17 Februari 2026:

1.    Di Langit Ka'bah (Mekkah): Data menunjukkan bahwa di Mekkah, Matahari terbenam pada pukul 18:22 waktu setempat, sedangkan Bulan terbenam pada 18:26. Artinya, hilal sudah wujud di atas ufuk dengan ketinggian +00° 13' 13". Meski tipis, secara astronomis bulan sudah berada di atas ufuk setelah matahari terbenam. Ini memenuhi kriteria masuknya bulan baru dalam sistem kalender Ummul Quro. Dalam kalender resmi Arab Saudi sendiri, 1 Ramadan 1447 ditulis   jatuh   pada   tanggal   18   Februari   2026.

2.    Di Afrika Utara (Maroko): Bergerak ke barat, posisi hilal semakin tinggi. Di Rabat dan Casablanca (Maroko), ketinggian hilal sudah cukup signifikan. Di Casablanca, misalnya, tinggi hilal mencapai +02° 07' 00" saat matahari terbenam. Ini adalah posisi yang sangat meyakinkan bagi prinsip wujudul hilal.

3.    Di Eropa (London): di London, Inggris, hilal tercatat berada pada ketinggian +00° 50' 57" saat matahari terbenam.

Data-data ini adalah "bukti sekunder" yang krusial. Ia menegaskan bahwa pada tanggal 17 Februari petang waktu setempat, hilal 1 Ramadan 1447 H sesungguhnya telah eksis di ufuk barat berbagai belahan bumi, mulai dari Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa.

Konsep Sharing Night: Satu Malam, Satu Awal

Argumen pendukung atau tambahan untuk memulai puasa bersamaan pada 18 Februari 2026 bagi umat Islam di Indonesia adalah konsep Sharing Night atau berbagi malam. Bagi para pengguna KHGT, tentu saja argumen ini tidak dijadikan argumen inti. Tetapi perlu diakui argumen ini dapat bermanfaat untuk menjawab pihak yang bertanya: mana negara yang hilalnya sudah wujud sebelum waktu fajar di Indonesia? Pada kenyataannya, jelang Ramadan tahun ini, pertanyaan ini memang banyak diajukan.

Ketika matahari terbenam di Mekkah (sekitar pukul 18:22 waktu Saudi), di Indonesia waktu menunjukkan sekitar pukul 22:22 WIB. Ketika matahari terbenam di London atau Casablanca, di Indonesia sudah memasuki tengah malam atau dini hari.

Poin kuncinya adalah: ketika hilal terbukti wujud di Mekkah, London, dan Casablanca pada petang hari Selasa 17 Februari, di Indonesia waktu belum memasuki Fajar (Subuh). Jadi bagi yang beranggapan, karena pengaruh mazhab Hanafi, bahwa hari dimulai pada waktu fajar, maka data astronomi ini sangat krusial dan sudah dapat menjawab kegelisahan mereka.

Kita di Indonesia masih berada dalam satu rentang malam yang sama dengan kota-kota yang telah disebutkan di atas. Kabar bahwa "bulan telah wujud" di belahan bumi barat sampai kepada kita sebelum fajar menyingsing di Indonesia. Secara syar'i dan logis, ini memberikan landasan penguata bahwa satu hari (1 Ramadan) bisa dimulai secara serentak di seluruh dunia. Kita tidak perlu menunggu satu hari lagi hanya karena hilal belum terlihat di ufuk lokal kita, sementara saudara kita di "malam yang sama" sudah mendapatinya.

Membaca Peta Visibilitas HM Nautical Almanac Office

Untuk memperkuat pemahaman ini, mari kita perhatikan peta visibilitas dari HM Nautical Almanac Office yang dikeluarkan oleh lembaga Astronomi di Britania Raya.

Peta ini memberikan visualisasi global yang menarik:

·         Zona yang Diarsir (Shaded): Menunjukkan wilayah di mana bulan terbenam sebelum matahari (konjungsi belum terjadi atau bulan belum wujud).

·         Zona Terang/Tanpa Arsir: Menunjukkan wilayah di mana

Moonset after Sunset (Bulan terbenam setelah Matahari).

Jika Anda perhatikan, wilayah Mekkah, Eropa, dan Afrika masuk dalam zona di mana bulan terbenam setelah matahari.

