Yang Pergi Tak Kembali: Konsumen adalah Amanah
Oleh: Firdaus, SE, M.Si
Setiap konsumen yang datang sejatinya membawa amanah. Bukan hanya uang, tapi kepercayaan. Ketika amanah itu tidak dijaga dengan profesionalisme dan ketulusan, ia tidak akan menunggu kita berbenah. Ia akan pergi.
Dalam dunia usaha, kehilangan konsumen bukan sekadar kehilangan pendapatan, itu juga pertanda bahwa dakwah telah kehilangan sentuhan nyatanya.
Apa yang membuat konsumen pergi tanpa niat kembali? Karena amal dan layanan tidak lagi terasa. Ketika layanan mengecewakan dan nilai tak hadir, kepercayaan bertahun-tahun dapat runtuh seketika. Dalam dunia Amal usaha, ini bukan sekadar kegagalan layanan, tapi kegagalan ideologis.
Muhammadiyah telah menjadi organisasi dan gerakan dakwah terbesar. Namun amal usahanya - Sekolah, Perguruan tinggi, Rumah sakit, hingga unit bisnis, hidup di dunia yang keras dan kompetitif: dipilih atau ditinggalkan. Di ruang ini, mutu yang biasa-biasa saja tidak cukup. Layanan lambat dan kaku! Orang pergi. Produk tanpa nilai tambah! Orang pergi. Dan sering kali… mereka tidak pernah kembali.
Inilah peringatan keras dari realitas, bahwa nama besar dan sejarah panjang tidak otomatis menjaga kepercayaan.
KH. Ahmad Dahlan telah lama mengingatkan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Pesan ini bukan slogan moral, melainkan fondasi etos amal usaha. Ketika AUM tidak lagi hidup sebagai ruang pelayanan, pembelajaran, dan kebermanfaatan, ia akan ditinggalkan, bukan karena dimusuhi, tetapi karena amanah tidak lagi dirasakan.
Tulisan ini bukan sekadar pengingat. Ini adalah seruan tulus dan ideologis: berani menatap kenyataan, bertindak profesional, dan menghadirkan manfaat nyata setiap hari. Sekolah Muhammadiyah bukan sekadar tempat belajar; ia ruang pembentukan karakter. Perguruan tinggi Muhammadiyah bukan sekadar ijazah; ia ekosistem nilai dan integritas. Rumah sakit Muhammadiyah bukan sekadar tempat berobat; ia ruang pelayanan yang memanusiakan manusia. Unit bisnis Muhammadiyah bukan sekadar transaksi; ia relasi yang adil, bersih, menenangkan hati dan memberikan keberkahan.
AR Fachruddin menegaskan dengan jernih: “Muhammadiyah itu bukan besar karena namanya, tetapi karena amal nyatanya.” Amal nyata itulah yang hari ini diuji oleh pasar dan masyarakat. Bukan pada niat baik yang kita simpan, melainkan pada manfaat yang mereka rasakan. Ketika manfaat itu hadir dengan mutu, kejujuran, dan layanan profesionalisme, AUM sejatinya sedang berdakwah tanpa mimbar dan kepercayaan pun bertahan.
Bayangkan sejenak: seorang mahasiswa, pasien, atau konsumen meninggalkan AUM kita. Tidak karena harga, tidak karena reputasi, tapi karena merasakan ketidakpedulian. Sekali itu terjadi, membangunnya kembali bisa lebih sulit daripada menciptakan pasar baru.
Ibnu Khaldun mengingatkan: kejayaan institusi ditentukan oleh kemampuannya mengelola realitas, bukan niat baik semata. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: “Kebenaran yang tidak dikelola dengan baik akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir.” Pasar tidak memusuhi AUM, tapi pasar tidak berkewajiban menyelamatkannya.
Peter Drucker menegaskan: tujuan utama organisasi bukan mengejar keuntungan, tapi menciptakan dan mempertahankan pelanggan. Dalam konteks Muhammadiyah, pelanggan yang bertahan adalah mereka yang merasakan manfaat, nilai, dan keberkahan nyata.
Profesionalisme, layanan tulus, inovasi yang hidup, kemandirian ekonomi bukan pilihan tambahan. Itu syarat keberlangsungan dakwah.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh dan profesional).” Profesionalisme bukan nilai asing dalam Islam; ia bagian dari amanah.
Yang paling krusial:
Tulisan ini merupakan autokritik sekaligus refleksi penulis, pengelola lembaga bisnis Muhammadiyah Riau, sekaligus Ketua Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Riau.
