Bercermin pada Kampung Halaman

Publish

31 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
56
Foto: Freepik

Foto: Freepik

Bercermin pada Kampung Halaman

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi

Anda pulang kampung saat liburan Idulfitri? Saya berkesempatan pulang kampung 6 hari pasca Lebaran. Saat orang-orang mulai kembali ke Jakarta, saya berada di jalur sebaliknya, baru hendak pulang ke Jawa Timur. Seperti biasa, saya pulang ke kampung halaman dengan niat silaturahmi ke keluarga dekat: kakak, keponakan, dan keluarga lain yang masih tetap setia menetap di kampung yang kurang lebih sudah 45 tahun saya tinggalkan.

Meski setiap tahun saya beberapa kali mampir ke kampung, kepulangan pada momen Lebaran memang terasa berbeda. Saat libur Idulfitri, seperti biasa, kampung halaman saya dipenuhi oleh mereka yang selama ini merantau di kota atau negara lain. Mudik, alias pulang kampung sejenak, menjadi peristiwa yang sangat mengesankan. Bahkan, bagi sebagian orang, termasuk saya, mudik menjadi medium penyegaran hidup yang mujarab. Bertemu sanak saudara, mendatangi kuburan orang tua, mengunjungi tempat-tempat bersejarah secara personal, serta tempat makan dan tempat wisata yang dulu terasa sangat istimewa.

Seperti biasa, mudik tahun ini rasanya tetap sama dari tahun ke tahun. Suasana batin yang selalu menggembirakan dan sulit untuk diungkapkan sebabnya. Pastinya, saya sama sekali tidak merasa terbebani oleh ketakutan tentang penilaian orang lain terkait capaian hidup yang diaitkan dengan pangkat, jabatan, dan segala tetek bengek urusan duniawi.

Paling-paling, saya hanya harus menjawab pertanyaan standar tentang kabar kuliah dan dunia kerja yang sekarang dijalani oleh anak-anak. Khusus untuk pertanyaan itu pun akan dengan mudah terjawab oleh anak-anak sendiri. Jawaban saya belum tentu sesuai dengan realitas dan suasana batin anak-anak, sehingga saya lebih sering mengabaikan pertanyaan tersebut.

Saat mudik, saya bersyukur bisa bersikap abai terhadap penilaian orang lain terkait capaian hidup, karier, rumah tangga, kepemilikan aset, dan kendaraan yang secara umum sering dijadikan alat ukur untuk menilai kesuksesan seseorang. Sadar betul bahwa saya bukan saudagar atau pengusaha yang berpeluang mencapai kesuksesan materi secara signifikan, sehingga tidak perlu ada materi atau jabatan yang harus saya demonstrasikan. Saya hanyalah pekerja biasa di kota besar tanpa jaminan karier untuk memperoleh jabatan dan pangkat yang berpeluang pada kepemilikan banyak harta.

Sejak 45 tahun lalu, saya tidak pernah terbebani apa pun setiap pulang ke kampung halaman. Dulu, ketika orang tua masih ada, target saya sederhana: saat di rumah ibu, paling tidak bisa membelikan obat diabetes untuk ibu saya selama satu bulan ke depan. Itu pun obat berstandar generik. Itu saja sudah cukup, mengingat ibu dan bapak saya cukup mandiri secara finansial sehingga mampu memenuhi segala kebutuhan hidup mereka tanpa harus membebani orang lain.

Saya pun meyakini bahwa sebenarnya orang lain belum tentu benar-benar peduli dengan realitas hidup saya. Jangan-jangan, selama ini horor prasangka tentang penilaian orang lain itu hanyalah imajinasi pribadi saja. Akhirnya, saya menganggap bahwa orang lain begitu peduli, dan saya pun harus berusaha keras untuk memvalidasi anggapan tersebut. Padahal, sejatinya belum tentu seperti itu. Faktanya, saya juga belum pernah mendengar secara langsung adanya takaran penilaian terhadap diri saya: apakah saya dianggap sukses, gagal, atau sebagai individu yang hidup tanpa prestasi ataupun capaian apa pun. Saya tidak pernah sekalipun menemui penilaian seperti itu, baik dari keluarga dekat, tetangga, teman, maupun lainnya.