Benar bahwa sebagian besar wilayah ini masuk dalam kategori di bawah Limit Danjon (batas fisiologis mata manusia untuk bisa melihat sabit bulan karena kontras cahaya). Artinya, secara rukyat visual (mata telanjang), hilal mungkin mustahil terlihat. Namun, secara hisab astronomis, bulan itu ada di sana.

Bagi Muhammadiyah dan pendukung Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang menjadi patokan bukanlah keterbatasan mata manusia dalam menangkap cahaya bulan (visibilitas), melainkan kepastian posisi benda langit tersebut pada orbitnya. Ingat prinsip pokok dalam KHGT adalah satu hari satu tanggal di seluruh dunia dan kesatuan matlak. Peta ini mengonfirmasi bahwa secara global, fase bulan baru telah dimulai, dan piringan bulan telah berada di atas ufuk di banyak pusat peradaban dunia pada malam tersebut.

Penutup

Dengan demikian, keputusan untuk memulai puasa pada 18 Februari 2026 bukanlah keputusan yang terburu-buru atau hanya mengandalkan satu titik di Alaska. Ia adalah keputusan yang dibangun di atas kesadaran global.

Fakta bahwa hilal telah wujud di atas langit Ka'bah, menjulang di langit Maroko, dan hadir di langit London—di saat kita di Indonesia masih menikmati tidur malam sebelum sahur—adalah isyarat alam semesta akan kesatuan waktu ibadah. Ini adalah manifestasi dari persatuan umat Islam global: berpuasa di bawah satu komando langit yang sama, pada satu rotasi bumi yang sama.

Selamat menyambut Ramadan 1447 H. Semoga Allah berikan kita kesehatan dan kemampuan untuk beribadah dengan maksimal di bulan yang mulia ini. Amiin YRA.

Pdf Lengkap download di sini


Komentar

Budhi Dermawan

Persoalannya hilal itu terlihat atau tidak, sebab penentu berpuasa ataupun berbuka (berhari raya) adalah terlihatnya hilal, jika terhalang bulan berjalan digenapkan 30 hari. Anggaplah hilal terlihat di Alaska hari ini 17 Februari 2026, maka informasi itu akan kita terima kapan? Tentunya bukan sebelum Subuh kan, tapi sekitar pukul 10 pagi kan? Masa kita sudah mengawali puasa Ramadhan, sementara informasi terlihatnya hilal itu datang belakangan.

Budhi Dermawan

Penentu berpuasa ataupun berbuka (berhari raya) adalah terlihatnya hilal, bukan new moon/konjungsi/ijtima (wujudul hilal). Setelah terjadinya new moon/konjungsi/ijtima, ada jeda waktu yang cukup lama sehingga hilal bisa terlihat. Jika hilal terhalang, maka bulan berjalan digenapkan 30 hari.

Adin A. Dinawan

Bung Budhi yang budiman, silahkan baca, cermati dan pelajari betul² artikel ini supaya paham tentang logika "melihat" bulan.

Budhi Dermawan

Dulu saya punya keyakinan bahwa ijtima(wujudul hilal) adalah penentu berpuasa ataupun berbuka (berhari raya). Sebab setelah terjadinya ijtima hilal pasti terlihat, tidak perlu lihat hilal lagi. Jika tidak terlihat di sini, pasti terlihat di bumi yang lain (di lautan ataupun di daratan). Ternyata tidak sesimpel itu, sebab penentu berpuasa ataupun berhari raya adalah terlihatnya hilal sehingga para ahli membuat perhitungan kapan dan dimana hilal bisa dilihat, bukan hanya mengandalkan wujudul hilal. Untuk penentuan 1 Ramadhan 1447 H, ternyata berdasarkan perhitungan kemungkinan hilal terlihat, mustahil hilal terlihat di Asia, Afrika, Eropa, dan sebagian besar Benua Amerika, kecuali pesisir barat Amerika Serikat dan Samudera Pasific (itupun harus menggunakan alat bantu). Anggaplah ada informasi hilal terlihat di pesisir barat Amerika Serikat, maka tentunya informasi itu akan kita terima sekitar pukul 10 pagi tanggal 18 Februari 2026.

