Andai Semua Orang Menjadi Nabi
Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Mengapa harus ada Nabi jika Tuhan bisa berbicara langsung kepada setiap individu? Ini adalah gugatan yang sering muncul ketika seseorang merenungkan hakikat wahyu. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu meluruskan sebuah kesalahpahaman mendasar: pandangan bahwa Tuhan diam terhadap manusia biasa adalah sebuah kekeliruan.
Dalam perspektif Islam, Tuhan terus-menerus menjalin komunikasi dengan makhluk-Nya. Hanya saja, kita harus mampu membedakan antara 'Wahyu' sebagai hukum yang mengikat bagi umat manusia dengan 'Ilham' yang bersifat personal. Tuhan memang hadir dan berdialog dalam kehidupan kita sehari-hari, tetapi intensitas dialog tersebut tentu berbeda dengan mandat sakral yang diterima oleh para nabi sebagai pembawa risalah universal.
Menyelami Spektrum Komunikasi Ilahi: Dari Lebah hingga Para Nabi
Untuk membedah esensi dari pertanyaan ini secara tuntas, kita perlu menelusuri bagaimana Tuhan menyapa makhluk-Nya melalui berbagai tingkatan. Dalam khazanah Islam, komunikasi ini bukanlah satu jalur yang kaku, melainkan sebuah spektrum yang luas dan bertingkat-tingkat:
· Ilham (Inspirasi Ke dalam Jiwa):
Ini adalah bentuk komunikasi Tuhan yang paling universal, yang diberikan tidak hanya kepada para Nabi, tetapi juga menyentuh nurani setiap manusia bahkan makhluk ciptaan lainnya. Al-Quran memberikan penegasan estetis mengenai hal ini dalam ayat: $Fa-alhamaha\ fujooraha\ wa-taqwaha$. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah menanamkan potensi ilham ke dalam setiap jiwa manusia, sebuah kompas internal yang membisikkan perbedaan antara jalan keburukan dan jalan ketakwaan. Dengan Ilham, manusia memiliki kemampuan intuitif untuk memilih apa yang benar dan menjauhi apa yang salah.
· Wahyu (Wahyu dan Insting Ilahi):
Walaupun dalam terminologi syariat kata "Wahyu" identik dengan risalah suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad $SAW$, secara linguistik istilah ini memiliki cakupan yang lebih luas dalam Al-Quran. Wahi bisa berupa "insting ilahi" yang diletakkan Tuhan pada makhluk-Nya. Sebagai contoh, Al-Quran menyebutkan bahwa Tuhan memberikan wahi kepada lebah untuk membangun sarang-sarang yang presisi dan menghasilkan madu. Ini menunjukkan bahwa komunikasi Tuhan adalah energi penggerak di balik keteraturan alam semesta, yang bermanifestasi sebagai instruksi gaib bagi setiap makhluk untuk menjalankan peran penciptaannya.
· Kasyf (Penyingkapan Tirai Rahasia):
Di dalam tradisi tasawuf atau mistisisme Islam, terdapat konsep yang dikenal sebagai Kashf. Secara harfiah, ini berarti "terbukanya tirai". Ini adalah sebuah pengalaman spiritual di mana seorang hamba diberikan anugerah untuk melihat melampaui realitas fisik, seolah-olah tabir yang menutupi Lauh al-Mahfuz (Lauh Mahfuz) disingkapkan sedikit baginya. Melalui Kashf, rahasia-rahasia ketuhanan dan realitas tersembunyi yang tidak terjangkau oleh panca indera biasa menjadi terang benderang bagi mereka yang memiliki kejernihan hati.
· Mubasyar (Tegur Sapa Personal):
Istilah ini merujuk pada momen-momen intim di mana seorang manusia "disapa" oleh Sang Pencipta. Ini bisa hadir melalui mimpi yang benar atau getaran kuat dalam batin yang memberikan petunjuk tertentu. Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa meskipun Mubashar adalah bentuk komunikasi langsung dari Tuhan kepada individu, ia tetap berada pada ranah personal. Ia tidak membawa otoritas hukum atau mandat kenabian yang harus diikuti oleh orang lain, melainkan berfungsi sebagai penguat iman bagi individu tersebut.
Mengapa Tidak Memberikan Wahyu Kenabian kepada Semua Orang?
Wahyu kenabian bukanlah sekadar bisikan lembut atau ide yang melintas di pikiran; ia adalah komunikasi ilahi yang bersifat sangat khusus, sakral, dan memiliki bobot yang teramat luar biasa. Untuk memahami mengapa Tuhan tidak menghujani setiap individu dengan tingkat wahyu yang sama, kita perlu menyelami realitas di balik "beban" yang harus dipikul oleh seorang Nabi:
1. Beban Fisik dan Goncangan Mental yang Dahsyat
Menerima firman langsung dari Sang Pencipta adalah pengalaman yang melampaui kapasitas biologis manusia biasa. Al-Quran memberikan peringatan eksplisit: إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا (Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat, QS 73: 5). Keberatan ini bukan sekadar kiasan. Dalam catatan sejarah, kita melihat bagaimana fisik Nabi Muhammad $SAW$ bereaksi saat wahyu turun; tubuh beliau akan bersimbah keringat meski di tengah udara dingin, dan beratnya energi wahyu tersebut bahkan mampu membuat unta yang beliau tunggangi bersimpuh dan tertekan ke tanah hingga tak sanggup berdiri. Pertanyaannya: Apakah raga dan jaringan saraf kita memiliki ketangguhan fisik untuk menahan beban energi ilahi yang sedemikian masif tanpa hancur?
2. Ketangguhan Psikologis di Tengah Badai Stigma Sosial
Secara mental, menjadi penyambung lidah Tuhan adalah tugas yang sangat menguras kewarasan sosial. Karena para nabi membawa pesan yang mendobrak status quo dan kebiasaan lama, mereka sering kali dianggap asing atau aneh oleh masyarakatnya.
Banyak nabi yang dijuluki sebagai orang gila, tukang sihir, atau penyair yang kehilangan akal hanya karena pengalaman spiritual mereka tidak mampu dinalar oleh orang sezaman. Di sini kita harus jujur pada diri sendiri: Apakah kita memiliki keteguhan psikologis dan benteng mental yang cukup kuat untuk tetap berdiri tegak saat seluruh dunia mengejek, mengucilkan, dan meragukan kewarasan kita? Ketidaksiapan mental terhadap stigma sosial ini justru bisa menghancurkan seseorang yang tidak dipilih secara khusus oleh Tuhan.
3. Tanggung Jawab Moral Tanpa Celah: "Al-Quran yang Berjalan"
Ada sebuah kaidah universal: Bersama pengetahuan yang besar, datang pula tanggung jawab yang raksasa. Seorang nabi tidak hanya bertugas menerima pesan, tetapi harus menjadi perwujudan sempurna dari pesan tersebut.
Bayangkan beban harus menghafal, menjaga, dan mengamalkan setiap detail dari 6236 ayat Al-Quran tanpa sedikit pun kesalahan. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai "Al-Quran yang berjalan" karena setiap tarikan napas dan perilakunya mencerminkan wahyu. Jika kita menuntut wahyu langsung, apakah kita sudah siap untuk menjadi standar moral tanpa cacat bagi manusia lain? Di dalam hukum Tuhan, semakin besar petunjuk yang diberikan, semakin berat pula konsekuensi spiritual jika kita melanggarnya. Bagi seorang penerima wahyu langsung, kesalahan kecil sekalipun memiliki bobot pertanggungjawaban yang jauh lebih mengerikan dibandingkan manusia biasa.
4. Dilema Kehendak Bebas dan Potensi Kekacauan Global
Terakhir, ada masalah filosofis mengenai eksistensi manusia. Jika setiap orang menerima wahyu yang bersifat mutlak dan tak terbantahkan, maka kehendak bebas manusia akan musnah. Keimanan akan menjadi sesuatu yang mekanis dan robotik—seperti memercayai 2+2=4 yang tidak membutuhkan perjuangan batin. Esensi dunia sebagai tempat ujian bagi manusia untuk memilih kebenaran secara sukarela akan hilang.
Lebih jauh lagi, jika setiap orang memiliki wahyu pribadi yang mereka yakini sebagai kebenaran mutlak dari Tuhan namun saling bertentangan satu sama lain, maka dunia akan tenggelam dalam kekacauan klaim kebenaran yang tidak berujung. Sistem melalui perantara Nabi adalah cara Tuhan untuk menjaga keteraturan, memberikan satu standar hukum yang jelas, dan membiarkan manusia tetap memiliki ruang untuk bernalar, berjuang, dan memilih iman dengan kesadaran penuh.