Prinsip saya satu: jangan sampai kepulangan saya ke kampung justru merepotkan orang lain, baik dari sisi finansial maupun hal-hal lainnya.

Belajar kearifan

Saat di kampung halaman, saya banyak belajar dari saudara-saudara terdekat tentang bagaimana membangun relasi yang sehat dengan anak-anak, menantu, serta cucu. Ini hal sederhana, tetapi tidak mudah karena tidak cukup dipelajari hanya dari teori yang ada dalam buku dan informasi yang tersaji di internet.

Membangun relasi yang sehat dengan keluarga terdekat membutuhkan kedewasaan dan kebijaksanaan nyata. Untuk mencapai level itu, seseorang harus belajar dari pengalaman hidup, jatuh bangun, hingga benar-benar bisa menemukan rumusan yang tepat. Repotnya, ketepatan rumusan itu tidak akan pernah berlaku secara universal, alias tidak bisa diterapkan untuk siapa pun dan kapan pun, serta tidak selalu cocok di semua tempat dan konteks. Setiap keluarga memiliki keunikan sendiri yang tentu sangat berbeda dari yang lain. Namun demikian, ada prinsip dan nilai umum yang patut diteladani dari praktik yang telah berhasil diterapkan oleh saudara terdekat di kampung halaman selama ini.

Hal kedua yang saya amati dalam kehidupan sehari-hari di kampung halaman adalah adanya banyak kesamaan antara kehidupan di kota dan di kampung. Dari sisi kebutuhan hidup, kehidupan di kota dan di kampung tidak banyak berbeda. Saat ini, ibu-ibu tidak harus pergi ke pasar untuk sekadar belanja kebutuhan makanan harian. Banyak sekali tukang sayur bersepeda motor dengan merek bagus yang berlalu-lalang keliling kampung. Warga bisa membeli kebutuhan harian apa pun dengan harga sangat kompetitif.

Kebutuhan lain yang dulu hanya bisa dibeli di kota, sekarang hampir semua minimarket berpendingin udara tersebar hingga jauh ke pelosok. Masjid dan musala dibangun di mana-mana dengan kualitas bangunan yang bagus dan berpendingin udara, dilengkapi fasilitas komputer serta proyektor atau layar LED. Lalu, apa bedanya dengan masjid dan musala yang ada di kota? Satu-satunya pembeda hanyalah bahasa yang digunakan oleh para jemaah. Itu pun hanya dalam obrolan, sementara dialog dalam forum pengajian tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Bagi saya, pulang kampung bukan sekadar perjalanan fisik untuk kembali ke tempat asal, melainkan juga perjalanan batin untuk memahami diri sendiri dengan lebih jernih. Di tengah kesederhanaan kampung halaman, saya justru menemukan makna hidup yang sering kali luput di tengah hiruk-pikuk kota: tentang menerima diri apa adanya, menjaga relasi dengan tulus, serta mensyukuri apa yang telah dimiliki tanpa harus membandingkan dengan orang lain.

Dari sana, saya belajar tentang sumber ketenangan hati, kedekatan dengan keluarga, dan kemampuan untuk hidup secukupnya tanpa membebani siapa pun.

Anda belajar apa dari kampung halaman?

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menantikan Tafsir At-Tanwir: Jalan Cerah Mengamalkan Ayat-Ayat Al-Qur’an Oleh: M. Saifudin, P....

Suara Muhammadiyah

22 December 2025

Wawasan

110 Tahun Suara Muhammadiyah Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troketon, Pesan Klaten ....

Suara Muhammadiyah

14 August 2025

Wawasan

Refleksi Milad 113: Belajar Menjadi Manusia Terbaik dari Muhammadiyah Oleh: Saiev Dzaky El Kemal, S....

Suara Muhammadiyah

20 November 2025

Wawasan

Cinta Guru Kita Oleh: Mohammad Fakhrudin Profesi guru sangat mulia. Melalui profesi itu, guru memp....

Suara Muhammadiyah

28 November 2025

Wawasan

Politik Uang Bom Waktu Kehancuran Bangsa Oleh: Agusliadi Massere Demokrasi sebagai salah satu sist....

Suara Muhammadiyah

8 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah