SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Islam mengajarkan umatnya untuk hidup yang cerah. "Kalau hidupnya tidak cerah, kira-kira keliru itu yang mengaji," sebut Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Berbeda halnya dengan yang hidupnya selalu berpokok pangkal pada sumber primer; Al-Qur'an dan As-Sunah, niscaya hidupnya akan tercerahkan.
"Menyadarkan agar umat Islam itu hidupnya cerah," tambahnya.
Demikian aksentuasi Agus saat Hari Ber-Muhammadiyah-'Aisyiyah Kota Semarang, Ahad (12/4) di Halaman Kantor Kecamatan Genuk, Dong Biru, Genuksari, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Fakta yang tidak bisa dinafikan, ada sebuah kritik yang menyebut, kalau umat Islam hidupnya tertinggal. Sementara, Islam secara esensinya sebagai ajaran yang luhur, tidak ada yang melebihi keluhuran ajaran Islam itu.
"Namun sayang, kecemerlangan ajaran Islam itu sekarang sedang tertutupi oleh perilaku orang Islam yang jauh dari nilai Islam," singkap Agus.
Ditemukan dalam lapangan kehidupan, di banyak tempat tinggal umat Islam yang kumuh. "Padahal, Islam mengajarkan kebersihan," bebernya.
Demikian juga, ada yang masih lontang lantung (menganggur). Tidak ada upaya bertungkus lumus mencari rezeki Allah sedemikian rupa.
"Padahal, Islam mengajarkan etos kerja," bebernya.
Lebih lanjut, diteropong dari sisi ekonomi, misalnya, Agus menyebut umat Islam belum mempunyai jangkar yang kuat untuk menopangnya.
Menukil pandangan M Jusuf Kalla, Wakil Presiden periode 2004-2009 & 2014-2019 bahwa dari 100 orang kaya atau pengusaha sukses di Indonesia, mayoritas adalah mereka adalah non-muslim, yang beragama Islam tidak lebih dari 10 orang.
Sebaliknya, jika dikumpulkan 100 orang miskin, maka yang 90 adalah orang muslim, dan selebihnya adalah dari yang lain. Di sini terjadi kesalahpahaman dalam memaknai agama Islam secara komprehensif.
"Umat Islam harus mengambil peran bagaimana umat Islam itu hidupnya semakin cerah, terus kita membawa kemajuan Indonesia," pungkasnya. (Cris)