Dilema Eksistensial dan Keindahan Sistem Ilahi: Mengapa Satu Risalah Lebih Baik daripada Miliaran Wahyu
Seandainya Tuhan memutuskan untuk menurunkan wahyu dengan intensitas yang sama kepada setiap individu sebagaimana yang diberikan kepada para Nabi, kita akan dihadapkan pada dua paradoks besar yang justru akan merusak tatanan kehidupan manusia itu sendiri:
1. Runtuhnya Esensi Kehendak Bebas dan Kedewasaan Ruhani
Jika kehadiran Tuhan dan hukum-hukum-Nya disuntikkan langsung ke dalam kesadaran setiap manusia dengan kejelasan yang mutlak, maka keimanan tidak lagi memiliki nilai sebagai sebuah perjuangan. Keyakinan akan menjadi sesuatu yang otomatis dan mekanis, serupa dengan pemahaman kita bahwa 2+2 = 4. Dalam kondisi ini, manusia akan kehilangan kehendak bebasnya karena tidak ada lagi ruang untuk memilih, meragu, atau mencari.
Padahal, hakikat dari kehidupan dunia adalah sebuah ujian. Tanpa adanya kabut misteri atau jarak antara hamba dan Pencipta, ruang untuk iman akan tertutup oleh kepastian yang bersifat memaksa. Kita tidak lagi menjadi hamba yang memilih untuk mencintai Tuhan secara sadar, melainkan menjadi "robot-robot spiritual" yang patuh karena ketiadaan pilihan lain.
2. Ancaman Anarki Kebenaran dan Konflik Universal
Mari kita bayangkan skenario kedua: demi menjaga kehendak bebas, Tuhan memberikan wahyu langsung kepada setiap orang, namun dengan tingkat kejelasan yang berbeda-beda. Apa yang akan terjadi? Kita akan mendapati miliaran manusia yang masing-masing mengklaim telah menerima pesan khusus dari langit.
Hal ini akan memicu kekacauan global yang tak terbayangkan. Setiap individu akan merasa memiliki otoritas hukum sendiri yang mereka yakini datang langsung dari Tuhan, sehingga mereka tidak merasa perlu tunduk pada konsensus sosial atau ajaran universal. Alih-alih persatuan, dunia akan terjebak dalam konflik ego spiritual yang tak berujung, di mana setiap orang menjadi nabi bagi dirinya sendiri tanpa ada standar kebenaran yang objektif.
Harmoni Antara Hukum Universal dan Bimbingan Personal
Maka, setelah menimbang segala risiko tersebut, kita dapat menyadari betapa indahnya sistem yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Tuhan memilih untuk menurunkan satu set ajaran yang terpadu dan universal melalui individu-individu terpilih—para Nabi—yang telah dipersiapkan lahir dan batin untuk memikul amanah tersebut. Melalui mereka, kita mendapatkan peta jalan yang jelas, seorang teladan moral yang nyata, dan bukti-bukti mukjizat yang dapat diuji oleh akal, seperti halnya mukjizat agung Al-Quran.
Namun, indahnya sistem ini adalah Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam kesendirian. Meski Wahyu kenabian telah tuntas, saluran komunikasi ilahi tetap terbuka melalui jalur-jalur yang lebih lembut dan personal, yang mencakup inspirasi internal, bisikan nurani yang menuntun pada kebaikan; mimpi dan penglihatan, berupa isyarat-isyarat gaib yang memberikan ketenangan hati; dan keselarasan spiritual, saat seorang hamba semakin dekat dengan-Nya, ia akan dianugerahi kemampuan untuk "merasakan" kehendak Tuhan dalam setiap langkah hidupnya.
Sistem ini berfungsi secara sempurna: Tuhan mengutus Nabi untuk memberikan kerangka kerja dan hukum yang kokoh, sementara Dia tetap memberikan inspirasi individual agar setiap jiwa dapat menemukan jalannya sendiri dalam lingkup kebenaran yang indah tersebut. Dengan cara ini, kehendak bebas kita tetap terjaga, keteraturan dunia tetap terpelihara, dan hubungan personal kita dengan Sang Khalik tetap terasa begitu dekat dan nyata.