Ardhana

Logika ini hanya bisa dipakai jika tidak ada hadits dari Abu Hurairah tentang Nabi menyuruh melihat hilal dan menggenapkan jika tidak terlihat karena mendung. Alasan wujudul hilal secara hitungan astronomi saja tidak bisa digunakan karena hadits ini jelas sekali untuk digenapkan jika hilal tidak bisa dilihat. Contoh ekstrim, misalnya posisi hilal secara hisab di posisi lebih dari 5 derajat, yang secara teori seharusnya sudah bisa terlihat, namun seandainya seluruh dunia ternyata mendung gelap maka sesuai hadits ini wajib digenapkan. Tidak bisa hanya berdasarkan hisab wujudul hilal, kecuali Anda mau membuang hadits ini. Dan hadits ini, konteksnya untuk awal dan akhir puasa. Nabi tidak menyuruh kita untuk melihat hilal tiap bulan. Jadi ini tidak ada kaitannya dengan Kalender tahunan atau bisnis atau lainnya. Kembalikan urusan sesuai ketetapan Allah dan Rosul-Nya ketika ada perselisihan jika kita beriman, An-Nisa:59. Salam dan Shalawat kepada Muhammad Sholallahu 'Alaihi Wassalam.

arvan

Bahkan informasinya Arab saudi saja bisa melihat hilal walau dibawah 1 derajat. Dalam kitab Al-Fiqhu ‘Ala Madzhabil Arba’ah menjelaskan bahwasannya apabila telah ditetapkannya rukyatul hilal pada suatu wilayah, maka diwajibkan berpuasa bagi seluruh wilayah dan tidak adanya perbedaan mengenai wilayah yang dekat dan jauh. Apabila telah sampai kabarnya rukyatul hilal kepada seluruh wilayah, seluruh penduduk di muka bumi diwajibkan untuk berpuasa. Kitab Al-Mabsuth Lisyaibany didalamnya menjelaskan tentang mathla’ menurut mazhab Hanafi bahwasannya apabila penduduk suatu negara melihat hilal Ramadhan, maka seluruh negara-negara Islam wajib berpuasa bersama-sama dengan penduduk yang melihat hilal Hasan Ayub juga menerangkan dalam kitabnya fiqhul ‘ibadaat biadillatiha fil islam bahwa mayoritas fuqaha Ahnaf menetapkan perbedaan mathla’ tidak berpengaruh, yaitu apabila penduduk suatu negara melihat hilal Ramadhan, seluruh negara Islam wajib berpuasa bersamaan dengan penduduk yang melihat hilal Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menjelaskan pendapat mazhab Hanafi tentang mathla’ yaitu bahwa rukyat di suatu negeri berlaku untuk seluruh kaum muslimin di negeri lain Kitab fathul qadir didalamnya juga menjelaskan tentang mathla’ menurut mazhab Hanafi, bahwasannya apabila rukyatul hilal telah ditetapkan di Mesir, maka rukyat tersebut diberlakukan bagi semua manusia, yaitu wajib berpuasa bagi semua manusia, baik penduduk Masyrik berdasarkan rukyatnya, maupun penduduk Maghrib. Atas dasar keumuman dari sasaran (khitab) lafadz “صُمُوْا” yang secara mutlaq rukyat tersebut hukumnya diberlakukan secara umum

Budhi Dermawan

Informasinya memang hilal terlihat di Jazirah Arab, orang yang paham betul soal ini pasti tahu bahwa klaim terlihatnya hilal di Jazirah Arab adalah kebohongan. Di sini pun sering muncul para pembohong yang mengklaim melihat hilal, padahal mustahil terlihat. Saya yakin pada tanggal 19 Maret 2026 mendatang akan muncul para pembohong yang mengklaim melihat hilal di sini karena alasan politis, padahal tidak perlu berbohong seperti itu karena memang hilal akan terlihat juga di bagian barat bumi yang tidak jauh dari Indonesia pada hari itu. Inilah zaman dimana pendusta dipercaya, orang jujur didustakan.

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Tapak Tilas Penerjemahan Al-Qur`an dalam Bahasa Inggris (2) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilm....

Suara Muhammadiyah

5 June 2024

Wawasan

Efisiensi Anggaran dari Biaya Kelakuan Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso,....

Suara Muhammadiyah

28 February 2025

Wawasan

Memaknai Filosofi Garwa dalam Konteks Kehidupan Oleh: Rumini Zulfikar (GusZul), Penasehat PRM Trok....

Suara Muhammadiyah

9 September 2025

Wawasan

Mengembangkan Cabang Muhammadiyah Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso, Tangerang Selatan &am....

Suara Muhammadiyah

6 June 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Ayat-ayat Al-Qur'an senantiasa ....

Suara Muhammadiyah

7 July 2025