Buku sebagai Jembatan Kemanusiaan di Tengah Polarisasi Digital

Publish

8 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
79
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Penulis: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/Sekretaris LPP PWM Kalbar

Buku dan aktivitas membaca semakin terasa asing bagi banyak masyarakat dunia. Kecanggihan teknologi dan kemudahan akses untuk memperoleh informasi menjadikan budaya baik tersebut semakin terkikis bahkan hilang di generasi yang sedang tumbuh berkembang sekarang. Dunia digital hari ini sering kali terasa seperti medan tempur tanpa panglima.

Algoritma media sosial, yang semula dirancang untuk menghubungkan, justru kerap menjebak manusia dalam ruang gema (echo chambers).

Saat berinteraksi di media sosial, tanpa disadari kita digiring hanya untuk mendengar, menerima suara-suara yang senada, kemudian antipati pada  pendapat yang berbeda. Polarisasi bukan lagi sekadar perbedaan pilihan politik, melainkan telah bergeser menjadi fragmentasi kemanusiaan. Karenanya, kita pun enggan mengkonfirmasi berita atau informasi yang beredar. 

Peran Vital Aktivitas Membaca

Laporan Perpustakaan Nasional RI tahun 2025, rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca sekitar 6 buku per tahun, dengan waktu membaca sekitar 129 jam per tahun. Angka ini tentu jauh tertinggal dibandingkan dengan intensitas penggunaan media sosial.

Survei APJII 2025 mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai lebih dari 220 juta jiwa, dengan 90 persen di antaranya aktif di media sosial dengan platform yang paling dominan adalah TikTok (35,17%), diikuti YouTube, Facebook, dan Instagram. Data ini menegaskan dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memperlihatkan betapa buku semakin terpinggirkan.

Fenomena ini juga terlihat di berbagai kota besar, Kota Pontianak misalnya, banyak pelajar, mahasiswa lebih memilih mencari referensi tugas melalui Instagram atau TikTok dibandingkan membaca buku di perpustakaan. Perpustakaan sekolah yang dulu menjadi pusat belajar kini sering kali sepi pengunjung, sementara gawai menjadi teman belajar utama.

Hal ini mencerminkan tren nasional, generasi muda lebih akrab dengan informasi singkat, visual, dan instan daripada teks panjang yang menuntut konsentrasi.

Padahal begitu banyak nilai kebaikan dari aktivitas membaca yang tampak sederhana tetapi berimplikasi jangka panjang. Mengutip pendapat Gorys Keraf  seorang ahli bahasa Indonesia menegaskan,  aktivitas membaca adalah proses fisik dan mental yang memberikan makna pada simbol-simbol visual. Membaca melibatkan aspek kognitif sekaligus afektif.

Membaca mengajarkan kesabaran, kedalaman analisis, dan keteraturan berpikir. Membaca buku berarti memberi ruang bagi pikiran untuk berproses, bukan sekadar bereaksi. Buku menghadirkan narasi yang utuh, gagasan yang terstruktur, dan refleksi yang mendalam.

Dalam karya sastra, misalnya feature, kita diajak masuk ke dalam kehidupan orang lain, merasakan penderitaan, kebahagiaan, dan pergulatan batin yang mungkin jauh berbeda dari pengalaman kita sendiri. Proses ini menumbuhkan empati, sesuatu yang sangat dibutuhkan di tengah polarisasi digital. Kita pun secara tidak langsung belajar, memahami alur cerita untuk kemudian diambil hikmahnya. 

Selain itu, membaca buku berfungsi sebagai jangkar pengetahuan. Di era banjir informasi, di mana hoaks dan misinformasi mudah menyebar, buku hadir sebagai sumber otoritatif yang dapat dipercaya. Penulis buku melewati proses panjang penelitian, penyuntingan, dan penerbitan sebelum karyanya sampai ke tangan pembaca.

Proses ini memastikan kualitas dan akurasi informasi yang disajikan. Dengan membaca buku, kita belajar membedakan antara informasi yang valid dan sekadar opini yang viral.

Posisi ini, buku tidak harus seolah-olah sebagai lawan media sosial. Keduanya bisa saling melengkapi. Media sosial dapat menjadi pintu masuk, sementara buku tetap menjadi ruang pendalaman. Tantangannya adalah bagaimana membuat buku tetap relevan bagi generasi digital. Kita lihat sejak internet menjadi kebutuhan primer manusia, Penerbit buku  beradaptasi dengan menghadirkan e-book, audiobook, dan konten interaktif.

Perpustakaan daerah di Kalimantan Barat, serta kampus negeri swasta seperti IAIN Pontianak dan Universitas Muhammadiyah Pontianak, juga mengembangkan layanan digital agar koleksi buku bisa diakses secara online oleh civitas akademika kampus. 

Dari pemaparan diatas, maka dapat kita ambil benang merah, melalui membaca buku kita telah melakukan tindakan perlawanan terhadap kebisingan digital, yang perlahan menurunkan kualitas pemahaman kita dalam menelaah fenomena sosial yang tampak. 

Membaca  mengajak kita berhenti sejenak dari arus informasi instan, menenangkan pikiran, dan membuka diri terhadap gagasan yang berbeda. Membaca buku mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak bisa direduksi menjadi like, share, atau komentar. Kemanusiaan adalah tentang empati, refleksi, dan dialog yang mendalam.

Dengan membaca buku, kita merajut kembali sosiabilitas yang terkoyak, membangun jembatan di atas jurang polarisasi, dan menegaskan bahwa pengetahuan sejati lahir dari kesabaran dan keterbukaan.

Buku mungkin terasa asing di era digital, tetapi ia tetap relevan sebagai jembatan kemanusiaan. Jika generasi muda mampu memadukan keduanya,  kita tidak hanya akan memiliki generasi yang melek digital, tetapi juga masyarakat yang berakar pada tradisi literasi yang mendalam.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pondasi Pendidikan Karakter Oleh: Dartim Ibnu Rushd, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMS Pertam....

Suara Muhammadiyah

26 February 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas  Mari kita telaah Surah Al....

Suara Muhammadiyah

13 June 2025

Wawasan

Islam yang Sempurna, Pemeluk yang Terluka: Mengapa Hidayah Terhalang oleh Perilaku Kita? Penulis: D....

Suara Muhammadiyah

23 January 2026

Wawasan

Jangan Menaruh Musang dan Ayam dalam Satu Kandang: Memperingati Hari UMKM Nasional 2024 Oleh: Khafi....

Suara Muhammadiyah

13 August 2024

Wawasan

Oleh: Mu’arif “Bukan H. Akis, tapi H. Anis,” demikian tulis Mh. Djamaluddin Anis ....

Suara Muhammadiyah

21 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah