YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Ahmad Dahlan kembali menggelar program "Ramadhan di Kampus 1446 H." dengan menghadirkan Dr. Mhd. Lailan Arqam, M.Pd. Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Kabid Pendidikan al-Islam dan Kemuhammadiyahan Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan sebagai penceramah dalam Tarawih ke-9.
Dalam ceramahnya, Lailan menyoroti fenomena mega korupsi yang terjadi di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa pada akhir bulan Syakban lalu, masyarakat dikejutkan dengan berbagai kasus korupsi berskala besar yang mencapai angka fantastis. Berdasarkan berbagai sumber, kasus korupsi di Indonesia melibatkan jumlah dana yang sangat besar, bahkan dalam salah satu pemberitaan media nasional disebutkan bahwa dana yang dikorupsi bisa digunakan untuk membangun puluhan gedung pencakar langit sekelas Menara Kembar Petronas di Malaysia.
"Korupsi yang terjadi hari ini seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehingga kita menjadi kebal dan tidak lagi merasa cemas atau khawatir. Padahal dampaknya sangat besar bagi masyarakat, terutama dalam sektor pendidikan dan kesehatan," ujar Lailan.
Selain membahas korupsi, Lailan juga menyoroti pola konsumsi generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial urban. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Kompas pada Oktober 2024 di lima kota besar di Indonesia, ditemukan bahwa pengeluaran gaya hidup generasi muda mencapai 80% dari pendapatan mereka. Tren ini menunjukkan pola hidup konsumtif yang semakin meningkat dan menjadi tantangan besar bagi masyarakat.
Menurutnya, akar masalah korupsi dan gaya hidup berlebihan bukan hanya terletak pada materi, tetapi juga pada kondisi hati dan mentalitas manusia. "Dalam Islam, kita diajarkan konsep qanaah, yaitu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan oleh Allah, serta konsep zuhud yang mengajarkan kesederhanaan dalam hidup. Namun, kita sering kali terjebak dalam kerakusan dan kesombongan yang bisa menjatuhkan kita ke dalam kehancuran, seperti kisah Qarun dan Fir’aun dalam Al-Qur'an," jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa manusia memiliki potensi untuk menjadi makhluk yang paling mulia, tetapi juga bisa jatuh dalam kehinaan karena keserakahan. Dalam ceramahnya, ia mengutip ayat dalam surat At-Takatsur yang menegaskan bahwa manusia sering kali lalai karena sibuk dengan perlombaan dalam mengumpulkan harta hingga ajal menjemput mereka.
Lailan juga menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kecerdasan hati dan spiritual. Ia mencontohkan kisah Nabi Musa yang ketika diperintahkan untuk menghadapi Fir’aun, bukan meminta bala bantuan atau senjata, tetapi justru memohon kepada Allah agar hatinya dilapangkan dan diberi kemudahan dalam urusannya.
Sebagai orang tua, ia mengajak jamaah untuk menanamkan nilai-nilai qanaah dan zuhud kepada anak-anak sejak dini, agar mereka tidak terjebak dalam gaya hidup hedonis yang dapat menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam. "Kita perlu mendidik anak-anak kita tidak hanya secara akal, tetapi juga secara hati, agar mereka mampu memahami hakikat kehidupan dan tidak terjebak dalam keserakahan harta," tuturnya.
Di akhir ceramah, Lailan mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan kembali hakikat harta dalam kehidupan dan menggunakan rezeki dengan bijak. "Mari kita introspeksi diri, apakah harta yang kita miliki menjadikan kita lebih dekat kepada Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya? Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang senantiasa bersyukur dan menggunakan harta dengan penuh tanggung jawab."